Rahim Titipan

Rahim Titipan
Pengorbanan Seorang Ayah.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Seperti biasanya, di hari Minggu Aaric akan menemani Naina berjalan santai di pagi hari, keduanya berolahraga ringan di taman dekat rumah mereka, di hari Minggu seperti ini biasanya taman itu akan ramai oleh orang-orang yang juga akan berolahraga.


Namun kali ini Nenek dan Ibu yang biasanya juga turut serta tidak ikut bersama mereka, Nenek mengeluhkan kakinya yang akhir-akhir ini terasa sedikit sakit karena mungkin penyakit asam uratnya kambuh, karena itu Winda dan Aaric menyuruh Nenek untuk beristirahat saja di rumah karena tidak ingin jika keadaannya nanti bertambah parah sehingga terpaksa harus menggunakan kursi roda lagi.


Aaric dengan setia memegang tangan istrinya sambil memutari taman, dengan satu tangannya memegang air minum mineral.


"Minum sayang," ucap Aaric mengasongkan air minum pada istrinya.


Naina menganggukan kepalanya.


"Kita duduk disana." Aaric menunjuk bangku yang kosong sambil menarik tangan istrinya agar mengikutinya.


Naina segera duduk di bangku itu, sementara Aaric membuka botol minum lalu memberikannya pada istrinya.


Selesai minum, Naina kembali memberikan botol itu pada suaminya, Aaric juga langsung meneguk isi botol itu.


"Lihat, anak itu lucu sekali," ucap Naina sambil menunjuk seorang anak berusia satu tahunan yang sedang belajar jalan bersama kedua orangtuanya.


Aaric langsung mengangguk sambil tersenyum melihat anak yang dimaksud istrinya.


Keduanya kemudian langsung membayangkan jika sebentar lagi merekapun akan merasakan kegembiraan yang sama seperti keluarga itu.


"Aku sudah tak sabar lagi," ucap Naina sambil mengelus perutnya melihat sang suami.


"Aku juga sayang," Aaric membungkukkan tubuhnya mencium perut istrinya.


"Oh iya. Besok jadwalku pergi ke dokter. Aku sudah tak sabar lagi karena besok kita akan tahu, anak kita ini perempuan atau laki-laki." Naina melihat suaminya dengan antusias.

__ADS_1


"Laki-laki atau perempuan sama saja sayang," jawab Aaric sambil tersenyum.


"Iya. Laki-laki atau perempuan sama saja, tapi entah mengapa aku merasa jika anak kita ini laki-laki." Naina kembali mengelus perutnya.


"Kalau aku justru merasa jika anak kita ini perempuan," ucap Aaric.


"Kenapa?" tanya Naina penasaran.


"Karena kamu yang semakin terlihat cantik saat hamil," jawab Aaric sambil mengelus wajah sang istri dan menatapnya penuh cinta.


Naina langsung memicingkan matanya.


"Gombal."


Keduanya lalu tertawa bersama.


Sementara itu tak jauh dari sana, ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya dari dalam mobil.


Wisnu melihat jam tangannya, dia baru saja pulang dari Rumah Sakit setelah menunggui Tari semalaman, sebelum kembali ke rumah, dia yang sebenarnya sangat merindukan Naina dan ingin melihatnya berinisiatif untuk mendatangi rumahnya, walaupun dia tahu jika ini masih pagi buta untuk bertamu ke rumah seseorang, namun rasa rindunya akan sang putri seakan sudah tak tertahankan lagi, karena itu dia nekad untuk mendatanginya walaupun dia tahu jika dirinya mungkin akan ditolak oleh Naina, karena sampai saat ini tak pernah ada kata yang keluar dari mulut putrinya jika dia telah dimaafkan dari segala kesalahannya.


Namun tak disangka, dia tak sengaja melihat Naina dan suaminya sedang berjalan santai, maka diam-diam dia mengikuti anak dan menantunya itu, walaupun tak bertatap muka dan mengobrol, namun sedikit banyaknya bisa mengurangi rasa rindunya pada sang putri. Melihat kondisinya yang baik-baik saja juga Aaric yang jelas terlihat sangat mencintai Naina juga membuat Wisnu sedikit tenang dan lega. Dia bersyukur Naina mendapatkan suami seperti Aaric yang sangat mencintainya, sehingga dia yakin jika Naina akan hidup bahagia.


Wisnu berinisiatif untuk memutar kendaraannya dan kembali pulang, namun tiba-tiba dia melihat sesuatu yang dirasanya aneh dan mencurigakan.


Wisnu melihat ada seorang pria yang memakai penutup wajah dan topi hitam terus memperhatikan Naina dan Aaric yang masih asyik bercengkrama dari kejauhan, dari tatapan matanya terlihat jelas jika pria itu memendam rasa kebencian yang teramat sangat pada keduanya.


Wisnu langsung merasakan sesuatu yang tidak beres, dia merasa jika pria itu akan melakukan sesuatu yang membahayakan putrinya, terlebih kemudian pria itu mendekati Naina semakin dekat dengan langkah penuh kemarahan.


Wisnu segera turun dari mobilnya, dengan setengah berlari dia menghampiri Naina dan Aaric yang belum menyadari bahaya yang sedang mengancam keduanya.

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba berhenti kira-kira sepuluh meteran di samping Naina, dia kemudian tampak merogoh saku jaket yang dia kenakan, lalu tampak jelas oleh Wisnu yang terus berlari jika pria menodongkan senjata api mengarah tepat pada Naina yang masih belum menyadari semuanya.


Orang-orang yang melihat sontak berteriak ketakutan, Aaric dan Naina yang kaget langsung berdiri dari duduknya, keduanya terperanjat menyadari ada seseorang yang sedang menodongkan pistol ke arah mereka.


Dorr...


Bersamaan dengan terdengarnya suara tembakan, Aaric memeluk Naina dan memutar badannya untuk melindungi istrinya, lalu kembali terdengar suara tembakan hingga dua kali di belakangnya.


Naina meremas baju suaminya berpikir jika Aaric telah tertembak di punggungnya beberapa kali, sambil gemetar Naina mengangkat kepalanya untuk melihat Aaric, namun ternyata dia salah, tepat di belakang suaminya dia malah melihat sosok sang ayah sudah terbaring di tanah dengan bersimbah darah, sementara si penembak masih berdiri sambil tetap menodongkan senjata ke arahnya.


"Ayah..." ucap Naina sambil gemetar.


Aaric segera membalikkan tubuhnya, kaget melihat Wisnu yang ternyata sudah melindunginya dari tembakan, dia lalu melihat si penembak yang sekarang berjalan mundur dengan perlahan menjauhinya sambil terus menodongkan senjata ke arahnya.


Naina yang tidak peduli jika keadaan masih belum aman karena si penembak masih ada disana dan menodongkan senjatanya, malah mendekati Wisnu lalu berjongkok untuk melihat keadaannya yang sudah tidak sadarkan lagi, dia berteriak memanggil sang ayah yang bersimbah darah terkena tiga kali tembakan.


Dorr...


Rupanya kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh di pria tadi, dia yang memang menjadikan Naina sebagai target utamanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


Si penembak menggunakan peluru terakhirnya untuk menembak Naina sambil terus berjalan mundur.


Naina tertembak tepat di bahunya, membuat Aaric kaget luar biasa dan segera menghambur melihat keadaan istrinya.


Sementara pria tadi berlari menuju mobilnya lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan segera, meskipun banyak orang disana tapi tak ada satupun yang berani untuk menangkapnya karena mereka semua takut pada senjata yang dia bawa.


***


"Sial. Kenapa tiba-tiba ada orang yang datang dan menyelamatkan wanita itu? Siapa dia sehingga mau mengorbankan nyawanya demi melindungi putrinya Nisa?" Thomas menggerutu sambil terus menyetir.

__ADS_1


"Tembakanku tadi juga meleset, seharusnya mengenai perut wanita itu agar putri dan calon cucunya Nisa mati. Biar tahu rasa si Nisa karena telah menghancurkan hidupku." Thomas terlihat sangat geram.


"Aku harus segera kabur karena pasti polisi akan segera mencariku," ucap Thomas lagi sambil menginjak pedal gas semakin kencang.


__ADS_2