
Secepat kilat Dani mendorong Axel lebih kuat ke belakang agar menjauhi Aaric.
"Apa maumu?" tanya Dani berbisik dengan sangat marah mencengkeram kerah baju Axel.
"Aku hanya ingin Aaric tahu yang sebenarnya." jawab Axel menatap Dani.
Dani mengencangkan cengkraman tangannya.
"Dia sudah menikah, tahu keadaan yang sebenarnya tentang Tari tak akan ada gunanya." Dani berhasil menarik Axel keluar dari Kafe.
Keduanya kini telah berada di luar Kafe, Axel merapihkan kerah bajunya yang berantakan.
"Kamu tahu tentang Tari?" tanya Axel.
"Aku tahu!" jawab Dani cepat.
"Aaric juga harus tahu, agar tidak lagi berprasangka buruk padaku dan Tari."
Dani menggelengkan kepalanya.
"Jangan! Itu hanya akan membuatnya bingung, dia sudah menikah, jangan hancurkan kebahagiaan yang baru saja dia dapatkan, kamu tidak tahu betapa dia sangat menderita setelah Tari mencampakkannya."
"Tari bukan mencampakkannya, dia terpaksa melakukan itu agar Aaric tidak mengetahui penyakitnya, dia tidak ingin Aaric melihat dirinya yang sakit-sakitan."
"Kalau begitu kenapa kamu ingin memberitahu Aaric sekarang?"
"Mendengar berita pernikahan Aaric, kondisi Tari semakin parah. Aku kasihan padanya."
Dani menghela napas.
"Bukannya aku tidak berempati akan kondisi Tari, tapi aku yakin kalaupun Aaric mengetahui yang sebenarnya tidak akan banyak membantu, malah akan membuat Aaric terpuruk dan rumah tangga yang baru saja dia bangun juga akan berantakan."
Axel terdiam sejenak.
"Tapi paling tidak jika Aaric mengetahui keadaan Tari yang sebenarnya, dia tidak akan lagi membencinya dan meluruskan kesalahpahaman selama ini."
"Sebelum Aaric bertemu dengan istrinya mungkin hatinya dipenuhi kebencian pada kalian berdua, tapi aku yakin jika sekarang dia sudah bisa melupakannya, aku yakin jika Aaric sudah tidak lagi memikirkan kalian. Lima tahun terakhir Aaric sudah cukup menderita karena kesalahpahaman yang kalian buat, jadi untuk sekarang biarkan Aaric merasakan kebahagiaannya,"
Axel menunduk sedih.
"Baiklah. Kamu benar! Lima tahun terakhir pasti sangat berat baginya. Sahabatnya sendiri telah berselingkuh dengan calon tunangannya. Kadang aku menyesal kenapa waktu itu aku mau ketika diajak untuk memainkan drama perselingkuhan itu hingga kalian sahabatku menjauhi dan membenciku juga."
Dani mendekati Axel.
"Sekarang aku tahu yang sebenarnya terjadi, maafkan aku." Dani merangkul Axel.
"Kamu tahu, aku sangat merindukan berkumpul kembali denganmu, Aaric dan Ryan." Axel terdengar sedih.
Dani menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
---
"Kemana Axel? Apa maksud ucapannya bersandiwara?" tanya Aaric ketika Dani baru saja masuk kembali ke dalam Kafe.
"Dua sudah pergi. Aku tidak tahu, mungkin dia hanya ingin mencari alasan atas apa yang telah dia lakukan bersama Tari," jawab Dani gelagapan.
Ryan menatap wajah Dani, dia tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
__ADS_1
Sedangkan Aaric langsung menunjukkan wajah kesalnya mendengar jawaban Dani.
"Kamu benar, sekarang dia ingin berpura-pura jika yang telah dia dan Tari lakukan padaku hanya sandiwara saja. Dia pikir aku akan dengan mudah mempercayainya."
***
Aaric kembali ke kantor dengan masih membawa perasaan kesalnya, pertemuannya dengan Axel membuat moodnya hari ini memburuk.
Dia menyibukkan diri mengerjakan beberapa pekerjaan sebelum sebentar lagi harus memimpin rapat.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, mulutnya menyeringai mengetahui jika Naina yang meneleponnya.
"Iya sayang." Aaric menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Naina di ujung telepon.
"Tidak sama sekali. Ada apa? Tumben sekali kamu menelepon duluan."
"Kamu pulang jam berapa hari ini?"
"Sepertinya agak telat, aku ada beberapa rapat dan pertemuan dengan klien. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin meminta izin pergi ke Panti sekarang untuk mengantarkan surat undangan resepsi pernikahan kita dan ada beberapa keperluan anak panti yang dibeli ibu harus segera diantarkan kesana, tadinya ibu yang akan pergi, tapi sepertinya beliau kurang enak badan," jawab Naina.
Aaric langsung melihat jam tangannya.
"Baiklah, tapi jangan menginap."
"Tidak. Aku akan segera kembali pulang, pokoknya kamu pulang nanti malam aku sudah ada di rumah lagi."
Aaric tersenyum.
"Aku juga." Naina menutup teleponnya.
Aaric tersenyum sambil melihat layar ponsel, menatap foto Naina yang ia ambil secara diam-diam ketika mereka sedang berada di kapal pesiar, istrinya nampak sangat cantik dengan rambut yang berantakan tertiup angin laut.
Mendengar suara istrinya membuat moodnya kembali membaik, Aaric kembali melanjutkan pekerjaannya dengan lebih bersemangat.
***
Hujan deras menemani Naina sepanjang perjalanannya menuju panti, membuat supir yang mengemudikan mobil melajukan mobil dengan perlahan mengingat jarak pandang yang terbatas.
Akibatnya butuh waktu lama bagi Naina tiba di panti, membuatnya resah karena takut akan telat kembali pulang ke rumah, apalagi hujan deras yang tak kunjung reda.
"Kamu menginap saja, hujannya masih sangat deras, dan sebentar lagi malam, berbahaya berkendara di tengah hujan lebat apalagi di malam hari." saran ibu Farida ketika melihat Naina yang terus melihat ke arah luar jendela.
"Telepon suamimu katakan padanya kalau kamu akan menginap dan akan kembali besok pagi," lanjut ibu Farida.
Naina menuruti saran ibunya, dia segera mengambil ponsel dalam tasnya dan langsung mencoba menghubungi suaminya.
Namun berkali-kali ditelepon, Aaric tak kunjung mengangkatnya.
"Aku lupa jika katanya hari ini dia ada rapat dan pertemuan penting, ponselnya pasti dia silent." ucap Naina.
"Telepon mertuamu saja dulu, katakan padanya kamu terpaksa harus menginap, setelah itu suruh makan dulu supirmu, ibu akan menyuruh ibu Sumi untuk menyiapkan kamar untuknya."
Naina mengangguk.
__ADS_1
***
Setelah selesai melakukan pertemuan dengan para klien penting yang dilanjutkan dengan acara makan malam bersama, Aaric bergegas pergi meninggalkan restoran mewah itu dengan diikuti oleh Julian di belakangnya.
Aaric berjalan menuju lobi restoran sambil memeriksa ponselnya, dia terkejut melihat banyaknya panggilan telepon dari Naina yang tidak diangkatnya.
Dengan segera Aaric menelepon balik istrinya.
"Ada apa sayang, kamu meneleponku beberapa kali, tadi aku sedang rapat," ucap Aaric ketika Naina mengangkat teleponnya.
"Aku hanya ingin memberitahu jika aku tidak bisa pulang, disini hujan lebat, ibu menyuruhku untuk menginap."
Aaric langsung menghentikan langkahnya, dia lalu melihat ke arah luar dimana memang sedang turun hujan lebat juga disana.
"Aku pikir kamu sudah di rumah." Suara Aaric terdengar kecewa, dia berdiri di lobi restoran sembari menunggu Julian menyiapkan mobilnya.
"Maaf. Sebenarnya aku ingin pulang tapi ibu melarangku karena jalan disini rawan longsor jika hujan lebat, belum lagi banyak pohon yang tumbang karena anginnya kencang."
"Ibumu benar. Sebaiknya memang kamu menginap saja disana,"
"Apa kamu baru akan pulang?" tanya Naina.
"Iya."
"Apa kamu marah?"
"Tidak. Aku hanya sedih karena malam ini akan tidur tanpa memelukmu."
Naina mengulum senyum.
"Aku juga," ucap Naina pelan.
"Aku bahkan sudah merindukanmu sekarang."
Naina kembali tersenyum.
"Aku juga."
Keduanya sama-sama tersenyum.
"Sudah dulu, nanti aku telepon lagi jika aku sudah sampai dirumah."
"Iya. Hati-hati di jalan."
***
Pukul setengah sebelas malam Naina masih belum tertidur, nampak gelisah dengan sesekali melihat ponselnya, menunggu telepon suaminya yang katanya akan segera menelepon jika sudah sampai di rumah.
Namun sudah hampir dua jam Aaric belum juga meneleponnya, teleponnya pun tak diangkatnya, membuat Naina berpikir mungkinkah suaminya itu ketiduran saking lelahnya, bisa saja seperti itu mengingat dia tahu persis kebiasaan suaminya yang mudah tertidur dengan pulas.
Naina lalu membuka sedikit gorden jendela kamarnya, melihat hujan lebat yang dari sore hari itu masih belum memberikan tanda akan berhenti, dia kemudian menutup kembali gorden dan bersiap akan tidur.
Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara ketukan pintu, dia lalu menghampiri pintu untuk membukanya.
Naina kaget melihat sang suami berdiri di depan pintu dengan baju yang basah kuyup.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin kamu tidak bisa tidur malam ini karena merindukanku," jawab Aaric sambil menggigil kedinginan.