Rahim Titipan

Rahim Titipan
Resepsi.


__ADS_3

"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Intan tiba-tiba.


"Kalau menurutku Aaric tidak perlu tahu," jawab Ryan.


"Menurutku juga seperti itu, mengetahui semuanya malah akan membuat rumah tangga Aaric dan Naina hancur berantakan." tambah Dani.


Intan melihat Sheryl.


"Bagaimana menurutmu?"


Sheryl mengangkat kepalanya, melihat Intan yang bertanya padanya.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu ternyata selama ini Tari lebih menderita dibanding Aaric."


"Jadi?" tanya Intan.


"Setidaknya untuk terakhir kalinya, biarkan di sisa akhir hidupnya dia merasakan sedikit kebahagiaan."


Semuanya saling berpandangan.


"Naina wanita yang baik, aku yakin dia akan mengerti kondisi Aaric dan Tari," lanjut Sheryl.


"Bagaimana kalau kita tunggu dua minggu lagi setelah Aaric dan Naina menyelenggarakan resepsi pernikahan mereka, setelah itu kita beritahu Aaric yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat dan kita tidak menyesal nantinya."


***


Siang Hari.


Aaric menyetir mobil sambil sesekali melirik Naina yang sedari tadi hanya terdiam saja.


"Sudah kamu pikirkan kami akan memanggilku dengan sebutan apa?"


Naina tersentak tiba-tiba Aaric menanyakan hal itu lagi.


"Belum," jawabnya singkat.


"Kenapa?"


"Aku bingung harus panggil apa."


Aaric mengulum senyum.


"Banyak! My lovely, my Honey, My Baby, My Darling, Sweety.." Aaric mengeja satu persatu nama panggilan yang terlintas di pikirannya.


Mendengar hal itu Naina nampak bergidik geli.


"Kenapa?" tanya Aaric heran.


"Terlalu lebay," jawab Naina.


Aaric tak bisa menahan tawa.


"Lalu?"


Naina terdiam sejenak, lalu dia melirik Aaric yang duduk di sampingnya.


"Sayang.."


"Apa?!" Aaric pura-pura tidak mendengar.


"Aku panggil sayang saja," jawab Naina malu-malu.


Aaric tersenyum.


"Baiklah. Walaupun itu sudah biasa.."


"Sudah biasa!?" tanya Naina memotong perkataan suaminya, matanya sedikit terbuka lebar


Aaric tampak kaget.


"Oh iya aku lupa jika kamu punya banyak mantan yang memanggilmu 'Sayang'," ucap Naina dengan nada kesalnya.


"Bukan itu maksudku. Bukan seperti itu, kamu jangan marah." Aaric ketakutan Naina marah padanya.


Naina tak menggubris perkataan Aaric, dia tetap menunjukkan wajah kesalnya.


Tiba-tiba Aaric menghentikan mobilnya, menginjak rem dengan mendadak, membuat Naina kaget bukan kepalang karena untungnya dia memakai sabuk pengaman, kalau tidak mungkin dia akan terpental ke dashboard mobil.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Naina melihat suaminya dengan marah.


"Maaf. Aku hanya tidak mau kamu marah seperti itu."


Naina mendelik.


"Aku tidak marah!"


Aaric melepas sabuk pengamannya, menghadapkan badannya pada Naina.


"Sayang." Aaric menarik tangan istrinya, lalu memegangnya erat.


"Kamu marah ya?"


"Iya. Aku kaget kamu menghentikan mobilnya seperti itu."


"Bukan itu tapi yang kamu bilang tadi tentang mantan."


Naina langsung melihat suaminya.


"Aku memang punya beberapa mantan, tapi mereka semua hanya masa laluku, kumohon jangan diungkit lagi."


"Apa maksudmu dengan Tari?"


"Iya. Salah satunya dia."


"Apa kamu benar-benar sudah melupakannya?"


Aaric mengangguk dengan mantap.


"Kamu yakin?" tanya Naina tak percaya.


"Tentu saja? Apa yang membuatmu ragu?"


"Karena yang aku tahu jika kamu sangat mencintainya."


"Itu dulu. Sekarang tidak," jawab Aaric tegas.


"Bagaimana jika seandainya dia kembali sekarang?"


"Aku tak akan menghiraukannya."


"Aku harap itu benar." Naina membelai lembut wajahnya Aaric.


"Tentu saja sayang, sekarang tak akan ada yang bisa mengalihkan hatiku darimu, walaupun seribu godaan datang menghadang." Aaric menciumi tangan Naina yang memegang wajahnya.


Naina tersenyum


"Aku percaya sekarang."


Aaric mengecup bibir istrinya.


"Terima kasih, aku hanya minta padamu, apapun yang terjadi, tetaplah percaya padaku dan tetaplah bertahan di sisiku."


Naina mengangguk.


"Iya sayang."


Aaric tersenyum senang.


***


Dua Minggu Kemudian.


Akhirnya resepsi pernikahan Aaric dan Naina akan dilaksanakan malam ini, pesta yang digelar di sebuah hotel berbintang lima di pusat kota itu tampak sangat meriah, banyak tamu undangan yang hadir dan memberi restu.


Namun banyak diantara mereka semua bertanya-tanya siapakah gerangan wanita yang beruntung telah berhasil menaklukkan hati seorang Aaric Widjaja yang terkenal bersikap dingin pada semua wanita.


Akibatnya Naina menjadi sorotan semua orang, selain karena akan asal usulnya yang menjadi teka-teki juga akan kecantikannya yang hampir menghipnotis hampir semua tamu undangan yang hadir.


Malam itu Naina tampil bak bidadari, riasan makeup dan gaun yang dikenakannya membuat penampilannya terasa makin sempurna, karena itu bukan hanya para tamu yang dibuat terkesima namun juga sang suami yang juga tak kalah dibuat terpesona olehnya.


Aaric sesekali mencuri pandang Naina yang berdiri di sampingnya, sambil menyalami tamu undangan yang hadir, naina terus memberikan senyum manisnya tanpa terkecuali.


"Berhentilah tersenyum seperti itu," bisik Aaric sambil mereka terus menyalami tamu tak tak kunjung berhenti.


Naina langsung melihat suaminya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Kamu membuat para pria jatuh cinta padamu."


Naina langsung menyenggol perut suaminya dengan siku.


"Banyak sekali tamu yang datang," bisik Naina pelan.


"Kenapa? Kamu capek?"


"Iya, kakiku pegal sekali."


Aaric langsung memanggil pihak WO untuk menghampirinya.


Naina lalu melihat Aaric berbisik pada orang itu, setelah itu nampak olehnya pihak WO langsung menghentikan tamu menaiki pelaminan.


"Sayang kita istirahat sebentar." Aaric menarik tangan istrinya setelah dia berbisik pada ibunya dan Ibu Farida untuk pamit sebentar.


Naina menuruti keinginan suaminya, mereka berjalan meninggalkan pesta diikuti beberapa orang dari pihak WO yang memegang gaun Naina dari belakang.


"Kita kemana?" tanya Naina ketika Aaric mengajaknya menaiki lift.


"Istirahat sebentar, aku tidak ingin kamu kelelahan." Aaric menatap Naina mesra.


"Kalian pergi saja. Biar kami berdua saja yang naik. Setengah jam lagi kami turun." Aaric mengambil alih memegang gaun istrinya dan meminta dua orang wanita yang mengikutinya untuk pergi.


Lift terbuka, Aaric lalu meminta Naina untuk masuk ke dalamnya, namun dia tersentak kaget melihat orang yang sudah berada di dalam lift itu.


Aaric nampak berdiri mematung, melihat dua sosok orang yang rupanya juga tak kalah kaget melihat Aaric.


Tiba-tiba Aaric tersenyum seringai, lalu memasuki lift sambil terus memegang tangan istrinya.


Pintu lift tertutup, Aaric langsung memencet tombol lantai yang dia tuju, dan lift terasa naik ke atas.


"Apa kabar? Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini." ucap Aaric sambil mengasongkan tangannya hendak menyalami Tari dan Axel.


"Kabar baik," jawab Tari menyambut uluran tangan Aaric dengan wajahnya yang nampak bahagia.


"Oh iya. Kenalkan ini istriku." Aaric memperkenalkan Naina pada Tari.


"Tari."


Deg. Jantung Naina berdegup kencang mendengar wanita itu menyebutkan namanya ketika mereka bersalaman.


Naina menatap wajah Tari.


Sangat cantik dan anggun, pikir Naina.


Sedangkan Aaric melihat Axel.


"Aku senang hubungan kalian masih awet hingga sekarang."


Tari nampak langsung memeluk Axel dengan senang.


"Kami juga akan segera menikah," ucapnya sambil tersenyum.


"Iya kan, Sayang?" tanya Tari pada Axel.


Bukannya menjawab Axel nampak bingung.


"Syukurlah kalau begitu. Aku harap secepatnya kalian menikah dan merasakan kebahagiaan seperti kami." Aaric menarik Naina ke dalam pelukannya.


Tari tersenyum.


"Iya. Aku juga doakan semoga kalian bahagia selamanya."


"Terima kasih," jawab Aaric sambil tersenyum.


Tiba-tiba pintu lift terbuka, Aaric mengajak Naina untuk pergi keluar.


"Kami duluan." Aaric berpamitan pada keduanya.


Tari dan Axel mengangguk kemudian pintu lift kembali tertutup dan ketika itu pula tubuh Tari roboh ke bawah, dia berjongkok dengan bulir air mata keluar dari pelupuk matanya.


"Sudah aku katakan kita seharusnya jangan datang kesini," ucap Axel dengan sedih.


Sambil menangis sesenggukan, Tari menarik rambut palsu yang dia kenakan, hingga nampak dengan jelas kepalanya yang hampir botak, Tari juga langsung menyeka makeup tebal yang dia pakai demi menutupi wajahnya yang pucat.

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat hari bahagia lelaki yang aku cintai sebelum aku mati."


__ADS_2