Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kedatangan Damar.


__ADS_3

Naina membantu Aaric melepaskan pakaiannya yang basah kuyup sementara tubuh suaminya nampak menggigil dengan hebat.


"Kenapa bisa sampai basah kuyup seperti ini? Mana mobilmu?" tanya Naina heran.


"Ada pohon tumbang di belokan arah kesini, jadi aku meninggalkan mobilku disana dan berjalan hujan-hujanan kesini," jawab Aaric sambil terus menggigil kedinginan.


Naina mengelap sekujur badan suaminya yang basah memakai handuk, setelah itu dia menyuruh suaminya untuk menaiki tempat tidur lalu menyelimutinya dengan selimut yang tebal.


"Aku buat teh dan cari baju untukmu dulu." Naina akan pergi keluar kamar, namun dengan segera Aaric menarik tangan istrinya.


"Tidak usah, aku tidak butuh yang lainnya, kamu saja sudah cukup untuk membuatku hangat." Aaric menarik Naina agar baik ke atas tempat tidur, kemudian menariknya ke pelukannya, memeluknya erat agar bisa menghangatkannya.


"Tapi kamu akan masuk angin jika tidak segera minum teh hangat." bisik Naina merasakan tubuh suaminya yang sangat dingin.


"Tunggu sebentar saja, aku buatkan teh dulu," pinta Naina.


"Jangan, tunggu sebentar lagi saja, tubuhku sebentar lagi akan kembali hangat." Aaric memeluk Naina semakin erat.


Naina mengalah, dia membiarkan suaminya menghangatkan diri dengan suhu tubuhnya.


"Ada cara yang cepat agar aku tidak kedinginan lagi."


"Apa?"


"Buka bajumu," jawab Aaric menggoda istrinya


Naina terdiam, dia nampak menganggap perkataan suaminya sesuatu yang serius.


"Baiklah, tunggu sebentar." Naina nampak duduk dan bersiap melepaskan baju yang dikenakannya, membuat Aaric terbengong.


"Kamu serius akan membukanya?"


"Iya." jawab Naina polos.


"Katamu ini cara agar kamu tidak kedinginan lagi."


Aaric mengulum senyum.


"Kamu benar, aduh aku sangat kedinginan." Aaric yang sebenarnya sudah tidak terlalu kedinginan lagi berpura-pura menggigil.


Naina dengan segera membuka bajunya, lalu memeluk suaminya erat.


Mereka berpelukan beberapa saat, merasakan kedua kulit mereka saling menempel.


"Bagaimana? Apa masih dingin?" tanya Naina masih memeluk erat suaminya.


"Tidak terlalu lagi." jawab Aaric sambil menahan senyumnya.


"Syukurlah."


"Kamu tahu aku rela kedinginan setiap hari jika kamu menghangatkannya seperti ini."


Naina tersenyum.


"Aku buat teh dulu ya."


"Jangan!" Aaric mengeratkan pelukannya, kemudian secara perlahan bangkit dan menindih tubuh istrinya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Naina malu.


"Ada satu cara lagi agar aku benar-benar tidak kedinginan lagi."


"Apa?" tanya Naina dengan wajahnya yang merah menahan malu.

__ADS_1


"Kamu harus membuatku berkeringat." Aaric mengecup bibir istrinya.


***


Pagi hari.


"Apa kamu mau memakai baju ini? Ini baju aku pinjam dari Mang Udin penjaga Panti." Naina menunjukkan satu buah celana training dan kaos pada suaminya.


"Mang Udin? Apa dia yang semalam membuka pintu gerbang untukku?" tanya Aaric sambil mengambil baju itu dari tangan Naina.


"Iya, barusan dia mengatakannya padaku."


Aaric yang memakai handuk karena baru saja mandi segera memakai baju itu.


"Kalau sudah selesai, pergilah ke ruang makan, aku tunggu disana, kita sarapan bersama."


Aaric mengangguk.


***


Kedatangan Aaric disambut gembira oleh beberapa orang anak yang dulu pernah bermain bola dengannya, mereka berebut memeluknya bahkan ada beberapa anak kecil yang minta di gendong olehnya.


Ibu Farida dan Naina tersenyum melihat Aaric yang menjadi rebutan, mereka juga merasa terkesan akan sikap Aaric yang ramah dan mau menuruti semua keinginan anak-anak untuk di gendong olehnya.


"Anak-anak sudah, om Aaric mau sarapan dulu, kalian pergi main dulu ya." Farida membubarkan anak-anak yang mengerumuni Aaric.


Semua anak-anak itu langsung menuruti perkataan ibu Farida, mereka pergi keluar sementara Aaric diajak duduk di meja makan oleh ibu mertuanya.


"Ibu belum sempat meminta maaf langsung padamu mengenai kejadian tempo hari."


Aaric tersenyum, " Tidak apa-apa Bu, saya mengerti kenapa ibu melakukannya."


"Syukurlah kalau kamu mengerti nak, semuanya karena ibu tidak ingin melihat Naina disakiti."


"Aku akan membahagiakannya Bu. Aku berjanji," ucap Aaric dengan sungguh-sungguh.


Tak lama Naina datang dengan membawa nampan berisi makanan untuk suaminya.


"Kalian makanlah dulu, ibu tinggal dulu."


Ibu Farida pergi meninggalkan Naina dan Aaric.


"Kamu sudah makan?" tanya Aaric heran melihat Naina hanya membawa satu porsi makanan.


"Belum, Aku belum lapar, kamu makanlah duluan. Aku nanti saja."


"Tidak. kita makan bersama. Aku akan menyuapimu."


Akhirnya dengan terpaksa Naina makan karena Aaric yang menyuapinya dengan paksa, mereka makan sepiring berdua sambil sesekali di iringi oleh senyuman malu-malu dan tatapan mesra keduanya.


Ibu Farida yang melihat dari kejauhan nampak sangat merasa bahagia, dia merasa lega karena bisa melihat sendiri betapa keduanya saling mencintai.


***


"Kapan kita pulang? Kata mang Udin jalan tempat pohon yang tumbang tadi malam sudah bisa di lewati," tanya Naina menghampiri suaminya yang sedang bermain dengan anak-anak di lapangan.


Aaric melihat jam tangannya.


"Sebentar lagi sayang, aku masih merindukan mereka."


Naina mengangguk sambil tersenyum melihat suaminya yang terlihat asyik bermain-main dengan beberapa orang anak.


"Naina." Aaric dan Naina terkejut mendengar suara seorang lelaki yang memanggil.

__ADS_1


Keduanya langsung melihat arah suara dimana ada seorang pria berpakaian rapi menghampiri keduanya.


Damar mendekati keduanya semakin dekat sambil menyeringai lebar.


"Kak Damar," ucap Naina reflek, wajahnya tampak berbinar melihat Damar di depannya.


Aaric langsung menunjukkan wajah tidak suka, mendengar Naina memangil dan melihat Damar dengan senang.


"Aku tidak menyangka kalian ada disini." Damar menghampiri Naina.


"Apa kabar adik kecilku." tanya Damar menatap wajah Naina.


Aaric memperhatikan tingkah laku Damar dengan seksama, kalau-kalau dia berani menyentuh istrinya karena dia bersiap untuk menahannya.


"Baik Kak," jawab Naina dengan senang.


"Akhirnya kakak kembali juga ke Panti, aku kira kakak sudah lupa pada kami semua," ucap Naina lagi.


"Kakakmu itu tidak pernah lupa pada kita nak, ibu sudah sering cerita padamu jika kakakmu masih sering menghubungi ibu," kata Farida yang tiba-tiba datang.


"Maafkan kakak, bukannya kakak lupa tapi beberapa tahun terakhir kakak tinggal di luar negeri."


Naina menganggukan kepalanya.


"Aku mengerti kak." jawab Naina.


Damar melihat ke arah Aaric yang sedari tadi terdiam.


"Lagi-lagi kita bertemu lagi setelah tadi malam kita rapat bersama."


Aaric tersenyum kecil.


"Iya," jawabnya singkat.


"Kalian rapat bersama? Oh ya? Kenapa kamu tidak cerita?" tanya Naina melihat suaminya.


"Aku lupa," jawab Aaric ketus.


"Sebaiknya kita mengobrol di dalam saja" ajak Farida sambil berjalan mengajak semuanya untuk mengikutinya.


Damar berjalan di belakang Farida, Naina dan Aaric menyusul di belakangnya.


Aaric tiba-tiba menggenggam tangan istrinya.


"Ada apa?" tanya Naina heran.


"Tidak ada." Aaric terdengar kesal.


"Lepaskan. Malu!"


"Tidak!" Aaric mengeratkan genggaman tangannya.


Naina menyerah, membiarkan Aaric terus memegang tangannya walaupun sebenarnya dia merasa malu karena ibu Farida dan Damar yang tersenyum melihatnya.


Sedangkan Aaric nampak tak peduli, dia terus memegang tangan istrinya dengan erat, ingin menunjukkan pada Damar jika sekarang Naina adalah istrinya, bukan lagi adik kecilnya yang bisa digendong dan dipeluk seenaknya.


"Ibu. Aku punya rencana ingin memperbesar Panti ini," ucap Damar di tengah obrolan mereka.


Aaric nampak kaget.


"Itu tidak perlu, aku sudah merencanakan itu duluan, bahkan aku sudah menyewa arsitek untuk desainnya."


Naina terlihat kaget, begitu juga dengan Damar dan ibu Farida.

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa kamu tidak pernah cerita," tanya Naina


"Karena itu suprise..Iya, itu suprise untuk kamu dan ibu." Aaric nampak gelagapan karena sebenarnya dia berbohong, dia hanya tidak ingin Naina melihat Damar nampak lebih keren dibandingkan dirinya.


__ADS_2