Rahim Titipan

Rahim Titipan
Persekongkolan.


__ADS_3

Nisa berjalan memasuki rumahnya setelah seharian ini dia menemani Naina senam hamil yang dilanjutkan dengan berjalan-jalan sambil berbelanja di mall.


Nisa kaget ketika pembantunya menghampirinya dan mengatakan jika ada seseorang yang sudah menunggunya di ruang kerja almarhum suaminya sedari tadi.


Seolah tahu siapa orang yang dimaksud, Nisa segera berjalan menuju ruangan itu untuk menemuinya.


Kedatangannya disambut oleh senyuman sinis anak tirinya.


"Sepertinya anda sibuk sekali akhir-akhir ini?" tanya Samuel dengan sinis.


Nisa tersenyum sambil duduk di sofa tepat di hadapan Sam.


"Ada apa kesini?" tanya Nisa sambil melipat tangan di depan dadanya.


Lagi-lagi Sam tersenyum sinis.


"Apa aku tidak boleh mengunjungi anda? Aku tidak ingin orang lain menganggapku anak durhaka karena tidak lagi memperhatikan anda ibu tiriku mentang-mentang ayahku sudah tiada."


Nisa tertawa kecil.


"Rupanya kamu menjadi anak baik sekarang. Apa karena ayahmu sudah meninggal?"


Sam tertawa.


"Aku memang anak baik dari dulu, Anda saja yang tidak menyukaiku."


Nisa tersenyum sinis.


"Bukankah kamu dan adikmu yang tidak pernah menyukaiku?"


"Anda salah. Kami sangat menyukai anda, biar bagaimanapun anda adalah istri dari ayah kami dan itu berarti anda adalah ibu kami, bukan begitu?"


"Kamu benar. Aku memang istri mendiang ayah kalian, tapi bukan berarti aku ibu kalian," Nisa berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati meja kerja suaminya lalu duduk disana.


Sam tersenyum sinis.


"Katakan ada apa kemari?" tanya Nisa merasa sudah cukup untuk berbasa-basi.


"Baiklah. Aku akan langsung mengatakan maksud kedatanganku kemari."


"Katakan!"


"Berikan saham itu padaku, biarkan aku yang mengurusnya. Anda tak perlu takut karena anda tidak akan kehilangan apapun, rumah besar ini akan tetap menjadi milik anda, begitu juga dengan laba perusahaan akan tetap mengalir ke rekening anda."


Nisa tersenyum.


"Maaf. Aku tak berniat melakukannya."


Sam mengepalkan tangannya.


"Tapi anda tak akan bisa mengurus perusahaan besar itu, harus seseorang yang berpengalaman sepertiku yang mengurusnya," ucap Sam masih berupaya merayu Nisa.


Nisa menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Kamu bahkan lebih tak layak dibandingkan aku. Aku lebih baik mempercayakannya pada orang lain yang kompeten."


"Kenapa anda melakukan itu?" tanya Sam mulai emosi.

__ADS_1


"Terserah padaku, aku bisa melakukan apapun sesuai keinginanku."


"Apa karena anda berniat memberikannya pada putri Anda?"


Nisa sedikit tersentak kaget. Lalu kemudian dia berusaha untuk kembali tenang.


"Aku sudah tahu semuanya. Putri kandung Anda. Dia sangat cantik seperti anda." Sam terkekeh.


"Baguslah kalau kamu sudah tahu, aku jadi tidak perlu untuk menyembunyikannya lagi."


"Anda benar-benar manusia licik!!" Sam melihat Nisa dengan marah.


Nisa tersenyum.


"Terserah apa katamu. Sekarang pergilah dari rumahku sekarang juga."


"Ini rumah ayahku!"


Nisa berdiri.


"Ayahmu sudah memberikannya padaku," jawab Nisa santai.


Sam semakin terlihat kesal.


"Anda tidak akan tahu apa yang bisa aku lakukan!"


"Lakukan apa saja maumu."


"Benarkah? Kalau begitu aku bermaksud untuk berkenalan dengan adik tiriku," ucap Sam sambil tersenyum.


Nisa tersenyum.


Sam terdiam.


"Jangan macam-macam dengan putriku karena suaminya tidak akan tinggal diam. Kamu bukan hanya akan berurusan denganku tapi juga dengan Aaric Widjaja."


***


"Wanita licik itu mengatakan itu?" tanya Leo, adik Sam dengan tidak percaya.


Sam mengangguk pelan.


"Kurang ajar!!" Leo memukul meja di depannya dengan marah.


"Dia semakin menjadi tinggi hati sekarang," ucap Sam dengan geram.


"Kalian tenang dulu, jangan terbawa emosi, kita harus menghadapi wanita itu dengan kepala dingin." Thomas berusaha menenangkan dua keponakannya yang sedang marah.


"Kita harus memikirkan cara terbaik untuk menghadapi wanita licik itu," ucap Thomas lagi.


"Lakukan apapun, aku sudah tidak tahan lagi, rasa-rasanya aku ingin menghabisinya dengan tanganku sendiri." Leo terlihat sangat marah.


"Jangan! Kamu jangan terbawa emosi seperti itu. Paman tidak akan membiarkan kalian keponakan tersayang paman masuk penjara hanya karena wanita itu."


"Tapi aku sudah sangat membencinya. Gara-gara wanita itu aku berpisah dengan istriku." Leo kembali mengingat istrinya yang telah pergi karena hasutan Nisa.


Sam yang sedari tadi terdiam berdiri lalu berjalan menghampiri Leo.

__ADS_1


"Tenang saja, wanita itu akan mendapatkan balasan atas semua perbuatannya pada kita. Pertama dia akan mendapatkan balasan karena telah mengambil kasih sayang ayah kita sendiri sehingga hingga akhir hayatnya ayah kita sangat membenci kita. Kedua dia juga akan merasa menyesal karena telah membuatmu berpisah dengan istrimu, dan ketiga dia juga akan menyesal karena telah menghasut ayah kita sebelum kematiannya sehingga dia menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan."


"Apa kakak akan melakukan sesuatu padanya?"


Sam menganggukan kepalanya.


"Apapun yang akan kalian lakukan paman akan mendukung, kalian harus mendapatkan hak kalian kembali, mengambil alih saham itu menjadi atas nama kalian."


Sam dan Leo menganggukan kepalanya.


"Untung saja ada paman selama ini yang selalu ada di samping kita," ucap Leo sambil memeluk Thomas.


"Paman memang harus melakukan itu karena almarhum ibu kalian menitipkan kalian berdua pada paman."


"Terima kasih paman," ucap Sam.


***


Aaric tampak depan serius mendengarkan Nisa yang berbicara di ujung telepon.


"Baiklah aku mengerti," ucap Aaric sambil mengangguk pelan.


Tak lama Aaric menutup teleponnya, dia lalu menghela napas panjang sambil berpikir sejenak.


"Siapa yang menelepon? Sepertinya serius sekali," tanya Naina yang rupanya diam-diam memperhatikan. Dia turun dari tempat tidurnya lalu menghampiri suaminya yang duduk di sofa, tengah sibuk bekerja dengan laptopnya


"Ibumu. Kami berencana melakukan kerjasama bisnis," jawab Aaric sambil kembali menatap layar laptop di depannya.


Naina duduk di samping suaminya.


"Oh iya, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentu saja sayang," jawab Aaric melirik istrinya.


"Mengenai ibuku, apa dia orang kaya?"


Aaric tersenyum.


"Iya sayang. Bukan hanya orang kaya, tapi ibumu sangat kaya, bahkan dia lebih kaya dari kita."


"Benarkah? Apa menurutmu kalau aku minta dibelikan sesuatu padanya dia akan membelikannya?"


"Memangnya apa yang kamu inginkan? Kenapa tidak minta padaku saja, ibumu memang lebih kaya dariku tapi suamimu ini juga masih mampu membelikan apapun keinginanmu."


"Tapi aku ingin ibuku yang membelikannya, bukan kamu," jawab Naina sambil tersenyum.


Aaric mengerutkan keningnya.


"Memangnya kamu mau beli apa? Berlian? Tas branded? Mobil mewah? Aku masih mampu untuk membelikanmu semua itu."


Naina tersenyum mendengar pertanyaan Aaric lalu menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa?"


"Rahasia," ucap Naina sambil mencolek hidung suaminya.


Aaric ikut tertawa, dia lalu tidur di pangkuan istrinya.

__ADS_1


"Sayang, apa yang mama kamu inginkan. Beritahu papa." Aaric berbicara pada perut istrinya sambil mengelus-elus dan sesekali menciuminya.


Naina tersenyum melihat suaminya yang begitu penasaran.


__ADS_2