Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kebohongan Wisnu.


__ADS_3

"Itu benar, ibu kandung Naina tidak mungkin kabur jika tak terjadi sesuatu," ucap Winda juga menyetujui pendapat Naina.


Wisnu yang gugup mendengar pertanyaan Naina meremas kedua tangannya. Begitu juga dengan Dahlia yang nampak langsung berpikir untuk mencari jawaban yang tepat.


"Dalam setiap rumah tangga, pasti ada percekcokan, itu biasa terjadi bukan? Seharusnya kita menanggapi semua permasalahan rumah tangga dengan kepala yang dingin, tapi tidak dengan ibumu, dia ribut dengan ayahmu dan malah nekat kabur meninggalkannya dengan membawamu," jawab Dahlia sedikit terbata-bata.


Naina tetap melihat Wisnu.


"Apa yang kalian ributkan waktu itu? Pasti sesuatu yang besar hingga ibuku nekat pergi."


Wisnu lagi-lagi dibuat bingung dengan pertanyaan Naina.


"Hanya masalah rumah tangga biasa," lagi-lagi Dahlia yang menjawab.


"Aku ingin jawaban dari anda." Naina masih melihat Wisnu.


"Ibumu baru tahu jika sebenarnya aku sudah mempunyai istri, dia marah dan kabur membawamu," jawab Wisnu berbohong.


Semua orang kaget.


"Jadi aku adalah anak hasil perselingkuhan?" ucap Naina sambil tersenyum getir.


Wisnu diam tak menjawab.


"Dan bisa saja jika anda sebenarnya tidak mengharapkan kelahiranku."


"Tidak! Itu tidak benar." Wisnu menjawab dengan cepat.


"Kehadiranmu sangat kami nantikan," lanjut Wisnu.


Naina tak menghiraukan perkataan ayahnya, dia kembali menunduk dengan sedihnya, Aaric dengan setia mengusap lembut punggung istrinya.


"Itu benar. Naina asal kamu tahu semenjak kepergian ibumu dengan membawamu, ayahmu tak henti-hentinya mencari kalian, dia sangat menyayangi dan merindukanmu, karena itu jika menurutmu dia salah, tolong maafkanlah, dan mulai sekarang mari kita jalin hubungan yang baik selayaknya orang tua dan anak, kami sangat mengharapkan itu." Dahlia melihat Naina.


Naina tertegun, lain halnya Winda merasakan sesuatu keanehan lagi.


"Anda sungguh berhati mulia, mengetahui suami anda selingkuh hingga menghasilkan anak, alih-alih membencinya, anda malah justru membantunya untuk menemukan anak itu." Winda menatap Dahlia dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Itu..Itu karena aku menganggap anak suamiku seperti anakku sendiri," jawab Dahlia tergagap.


Winda semakin merasakan keanehan melihat Dahlia yang salah tingkah, selain itu dia merasa tidak ada ketulusan dalam semua kata-kata manis yang diucapkannya pada Naina.


"Kabar ini pasti mengagetkannya, berikan dia waktu untuk mencerna semuanya," ucap Nenek tiba-tiba.


"Tentu saja. Kami mengerti dengan perasaanmu sekarang. Tapi kami hanya bisa berharap agar secepatnya kamu menerima kami sebagai orang tuamu," jawab Dahlia.


Naina masih terdiam.


"Kalau begitu kami rasa sudah cukup, kami permisi pulang." Dahlia berdiri disusul oleh suaminya.


***

__ADS_1


"Reaksinya diluar dugaan, aku pikir tadi dia akan gembira bertemu dengan ayah kandungnya," ucap Dahlia melihat suaminya ketika mereka dalam perjalanan pulang.


"Mana mungkin dia senang, selama ini dia hidup menderita di Panti," jawab Wisnu pelan.


"Ini bukan salah kita, salah ibunya kenapa meninggalkannya di Panti Asuhan," jawab Dahlia.


Wisnu mendesah.


"Aku sangat merasa bersalah padanya, rasa-rasanya aku tidak sanggup mengatakan tentang donor sumsum tulang belakang itu."


Dahlia melirik suaminya.


"Apa maksudmu? Kita harus segera mengatakannya, terlebih aku takut jika nanti Naina keburu hamil, maka kalau itu terjadi dia tidak bisa menjadi pendonor untuk Tari."


"Kondisi Tari juga semakin parah, harus secepatnya mendapatkan transplantasi sumsum tulang belakang, karena itu kita harus segera meminta Naina agar segera menolong kakaknya" tambah Dahlia lagi.


"Aku tahu itu. Tapi bagaimana kalau Naina menolaknya?" tanya Wisnu.


Dahlia sedikit kaget.


"Aku akan memohon padanya, apapun akan aku lakukan asal dia mau menjadi pendonor Tari."


Wisnu menarik napas panjang.


***


"Ada apa? Sepertinya penting sekali." Ryan dan Sheryl duduk di kursi di depan Dani dan Istrinya.


"Apa ini?" Tanya Ryan sambil membuka lipatan kertas dan langsung membaca isinya bersama dengan Sheryl.


Keduanya mengerutkan kening tidak mengerti.


"Ini seperti hasil tes DNA?"


Dani dan Intan mengangguk.


"Kalian pasti akan terkejut mengetahui itu hasil tes DNA siapa."


"Siapa?" tanya Ryan penasaran.


"Itu hasil tes DNA antara Naina dan Pak Wisnu?"


"Naina dan Pak Wisnu? Maksudnya Naina istri Aaric? Tapi Pak Wisnu siapa?" tanya Sheryl.


"Benar. Naina istrinya Aaric dan Pak Wisnu disini adalah Pak Wisnu ayahnya Tari," jawab Intan terdengar sedih.


"Apa?!" tanya Ryan dan istrinya yang kaget secara bersamaan.


Dani dan Intan mengangguk bersamaan.


"Apa maksudnya ini?" Ryan kembali melihat isi kertas itu.

__ADS_1


"Kecocokan DNA 99.9%." Ryan melihat Dani tak percaya.


Lagi-lagi Dani dan istrinya menganggukan kepalanya.


"Darimana kamu mendapatkan ini?"


Dani kemudian menceritakan dengan detail asal muasal dia mengetahui fakta yang mengejutkan ini.


Bermula dari Aaric yang mendatanginya dua hari yang lalu dengan membawa beberapa helai rambut, dia meminta Dani untuk membantunya memeriksa apakah sampel rambut yang diuji pada hasil sebuah tes DNA sama dengan rambut yang dibawanya, untungnya dia memiliki beberapa dokter kenalan di lab tempat dilakukannya tes DNA itu yang mau membantunya, akhirnya dilakukan tes untuk mencocokkan kedua rambut itu dan hasilnya sungguh mengejutkan, rambut yang dijadikan sampel untuk diuji ternyata sama persis dengan rambut yang dibawa Aaric.


"Aku penasaran dan menanyakan siapa pemilik rambut itu, aku sungguh kaget ketika dengan lemas Aaric mengatakan jika itu rambut istrinya."


"Aku kaget karena aku tahu jika Wisnu yang dimaksud di kertas ini adalah Wisnu ayah Tari," lanjut Dani dengan pelan.


Ryan membuka matanya lebar, mendengar semua penjelasan sahabatnya.


"Kenapa bisa sangat kebetulan?" lirih Ryan sambil menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Itu berarti Naina dan Tari kakak beradik?" ucap Sherly dengan ternganga.


"Iya. Dan masalahnya disini adalah, sepertinya pendonor yang dimaksud Tari waktu itu adalah Naina," ucap Intan melihat Sheryl.


Sheryl langsung menutup mulut saking kagetnya, dan Ryan kembali membuka matanya lebar.


"Dan sepertinya Aaric belum tahu hal ini," lanjut Dani.


Ryan langsung memijat keningnya.


"Naina menjadi harapan satu-satunya untuk kesembuhan Tari," ucap Intan lagi dengan sedih.


"Bayangkan jika Aaric tahu, betapa dia akan sangat kaget dan bingung," ucap Ryan melihat Dani.


"Dia akan segera mengetahuinya, aku yakin jika Pak Wisnu pasti akan segera mengemukakan permintaannya agar Naina mau menjadi pendonor Tari."


***


"Kamu baik-baik saja?" tanya Aaric menatap Naina yang sedang melamun.


Naina yang kaget langsung tersenyum.


"Iya. Aku tidak apa-apa."


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Masih kaget, dan masih mencoba untuk menerimanya." Naina menundukkan kepalanya.


"Lihat aku." Aaric memegang dagu istrinya.


"Kenyataan apapun tidak akan mengubah apapun terutama perasaanku ini, dan apapun yang terjadi ada aku yang akan selalu setia di sampingmu."


"Terima kasih. Satu hal yang aku syukuri, kamu ada di sisiku saat aku mengetahui semuanya." Naina memeluk suaminya.

__ADS_1


__ADS_2