
Aaric mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh di tengah padatnya lalu lintas siang itu, dia yang ingin segera sampai ke rumahnya nampak gusar karena kondisi jalanan yang tersendat, ibunya yang sudah menelepon berkali-kali juga terlihat sudah tak sabar menunggu kedatangannya.
"Ini sudah hampir setengah jam, mereka sudah terlalu lama menunggu, apa sebaiknya ibu menemui mereka dulu?"
"Jangan! Tunggu saja aku."
"Tapi ini sudah lama, nanti mereka marah dan pulang."
"Biarkan saja mereka pulang, itu lebih baik."
"Tapi Nak. Ada apa sebenarnya?"
"Nanti ibu akan tahu sendiri! Sekarang tunggu saja aku sebentar lagi, jangan menemui mereka duluan, apalagi Naina."
"Baiklah Nak." Winda menutup teleponnya.
Aaric kembali fokus menyetir, mencari jalan keluar agar bisa terlepas dari laju kendaraan yang tersendat, akhirnya dia memutuskan untuk melewati jalan tikus, walaupun harus berputar-putar setidaknya jalan yang dilalui lancar dan tidak macet.
Sementara itu.
Dahlia nampak gelisah, berkali-kali melihat jam tangannya.
"Kenapa lama sekali?" Dahlia melihat suaminya.
"Kita tunggu saja," jawab Wisnu singkat.
"Tapi katanya tadi Naina ada di rumah, kenapa dia tak segera menemui kita?" tanya Dahlia heran.
"Pasti karena suaminya yang melarangnya."
"Melarang? Memangnya kenapa?"
Wisnu melihat istrinya.
"Aaric tak ingin kita memberitahu Naina, dia pikir Naina hanya akan terluka jika mengetahui yang sebenarnya."
Dahlia tertegun.
"Kita hanya akan menyampaikan jika kamu adalah ayahnya, cerita di balik kelahirannya tentu saja kita rahasiakan," ucap Dahlia berbisik.
Wisnu memalingkan wajah dari istrinya.
"Tapi lambat laun dia akan tahu, apalagi setelah kita memintanya mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Tari."
"Tidak akan! Katakan saja jika itu semua hanya kebetulan. Kebetulan Tari kakaknya sakit dan hanya dia yang bisa menyembuhkannya."
"Dan tentang kelahirannya, katakan saja jika kamu selingkuh dengan ibunya di belakangku," lanjut Dahlia dengan berbisik.
Wisnu menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian memijat keningnya dengan kuat.
Tak berapa lama, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, tak berselang muncullah Aaric memasuki ruang tamu dengan wajahnya yang serius.
__ADS_1
Aaric menghampiri keduanya.
Wisnu dan Dahlia berdiri menyambut kedatangan Aaric dan secara bergantian menyalaminya.
Aaric mempersilahkan keduanya untuk duduk kembali.
"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Aaric sambil duduk di sofa.
"Tidak apa-apa," jawab Dahlia sambil tersenyum.
Tak lama Winda pun datang menghampiri, dia langsung menyalami Wisnu dan Dahlia, kemudian duduk di sofa di samping putranya.
"Maksud kedatangan kami kesini ingin bertemu dengan Naina," ucap Dahlia tanpa basa-basi.
Winda langsung melihat Aaric, seolah meminta izin untuk memanggil istrinya.
Aaric memberi isyarat jika ibunya boleh memanggil Naina ke hadapan mereka.
"Sebentar, saya panggil dulu." Winda berdiri dan pergi meninggalkan ruang tamu.
Wisnu yang sedari tadi terdiam, tampak begitu tegang, ditambah dia merasa tak nyaman akan Aaric yang sesekali menatapnya tajam.
"Aku harap kalian sudah memikirkannya dengan matang, karena apa yang akan kalian sampaikan pada istri saya, merupakan sesuatu yang besar baginya." Aaric melihat Wisnu dan Dahlia bergantian.
"Tentu saja. Bagaimanapun juga istrimu harus tahu yang sebenarnya." Dahlia menjawab sambil tersenyum.
Tak lama Naina muncul sambil mendorong kursi roda Nenek, setelah semuanya saling bersalaman, Naina duduk di samping suaminya.
"Kalian membuat kami penasaran, ada keperluan apa ingin bertemu dengan Naina menantu kami." Nenek membuka percakapan.
"Maaf kalau sebelumnya kami mengganggu waktu kalian, tapi kedatangan kami kesini karena ada sesuatu yang ingin sampaikan pada Naina."
"Oh ya? Apa itu?" tanya Winda.
Dahlia kembali melihat suaminya, seolah meminta agar dia saja yang mengatakannya.
Wisnu melihat Naina.
"Saya ingin memberitahu Naina jika saya adalah ayah kandungnya," ucap Wisnu sedikit terbata.
Semuanya terperanjat kaget, kecuali Aaric yang langsung melihat istrinya.
Naina yang paling kaget, langsung melihat wajah Wisnu, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Ayah kandungnya?" tanya Nenek dengan heran.
"Iya, suami saya adalah ayah kandung dari Naina, kami sudah memastikannya bahkan melakukan tes DNA, dan hasilnya cocok, mereka berdua adalah anak dan ayah kandung," ucap Dahlia sambil mengambil sesuatu di dalam tasnya, mengeluarkan secarik kertas dan langsung memberikannya pada Winda.
Winda membaca isi kertas itu dengan segera, sedangkan Naina yang semakin terlihat bingung melihat suaminya.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Naina pada Aaric.
__ADS_1
Aaric memegang tangan istrinya.
"Sayang. Apa yang mereka katakan benar, Pak Wisnu adalah ayah kandungmu," jawab Aaric dengan lembut dan hati-hati.
"Apa?" Naina mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya Pak Wisnu sudah memberitahuku lebih dulu dua hari yang lalu dengan menunjukkan hasil tes DNA itu, aku yang awalnya ragu langsung melakukan tes ulang, memastikan jika rambut yang diuji adalah benar rambutmu, dengan dibantu oleh dokter Dani, dan hasilnya baru saja keluar, kecocokan DNA kalian hampir seratus persen."
Naina langsung menundukkan kepalanya, tak lama nampak air mata menetes ke pangkuannya, Aaric memegang tangan istrinya semakin erat, hatinya seakan teriris melihat Naina yang menangis, begitu juga dengan Winda yang langsung menghampiri Naina, dan duduk di sebelahnya, dia memeluk menantu kesayangan dengan erat.
Wisnu menundukkan kepala seakan tidak sanggup melihat Naina yang menangis.
"Jika anda adalah ayahku, lalu dimana ibuku?" tanya Naina tiba-tiba, melepaskan diri dari pelukan mertuanya lalu melihat Wisnu sambil menyeka air matanya.
Wisnu langsung mengangkat kepalanya, melihat Dahlia istrinya dan kembali menunduk. Tampak sangat bingung harus menjawab pertanyaan Naina.
Dahlia yang mengetahui hal itu, mencoba membantu suaminya.
"Sebelumnya kamu harus tahu jika kami sudah mencarimu selama hampir sembilan belas tahun ini, kami sudah melakukan segala cara agar bisa menemukanmu," ucap Dahlia.
Naina melihat Dahlia.
"Dimana ibuku sekarang?" tanya Naina lagi.
"Ibumu? Kami tidak tahu dia ada dimana," jawab Dahlia pelan.
"Kami juga kaget mengetahui jika selama ini kamu tinggal di Panti Asuhan, sepertinya ibumu meninggalkanmu disana. Seharusnya jika dia tidak mau mengurusmu, dia bisa memberikanmu pada kami," lanjut Dahlia lagi.
Mendengar hal itu Naina malah semakin sedih dan kembali meneteskan air matanya.
"Maaf, ada yang tidak saya mengerti disini," Winda melihat Dahlia.
"Memberikannya pada kalian? Apa maksudnya Naina lahir dari istri kedua anda?" tanya Winda lagi melihat Wisnu.
Wisnu langsung salah tingkah mendengar pertanyaan Winda.
"Itu benar," jawab Dahlia cepat.
Naina semakin dibuat kaget, dia melihat Wisnu dengan tidak percaya, air mata semakin mengalir dengan derasnya. Membuat Aaric tak tahan lagi melihatnya.
"Naina memang lahir dari istri kedua suami saya." Dahlia kembali menegaskan.
"Sudah cukup!" ucap Aaric dengan lantang, membuat Wisnu dan Dahlia kaget.
"Saya rasa sudah cukup, jangan membuat istri saya semakin bingung lagi, yang terpenting sekarang Naina sudah mengetahui jika anda adalah ayah kandungnya, lain dari itu saya rasa kalian tidak usah mengatakannya."
"Tidak apa-apa, aku ingin tahu semuanya dengan jelas." Naina memegang tangan suaminya.
"Tapi sayang.."
"Tidak apa-apa. Aku ingin tahu kejadian yang sebenarnya." Naina berusaha untuk tersenyum pada Aaric.
__ADS_1
Naina kembali melihat Wisnu.
"Kenapa sampai ibuku membawaku kabur dari anda, kalau tidak terjadi sesuatu, ibuku tidak mungkin pergi kan?"