Rahim Titipan

Rahim Titipan
Bertemu Tari.


__ADS_3

Aaric berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya sambil terus mencoba menghubungi Axel namun hasilnya tetap nihil, nomornya tidak bisa dihubungi, hingga semakin membuatnya kesal dan frustasi.


"Bagaimana? Apa temanmu itu masih belum bisa dihubungi?" tanya Winda ketika memasuki ruang kerja putranya.


Aaric menggelengkan kepalanya.


Winda mendesah.


"Kenapa temanmu melakukan itu?" tanya Winda melihat putranya.


"Aku tidak tahu," jawab Aaric sambil duduk di sofa kemudian memijat keningnya pelan.


Winda duduk di samping putranya.


"Wajar jika Naina marah, ibu mengerti bagaimana perasaannya."


Aaric mengangguk.


"Nenek sedang menemaninya," ucap Winda lagi.


"Bagaimana kalau Naina tetap tidak mempercayai aku lagi?"


Winda mengusap pundak putranya.


"Kamu harus terus berusaha meyakinkannya. Jangan biarkan dia terus menerus merasa sedih, tidak baik untuk kandungannya."


"Itu juga yang aku pikirkan Bu."


"Sekarang cobalah kamu luruskan kesalahpahaman ini dulu, terus hubungi temanmu itu," ucap Winda sambil berdiri.


"Iya Bu."


***


"Siapa pendonor itu ma?" tanya Tari yang berbaring dengan lemah.


"Dia hanya orang lain yang kebetulan sumsum tulang belakangnya sangat cocok denganmu, dan kamu tahu siapa yang telah berusaha keras menemukannya? Ini semua berkat Aaric sayang, dia sampai harus pergi jauh ke Jerman hanya agar bisa menemukan pendonor yang cocok untukmu," jawab Dahlia dengan senang.


"A..Aaric?" tanya Tari tak percaya.


"Iya Aaric. Dia masih mencintaimu!"


Tari langsung memalingkan wajahnya dari sang ibu, dia terlihat memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Sayang, kamu akan sembuh, ini tidak seperti kemarin, kali ini pendonor itu sudah bisa dipastikan sangat cocok untukmu, kamu tahu jika ini sebuah keajaiban, mama sangat senang sekali." Dahlia memegang tangan putrinya.


Tari terdiam sejenak mendengar perkataan ibunya.


"Tapi ma, apa mama yakin jika ini semua Aaric yang melakukannya?" tanya Tari tiba-tiba.


"Tentu saja sayang, dan mama yakin jika dia melakukan itu karena masih mencintaimu, karena itu kamu harus mempunyai semangat untuk sembuh karena ada Aaric yang menunggumu," ucap Dahlia dengan bersemangat.


"Tapi ma, dia sudah menikah."


"Memangnya kenapa kalau dia sudah menikah? Dia melakukan ini berarti dia masih mencintaimu, pernikahannya tidak akan menjadi penghalang untuk kalian bersatu kembali."


Tari menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak ma, aku kenal betul siapa Aaric, dia lelaki yang setia, dia tidak akan mengkhianati dan menyakiti istrinya,"


"Lagi pula jika benar pun dia yang mencarikan pendonor untukku, semuanya pasti tak lebih hanya karena rasa simpati atau kasihan saja, jika mama berpikiran kalau dia masih mencintaiku, aku tidak yakin," lanjut Tari.


"Tapi Nak, orang bisa berubah atau mungkin saja jika Aaric menikahi wanita yang menjadi istrinya sekarang hanya karena terpaksa saja tanpa ada rasa cinta, karena sebenarnya di hatinya masih ada kamu," ucap Dahlia meyakinkan putrinya.


"Tidak ma, aku pernah melihat keduanya bersama, dan dari tatapan matanya saja aku bisa tahu jika Aaric sangat mencintai istrinya, aku sangat yakin itu."


Dahlia terdiam sejenak.


Tari memalingkan wajahnya dari sang ibunda.


"Mama sangat ingin melihatmu bahagia, dan yang mama tahu jika kebahagiaanmu hanyalah Aaric, karena kamu sangat mencintainya," ucap Dahlia.


Tari melihat ibunya.


"Aku memang masih mencintainya ma, tapi aku tahu jika dia sudah tidak mencintaiku lagi, melihatnya hidup bahagia saja sudah cukup bagiku sekarang, aku tak ingin bermimpi bisa kembali bersamanya lagi, karena itu sangat tidak mungkin terjadi."


Dahlia terdiam.


***


Naina masih terlihat marah, dia terus mendiamkan suaminya walau segala upaya Aaric lakukan agar istrinya tak lagi marah padanya.


"Sayang," Aaric memanggil istrinya yang tidur membelakanginya.


Naina tak menggubris.


"Sayang, aku merindukanmu," ucap Aaric dengan pelan.

__ADS_1


Naina masih terdiam, berpura-pura tidur.


Aaric menatap punggung istrinya, ingin rasanya dia memeluk dan mendekap tubuh di hadapannya, itu, tubuh yang sudah hampir dua Minggu terpisah jauh darinya sehingga kini amat sangat dirindukannya.


Namun Aaric tak ingin memaksakan kehendaknya, dia tahu jika Naina masih marah akibat kesalahpahaman itu, ditambah hormon kehamilan yang membuatnya semakin sensitif membuat Aaric mengerti akan keadaan Naina yang susah untuk dibujuk, dia tahu jika dia harus ekstra sabar menghadapinya.


Sementara Naina yang memang belum tidur, masih memendam rasa kekesalan dan kemarahannya pada Aaric, dia masih sangat kecewa pada suaminya yang tidak jujur.


Naina tahu jika seharusnya dirinya senang karena kini kemungkinan Tari untuk sembuh sangatlah besar, dia seharusnya bersyukur berkat suaminya kakaknya itu bisa segera sembuh dari penyakitnya, namun dia tak bisa memungkiri jika apa yang telah dilakukan oleh Aaric pada kakaknya yang juga tiada lain adalah mantan pacarnya membuatnya sedikit cemburu, Naina jadi ragu akan perasaan suaminya apakah memang sudah benar-benar melupakan mantan pacarnya atau masih menyimpan perasaan padanya.


Keesokan harinya.


Aaric berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan sedikit tergesa-gesa, pikirannya yang kalut karena Naina yang tak kunjung memaafkan dan mempercayainya membuat dirinya nekat datang ke sana untuk meluruskannya, dia ingin berbicara kepada Tari tentang Axel yang sebenarnya adalah dalang dibalik ditemukannya pendonor itu.


Aaric juga berniat untuk memberitahu Tari jika sebenarnya Axel sudah lama jatuh cinta padanya, dia berharap setelah mengatakan semua itu bisa membuat Dahlia berpikir jika dirinya masih mencintai Tari.


Aaric sampai di depan ruangan Tari yang ternyata baru saja keluar dari ruang ICU karena keadaannya yang sudah membaik, dia mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


Aaric langsung melihat Tari yang tengah berbaring dimana Dahlia duduk di sampingnya, sejenak keduanya saling bertatapan.


Tari dibuat tak percaya melihat Aaric berdiri di depannya, lelaki yang sangat dicintainya itu terlihat semakin tampan dan berkarisma menurutnya, membuat jantung Tari berdebar kencang.


"Nak Aaric." Dahlia menyambutnya dengan sumringah, dia menghampiri Aaric dan menggiringnya mendekati Tari.


"Sayang, lihat Aaric kesini untuk melihatmu," ucap Dahlia pada putrinya.


Tari tak menjawab, dia terlihat tak nyaman karena Aaric terus melihat dirinya. Dia tak percaya diri dengan penampilannya saat ini, merasa sangat jelek karena kepalanya yang botak juga badannya yang hanya tinggal tulang saja.


"Aku kesini karena ada yang ingin aku katakan pada kalian," ucap Aaric melihat Tari dan ibunya bergantian.


"Kalau begitu duduklah dulu," ucap Dahlia sambil memaksa Aaric untuk duduk di kursi di samping ranjang Tari.


"Silahkan kalian mengobrol berdua, saya pergi dulu," ucap Dahlia sembari akan meninggalkan mereka berdua.


"Tapi.." Aaric mencoba menahan Dahlia untuk pergi, tapi sayangnya dia sudah menghilang di balik pintu.


Aaric kembali melihat Tari.


Tari memalingkan wajahnya dari Aaric.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Aaric melihat Tari ragu.


"Ya. Katakanlah," jawab Tari masih memalingkan wajahnya dari Aaric.

__ADS_1


__ADS_2