
Naina dan Tari sama-sama tersenyum bahagia ketika mereka berdua keluar dari ruangan Wisnu, Tari langsung memeluk ibunya yang juga tak kalah senang melihat perkembangan kesehatan suaminya yang membaik.
Begitu juga dengan Naina, dia langsung memeluk sang ibunda, dengan tangis yang ditahan Naina mengatakan pada Nisa jika ayahnya akan sembuh.
Sepasang ibu dan anak itu sama-sama meluapkan rasa bahagia mereka, tak lupa Aaric dan Axel turut serta dalam kebahagiaan itu.
Tak lama Dokter yang baru saja memeriksa Wisnu keluar dari ruangan, sambil tersenyum lega Dokter mengatakan jika keadaan pasien kini sudah jauh lebih baik, dan segera akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Dahlia terlihat sangat bersyukur dan bahagia, wajahnya yang sedari tadi hanya dihiasi oleh kesedihan dan air mata kini berganti menjadi rasa suka cita setelah mengetahui jika kini keadaan suaminya akan kembali sehat seperti sediakala.
"Sebaiknya kita kembali ke kamarmu sekarang," ucap Aaric pada istrinya.
Nisa langsung mendukung ide menantunya.
"Suamimu benar. Kamu harus kembali beristirahat, luka di bahumu belum kering," ucap Nisa dengan sedikit khawatir.
"Tapi, aku masih ingin disini sampai ayah dipindahkan," jawab Naina pelan.
Tari yang mendengar semuanya langsung melihat Naina.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu," ucap Tari tiba-tiba pada Naina.
Naina langsung melihat Tari dengan kaget. Begitu juga dengan Dahlia dan Nisa, keduanya langsung melihat Tari dan Naina bergantian.
Tari tersenyum.
"Kamu juga harus memikirkan kesehatanmu, terlebih kamu sedang hamil sekarang, Ayah kita juga pasti tak ingin kamu dan calon cucunya kenapa-napa."
Naina tersenyum mendengar perkataan Tari yang terasa seperti mengkhawatirkan kesehatannya dan entah mengapa dia merasa senang diperhatikan seperti itu oleh Tari yang notabennya adalah kakak satu ayahnya.
"Aku akan menjaga ayah kita," tambah Tari masih sambil tersenyum ramah.
Naina menganggukan kepalanya pelan sambil membalas senyumannya.
"Terima kasih."
Tari menganggukan kepalanya, sesaat keduanya saling bertatapan dengan lekat, terpancar rasa kasih sayang diantara keduanya yang mulai tumbuh dengan sendirinya.
Naina lalu melihat Aaric dan ibunya.
"Aku akan kembali ke kamarku," ucap Naina pada keduanya.
Dahlia dibuat tertegun melihat sikap sang putri yang seakan begitu mudahnya menerima Naina sebagai adiknya, hingga dia merasa malu akan sikapnya selama ini yang justru tidak pernah menganggap Naina sama sekali dan bahkan tadi sempat menyalahkannya atas apa yang menimpa suaminya.
Dahlia mulai diliputi rasa penyesalan.
***
Naina sudah sampai di kamarnya, dia langsung digendong oleh suaminya untuk kembali berbaring di atas tempat tidur dengan hati-hati dibantu oleh Nisa.
Setelah itu, Aaric kemudian berpamitan pada istrinya untuk keluar sebentar, sementara Nisa tampak sibuk membereskan tempat tidur putrinya.
"Mama.."
"Ya sayang," jawab Nisa cepat.
Naina terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu pada ibunya.
Nisa langsung melihat putrinya, dia kemudian duduk di samping Naina.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nisa dengan lembut.
Naina menatap wajah sang ibu.
"Mama, apa mama akan marah jika mulai sekarang aku berhubungan baik dengan ayahku?"
Nisa langsung tersenyum mendengar pertanyaan Naina.
"Setelah apa yang sudah dilakukan oleh ayahmu, tentu saja mama tidak akan marah."
Naina terlihat senang mendengar jawaban ibunya.
"Ayahmu sudah mengorbankan dirinya demi keselamatanmu, itu saja sudah cukup untuk membuat mama yakin jika dia memang benar-benar menyayangimu, menganggapmu sebagai putrinya," lanjut Nisa.
"Karena itu, mulai sekarang, mari kita berhubungan baik dengannya, terlebih mama lihat tadi jika Tari juga bersikap baik padamu."
Naina menganggukan kepalanya.
"Mama benar, aku tidak menyangka jika Kak Tari akan bersikap baik padaku, aku pikir jika dia sama seperti ibunya."
Nisa membelai rambut Naina.
"Tidak sayang, Kakakmu itu terlihat memiliki hati yang baik juga lembut, mama yakin jika kalian nantinya akan saling menyayangi satu sama lain."
"Mengenai ibunya, apapun yang dikatakannya padamu tidak usah kamu ambil hati, kita harus memaklumi keadaannya, semoga saja lambat laun sikapnya yang buruk pada kita akan berubah."
Naina tersenyum lalu mengangguk mendengar perkataan ibunya.
"Semoga seperti itu Ma."
Tiba-tiba.
"Maafkan atas semua kesalahanku pada kalian," ucap Dahlia lagi sambil berjalan mendekati Naina lebih dekat.
Nisa berdiri di hadapan Dahlia yang kini mulai menitikkan air matanya.
"Mari kita mulai lembaran baru dan melupakan masa lalu," ucap Dahlia dengan bersungguh-sungguh.
Nisa menatap wajah Dahlia dengan lekat hingga akhirnya dia merasakan jika semua yang dikatakan olehnya itu tulus dari dalam hatinya, tidak ada sandiwara atau kepura-puraan.
"Tentu saja." Nisa menatap Dahlia.
Dahlia tampak tersenyum bahagia, dia langsung memeluk Nisa di depannya.
"Terima kasih dan maafkan segala kesalahanku." Dahlia menangis terharu.
Nisa menepuk-nepuk pundak Dahlia sambil tersenyum lega.
"Maafkan aku juga."
Dahlia melihat Naina, dia segera menghampirinya.
"Apa kamu juga memaafkanku?"
Naina langsung mengangguk.
"Tentu saja, Ibu."
Dahlia langsung memeluk Naina erat.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
Wisnu telah berada di kamar perawatan, di dalam ruangan sekelas VVIP itu dia tampak termenung sendiri karena tidak ada seorangpun yang menemaninya.
Wisnu mengerti, selain dirinya kedua putrinya juga kini tengah menjalani perawatan, dan istrinya juga harus membagi waktu untuk bergantian mengurus dirinya dan Tari.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Wisnu kaget karena dia melihat beberapa orang perawat mendorong ranjang pasien, dia dibuat lebih kaget lagi melihat Tari putrinya berada di atas ranjang itu yang kini diletakkan di samping ranjangnya.
Belum habis rasa kagetnya tiba-tiba datang satu ranjang lagi, kali ini Naina yang berada di atasnya, perawat meletakkan ranjang itu juga di samping ranjangnya.
Wisnu melirik ke kanan dan ke kiri bergantian, dimana dia lihat kedua putrinya tengah tersenyum padanya.
"Kenapa kalian kesini?" tanyanya heran.
"Kedua putrimu ingin dirawat satu kamar denganmu." Dahlia yang menjawab sambil tersenyum-senyum.
"Butuh perjuangan karena awalnya dokter tidak mengizinkan," ucap Aaric yang masuk sambil terengah-engah karena membawa tas besar berisi baju-baju dan perlengkapan istrinya.
"Tapi untung akhirnya mereka mengizinkannya," ucap Axel yang juga datang sambil terengah-engah membawa tas perlengkapan milik Tari.
Wisnu tersenyum, dia kembali melirik kedua putrinya bergantian.
Naina menyodorkan tangannya pada sang ayah, disusul dengan Tari yang melakukan hal yang sama.
Wisnu segera menyambut tangan kedua putrinya.
Kini mereka saling berpegangan tangan.
"Terima kasih." Wisnu terlihat menangis bahagia.
**********
Hai reader setia.
Akhirnya kita sampai akhir cerita ini, ada kemungkinan jika ini akan dilanjutkan tapi itu semua tergantung dari permintaan kalian semua yang selalu setia membaca semua karya-karyaku.
Tapi yang terpenting kenapa cerita ini dibuat end karena menurut saya inti semua permasalahan telah selesai, dan jika dipanjangkan lagi takutnya malah lari dari judul sehingga tidak sesuai lagi.
Terima kasih atas apresiasi kalian semua atas semua karya saya yang remahan ini, mohon maaf jika banyak salah dan kekurangannya.
Bagi yang sudah favorit, seperti biasanya jangan di unfav dulu karena nanti akan ada pemberitahuan untuk karya terbaru saya.
Sekali lagi terima kasih dan salam sayang saya untuk kalian semua.
😘😘😘😘😘😘
****
Berhubung banyak permintaan maka akan ada ekstra part, tapi belum tahu kapan akan rilis, jadi ditunggu ya 🙏🏻🙏🏻.
Terima kasih atas antusiasme kalian semua, sungguh membuat saya semakin semangat untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
Salam sayang.
Almaira
__ADS_1