
Sementara itu.
Tari sedang melakukan proses pendonoran sumsum tulang belakang di ruang isolasi khusus. Proses pendonoran yang kurang lebih sama seperti transfusi darah memerlukan beberapa sesi selama beberapa hari.
Selain donor darah dari si pendonor yang diambil dari tulang panggul, dokter juga memberikan cairan nutrisi dan obat-obatan melalui selang infus untuk melawan infeksi dan mendorong pertumbuhan dari sumsum tulang.
Karena semua proses itu pasien akan rentan terhadap infeksi sehingga dilakukan di ruang steril dan tidak boleh ada yang masuk kecuali dokter dan perawat khusus, Dahlia hanya bisa melihat putrinya melalui kaca besar yang menjadi penghalang, dalam hatinya dia terus mendoakan semoga proses pendonoran yang kini sedang dijalani putrinya membuahkan hasil yang diharapkan, putrinya bisa kembali sembuh total.
Tak jauh dari sana juga terlihat Wisnu yang juga sama-sama menatap wajah putrinya, doa dan harapannya tak jauh berbeda dengan Dahlia.
Hingga mereka dikagetkan oleh kedatangan beberapa orang dokter.
"Bagaimana keadaannya Dok?"
"Respon tubuh pasien terhadap transplantasi sumsum tulang belakang akan berbeda-beda. Ini tergantung usia, kesehatan secara umum dan reaksi tubuh terhadap sel sumsum tulang yang baru. Untuk saat ini kita tak bisa mengambil kesimpulan apakah transplantasi ini berhasil atau tidak, tapi tentunya kita berharap ini berhasil mengingat usia pasien yang masih muda."
Dahlia terlihat mengamini, begitu juga dengan Wisnu.
"Bapak ibu tenanglah dan banyaklah berdoa, semoga usaha kita selama ini membuahkan hasil," ucap dokter yang lain.
Dahlia dan Wisnu sama-sama menganggukan kepalanya.
Beberapa dokter itu kemudian pamit, Dahlia kembali melihat putrinya melalui kaca.
Tiba-tiba ada seseorang yang masuk mengagetkan mereka.
"Siang Om. Tante." Axel menyapa Dahlia dan Wisnu.
Wisnu segera menghampiri Axel.
"Kenapa baru datang, Tari menunggumu." Wisnu langsung merangkul Axel.
"Terima kasih." Wisnu menepuk-nepuk pundak Axel.
"Iya Om," jawab Axel pelan.
Dahlia juga menghampiri Axel lalu tersenyum padanya.
"Tante juga ingin mengucapkan terima kasih, ini semua berkat kamu Nak Axel," ucap Dahlia terharu.
Axel mengangguk pelan lalu kemudian menghampiri kaca untuk melihat keadaan Tari.
Axel lalu bertanya beberapa hal pada Wisnu mengenai keadaannya saat ini, Wisnu menjelaskan semuanya dengan jelas agar Axel tahu kondisinya saat ini.
***
Kehamilan Naina telah menginjak bulan keempat, perutnya sudah terlihat membuncit dan membuat Aaric juga seluruh keluarganya menjaga Naina semakin over protective.
Seperti kali ini Naina yang ingin mengunjungi Panti karena sudah lama tidak pergi kesana dilarang keras oleh Aaric.
"Aku akan menyuruh ibu Farida kesini saja ya sayang." Aaric membujuk istrinya.
__ADS_1
Naina menggelengkan kepalanya sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku bukan hanya kangen sama ibu, tapi sama semua orang disana juga," jawabnya dengan kesal.
"Baiklah-Baiklah, aku akan menyuruh mereka semua kesini hari ini."
Naina melihat suaminya semakin kesal.
"Tidak susah sayang, cukup tiga buah bus, mereka semua akan terangkut kesini," ucap Aaric lagi sambil tersenyum.
Naina menggelengkan kepalanya tanda tidak menyetujui ide suaminya.
"Sayang..." Aaric mendekap dan menciumi pipi istrinya.
Naina terdiam dengan semua perlakuan suaminya.
"Apa kamu tidak sayang sama anak kita?" tanya Aaric pelan sambil terus mendekap erat tubuhnya.
Naina langsung melepaskan pelukan suaminya.
"Apa? Tentu saja aku sayang!" jawab Naina dengan marah.
Aaric kaget dan merasa salah bicara.
"Maaf sayang, bukan itu maksudku!" Aaric kaget karena kini Naina berdiri untuk menjauhinya.
"Apa salahnya pergi ke Panti? Kenapa kamu mengaitkannya dengan rasa sayangku pada anak ini?" Naina mulai terlihat akan menangis.
Aaric terlihat serba salah dan mendekati Naina untuk membujuknya.
"Sayang. Maaf bukan itu maksudku."
"Lepaskan!" Naina menangkis tangan Aaric yang mencoba memegang dirinya.
Aaric langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kini Naina terlihat sangat marah padanya.
Naina mengambil jas suaminya dan melemparkan padanya.
"Pergilah kerja sekarang!" ucap Naina sambil kemudian membelakangi Aaric.
"Iya sayang. Tapi kami jangan marah seperti ini." jawab Aaric kembali mencoba mendekati Naina dan merayunya lagi.
"Pergi!!" Naina kembali menangkis tangan suaminya yang mencoba memegang pundaknya.
Aaric terlihat sangat ketakutan, dia mundur dan berniat untuk pergi mengikuti keinginan istrinya.
"Baiklah sayang, aku pergi. Aku berangkat ya."
Naina terdiam, kemudian memutar kepalanya melihat suaminya dengan sinis lalu segera memalingkannya lagi.
Aaric semakin dibuat bingung karena barusan dia melihat wajah istrinya yang basah karena rupanya Naina benar-benar menangis.
__ADS_1
Aaric membuka pintu sambil menghela napas dan terus melihat punggung istrinya.
Dia lalu keluar dari kamar mereka. Berjalan dengan lunglai. Merasa bingung dan merasa sangat bersalah telah membuat istrinya marah seperti itu.
***
"Maafkan aku! Aku tidak tahu jika mengatakan hal itu akan membuat Naina sangat marah." Aaric melihat ibu mertuanya, ibunya sendiri dan juga Nenek bergantian.
Ketiganya melihat Aaric dengan gemas.
"Sudah ibu katakan berkali-kali padamu jika kamu harus hati-hati berbicara pada istrimu, wanita hamil itu sangat sensitif," ucap Winda memarahi putranya.
"Tidak. Aaric tidak salah, aku tahu dia tidak sengaja mengatakannya," Nisa membela menantunya.
"Apa yang dilakukannya juga benar dengan melarang Naina untuk tidak pergi ke Panti, perjalanan yang jauh tidak baik untuknya saat ini."
"Saat ini Naina hanya sedang sensitif saja karena hormon kehamilannya, perkataan yang menurut kita biasa saja bisa jadi sangat menyakitkan baginya," tambah Nisa lagi.
"Lalu bagaimana sekarang? Salah satu dari kita harus naik ke atas dan menenangkan Naina, dia pasti sedang menangis sekarang." ucap Nenek sambil melihat semuanya.
"Aku tidak berani, aku juga takut mengucapkan sesuatu yang membuatnya marah," jawab Winda.
"Aku juga sama," ucap Nisa pelan.
"Kalau begitu nenek juga," ucap Nenek.
Aaric langsung memegang kepalanya.
Semuanya terdiam beberapa saat, memikirkan cara terbaik untuk meredam kemarahan Naina.
"Bagaimana kalau kita masuk kesana ramai-ramai?" ucap Aaric.
"Sepertinya ide bagus, kita kesana membawa makanan kesukaannya," ucap Winda antusias.
"Pesanlah sekarang semua makanan kesukaannya." Nenek menyuruh Aaric dan Nisa.
Nisa dan Aaric langsung sibuk dengan ponsel mereka, keduanya sibuk memesan beberapa makanan yang akhir-akhir ini digemari oleh Naina.
Tak berapa lama kemudian makanan yang dipesan datang, dengan masing-masing orang memegang kantong berisi makanan, mereka semua naik ke lantai atas menuju kamar Naina dengan perasaan was-was.
Dengan hati-hati aaric membuka pintu kamar, lalu dengan perlahan juga mereka semua masuk ke dalam kamar.
Namun mereka semua tercengang melihat apa yang terjadi disana.
Naina tampak sedang tertawa terbahak-bahak melihat acara televisi di depannya, hingga dia tak menyadari kedatangan mereka semua.
Aaric dan yang lainnya saling bertatapan.
"Eh sayang kamu belum berangkat ke kantor?" Naina yang sudah menyadari kedatangan suaminya langsung berdiri menghampiri Aaric dan merangkulnya dengan senang.
"Mama ada apa pagi-pagi kesini?" tanya Naina heran sambil melihat Nisa.
__ADS_1
"Apa yang kalian bawa itu?" tanya Naina lagi dengan gembira karena melihat kantong yang mereka bawa.