Rahim Titipan

Rahim Titipan
Balas Dendam.


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit, Aaric terpaksa harus pergi ke kantor karena banyak pekerjaan yang menunggunya, walaupun sebenarnya dia sangat ingin kembali ke rumah mengingat Naina masih marah padanya.


Aaric tampak tidak fokus bekerja, pikirannya melayang memikirkan Naina yang sudah beberapa kali coba dia hubungi namun tak diangkatnya.


Hingga kemudian ibunya menelepon, dia memberitahu jika mereka sedang di perjalanan menuju Panti, Naina mengajaknya pergi kesana dengan alasan merindukan ibunya.


"Berikan teleponnya pada Naina," ucap Aaric pada ibunya.


Winda segera memberikan ponselnya pada Naina.


Naina mengambilnya.


"Halo."


"Kenapa tidak minta izinku dulu akan pergi ke Panti?"


"Hanya sebentar saja, nanti sore aku pulang lagi."


"Tapi tetap saja kamu harus meneleponku dulu." Aaric terdengar kesal.


Naina terdiam.


"Kenapa teleponku tidak kamu jawab," tanya Aaric masih terdengar kesal.


"Ponselku ketinggalan di rumah."


Aaric semakin merasa kesal, namun dia mencoba untuk menahannya.


"Apa kamu masih marah padaku?"


Naina tak menjawab, dia hanya langsung melirik Winda yang duduk di sampingnya.


"Sudah dulu ya," ucap Naina.


"Tunggu dulu. Sayang!"


Naina menutup teleponnya kemudian memberikannya pada Winda.


Winda menerima ponsel itu sambil tersenyum pada menantunya.


"Apa kamu masih marah pada suamimu?" tanya Winda sambil tersenyum.


Naina terdiam.


"Ibu mengerti jika kamu masih marah, tapi apa tidak sebaiknya kamu mendengarkan penjelasannya dulu?"


"Aku hanya bingung Bu," ucap Naina pelan.


"Kenapa?"


"Aku takut jika mereka ternyata masih saling mencintai, hanya saja terhalang olehku," jawab Naina sambil menunduk.


Winda tersenyum, dia mengusap lembut pundak menantunya.


"Ibu rasa itu tidak benar, ibu bisa melihat jika Aaric justru sangat mencintaimu, perasaannya pada Tari tak lebih dari rasa simpati saja, ibu sangat yakin itu."

__ADS_1


Naina melihat Winda sejenak kemudian menundukkan kepalanya lagi.


"Percayalah pada ibu, ibu sangat tahu betul karakter anak ibu, Aaric tipe orang yang tegas dan tidak bisa dipaksa melakukan sesuatu diluar kemauannya, jika dia masih mencinta mantan pacarnya, pasti dia sudah kembali padanya, tak akan menghiraukan apapun atau siapapun."


"Kamu mengerti maksud ibu?"


Naina mengangguk pelan.


***


Dahlia berjalan mondar-mandir menunggu kepulangan suaminya, dia nampak sudah tidak sabar ingin segera memberi tahu tentang pertemuannya dengan Nisa siang tadi.


Tak lama terdengar suaminya membuka pintu kamar mereka, dia lalu menghambur mendekati Wisnu.


"Kamu tidak akan percaya dengan siapa aku tadi bertemu," ucap Dahlia cepat.


"Nisa," jawab Wisnu sambil berjalan mendekati sofa lalu menghempaskan tubuhnya disana.


"Kenapa kamu bisa tahu?"


Wisnu tak segera menjawab, dia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Dia meneleponku," jawab Wisnu kemudian membuka dasinya laku melemparkannya dengan kesal.


"Apa?" tanya Dahlia tak percaya sambil duduk di samping suaminya.


Wisnu memijat keningnya.


"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Dahlia lagi penasaran.


"Balas dendam?" tanya Dahlia.


Wisnu menganggukan kepalanya pelan.


Dahlia langsung menyandarkan tubuhnya.


"Memangnya apa yang akan dia lakukan?"


"Apa saja bisa dia lakukan sekarang," jawab Wisnu juga sambil menyandarkan tubuhnya kemudian menghela napas panjang.


Dahlia melihat suaminya.


"Apa maksudmu?"


"Kamu tahu City Group?" tanya Wisnu.


Dahlia mengangguk. Tentu saja dia tahu perusahaan itu, itu adalah perusahaan besar yang ternama, jika dibandingkan dengan perusahaan itu, maka perusahaan suaminya tidak ada apa-apanya.


"Nisa sekarang menjadi pemilik saham terbesar disana."


Dahlia tercengang. Ucapan Nisa tentang balas dendam kembali terngiang di telinganya.


***


Kedatangan Naina di Panti disambut bahagia oleh semua penghuni disana, mereka langsung bergantian memeluk dan menciuminya.

__ADS_1


Semua itu langsung membuat suasana hati Naina menjadi lebih baik, setelah hanya kesedihan yang terlihat dari raut wajahnya semenjak kemarin, kini Winda merasa senang melihat menantunya bisa tertawa lepas seperti saat ini.


Naina tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan semua penghuni Panti, terutama adik-adiknya yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan tertawa, hingga tak terasa hari sudah menjelang sore hari, dimana tiba saatnya dia harus kembali pulang.


"Kakak menginap saja?"


"Iya. Kami masih kangen sama kakak."


"Kakak jangan dulu pulang."


Rengekan adik-adiknya membuat Naina berat hati meninggalkan mereka semua tapi tentu saja dia tetap harus pulang, kembali ke kota bersama mertuanya.


"Kamu menginap saja, biar ibu yang memberitahu Aaric jika kamu menginap disini," ucap Winda tiba-tiba.


"Besok akan ibu suruh sopir untuk menjemputmu."


"Benarkah?" tanya Naina tak percaya.


"Iya. Lagi pula kamu pasti lelah jika harus bolak-balik ke kota dalam sehari."


Naina memeluk Winda, setelah itu mertuanya itu berpamitan pada semuanya dan segera kembali ke kota karena hari sudah sore.


Naina tentu saja merasa senang dia bisa kembali menghabiskan waktunya bersama semua orang di Panti.


Malam Hari.


Naina baru saja selesai bercengkrama santai dengan ibunya dan beberapa pengurus Panti, dia berjalan dengan menggandeng ibu Farida menuju ke kamar masing-masing.


"Tidurlah nak, jangan begadang tidak baik untuk kandunganmu," ucap Farida ketika mereka sampai di depan pintu kamar Naina.


Naina mengangguk, dia lalu memeluk ibunya dan memasuki kamar.


Naina berjalan mendekati tempat tidur, dia lalu melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Naina merebahkan tubuhnya, memeluk guling kesayangannya lalu memejamkan mata yang sudah menahan kantuk sedari tadi, tak lama dia tertidur dengan nyenyak.


Tengah malam.


Naina merasa jika dia tidak sedang memeluk bantal guling, melainkan tubuh seseorang yang juga sedang memeluk dirinya erat, perlahan dia membuka mata dan kaget melihat suaminya sudah tidur di sampingnya.


Naina mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan jika dirinya tidak sedang bermimpi. Dia lalu membelai wajah suaminya juga untuk memastikan jika dirinya tidak sedang berkhayal.


Naina tersenyum karena rupanya itu bukan mimpi atau khayalannya saja, orang yang kini sedang memeluknya erat memanglah suaminya.


Naina menatap wajah Aaric yang rupanya tertidur dengan lelap, dia terus membelai wajah suaminya dengan lembut sambil terus memandanginya.


Naina ingin meluapkan rasa rindu yang selama ini dia tahan.


"Aku merindukanmu," ucap Naina pelan.


Aaric tiba-tiba terbangun dan membuka matanya.


"Aku juga," jawabnya sambil mengecup bibir Naina yang berada tepat di hadapannya.


Naina tampak kaget sekaligus malu, dia langsung menarik tangannya dari wajah sang suami tapi Aaric menahannya, suaminya itu malah mendekapnya lebih erat.

__ADS_1


Naina membiarkannya karena jujur saja dia sangat merindukan pelukan hangat suaminya.


__ADS_2