
"Mama.." ucap Naina dengan pelan sambil terisak.
Nisa mengangguk beberapa kali juga sambil terisak dan tangan yang memeluk putrinya semakin erat.
"Iya sayang. Ini mama.."
"Maafkan mama nak," ucap Winda lagi.
Suasana semakin terlihat haru, Wisnu tetap pada posisinya berlutut dengan air mata yang keluar semakin deras mendengar percakapan antara Nisa dan Naina di depannya.
Winda juga sibuk menyeka air matanya, dia ikut menangis bahagia melihat Naina menantu kesayangannya kini bisa berkumpul kembali dengan ibu kandungnya.
Begitu juga dengan Aaric yang kini merasa laga karena tidak ada lagi kesalahpahaman antara istrinya dan ibu kandungnya.
Sementara Dahlia yang terkulai lemah terduduk dilantai masih menangis dengan terisak.
Winda menghampiri Naina dan ibunya.
"Sebaiknya kita pergi sekarang," ucap Winda melihat keduanya bergantian.
Nisa dan Naina mengangguk. Keduanya kemudian melihat Wisnu yang masih berlutut di hadapan mereka.
"Sebenarnya aku masih ingin membalas dendam atas semua yang sudah kalian lakukan padaku dan putriku, aku bisa melakukan sesuatu hingga kalian akan memohon ampun dan mencium kakiku, tapi kali ini aku masih akan bermurah hati dan membiarkan kalian tapi dengan syarat kalian berdua jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi," ucap Nisa dengan tegas.
Wisnu langsung mengangkat kepalanya, melihat Nisa.
"Tidak mungkin, jangan memintaku melakukan itu. Naina putriku, aku ingin menjalin hubungan baik dengannya. Selayaknya hubungan ayah dan anak pada umumnya," jawab Wisnu.
Mendengar itu Dahlia kaget, dia langsung berdiri mendekati suaminya, menyuruhnya untuk berdiri.
"Lalu dengan ibunya? Apa kamu juga ingin menjalin hubungan lagi dengannya, atau jangan-jangan kamu ingin kembali lagi padanya? Menikahinya?" tanya Dahlia yang meradang.
"Apa maksudmu?" tanya Wisnu heran.
Keduanya kemudian terlihat adu mulut, Dahlia terlihat sangat cemburu pada Nisa, dia merasa kalau suaminya itu masih mempunyai perasaan padanya.
Winda mendorong pelan Naina dan Nisa, mengajak mereka untuk segera pulang dan membiarkan pasangan suami istri itu untuk bertengkar semaunya.
Sesampainya di luar, Nisa terlihat mengobrol sejenak dengan si pendonor dan juga asistennya.
__ADS_1
"Saya mohon maaf atas kegaduhan yang terjadi, tapi saya berharap semoga anda masih mau menjadi pendonor untuk putri mereka," ucap Nisa.
Si pendonor mengangguk sambil tersenyum.
"Tentu saja saya masih bersedia, selain karena alasan kemanusiaan, itu juga sebagai bentuk rasa terima kasih saya karena anda sudah banyak membantu saya dan keluarga saya."
Nisa tersenyum.
"Terima kasih! Kalau begitu semuanya akan diurus oleh asisten saya, dia yang akan membantu anda selama anda tinggal disini, dia juga akan membantu anda mengurus operasi pendonoran sumsum tulang belakang itu."
Si pendonor mengangguk.
Nisa lalu memberi perintah kepada Asistennya untuk mengantarkannya kembali ke hotel.
Setelah keduanya pergi, Nisa dihampiri oleh Winda dan Naina juga Aaric.
"Kamu masih ingin membantu mereka?" tanya Winda terlihat kecewa.
"Putrinya tidak salah apapun, dia berhak untuk sembuh." Nisa menjawab sambil tersenyum melihat Winda.
"Mama benar, aku setuju dengan semua tindakan mama," ucap Naina.
Winda kemudian juga tersenyum.
"Amin. Semoga semuanya diberikan kelancaran sampai melahirkan nanti."
***
Beberapa hari kemudian.
Naina kini merasakan hidup bahagia setelah bertemu dan berkumpul bersama ibunya, beberapa hari ini mereka intens bertemu untuk saling meluapkan rasa rindu, keduanya terlihat saling bercerita tentang kehidupan yang mereka jalani selama ini, tak lupa Nisa menceritakan alasannya meninggalkan Naina di panti Asuhan dan setelah mendengar semuanya Naina tampak mengerti dan sama sekali tidak marah.
"Tapi mama tetap mengawasimu dari kejauhan, mama tahu apa saja yang terjadi padamu selama ini," ucap Nisa sambil menunjukkan semua foto-foto Naina semenjak dia masih kecil hingga dewasa yang dia kumpulkan selama ini.
Naina terlihat kaget, dia melihat satu-persatu foto dirinya dengan tidak percaya.
"Mama tahu disaat kamu umur tujuh tahun kamu pernah jatuh dari pohon mangga, keningmu waktu itu robek dan mengeluarkan banyak darah, mama segera menyuruh dokter untuk segera datang ke panti agar bisa segera mengobatimu," ucap Naina sambil tersenyum.
Naina membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Jadi mama yang mendatangkan dokter itu?" tanyanya tak percaya.
Nisa mengangguk.
"Mama tahu semua orang kebingungan waktu itu terutama ibu Farida, karena tiba-tiba ada dokter yang datang kesana dan mengobatimu, untungnya dokter itu pintar dan mengatakan jika dia sedang kebetulan lewat saja," jawab Nisa sambil tersenyum geli.
Naina ikut tersenyum.
"Aku tidak percaya ternyata mama mengawasiku selama ini," Naina memegang tangan ibunya.
"Tentu saja mama akan melakukan itu, mama tidak akan mungkin benar-benar meninggalkan dan melupakanmu disana," jawab Nisa memeluk putrinya.
"Maafkan aku yang sempat terhasut oleh perkataan ibu Dahlia."
"Tidak apa-apa, mama tahu jika dalam hati kecilmu kamu tidak akan mempercayai semua perkataannya."
"Mama benar, aku memang ragu akan semua ceritanya tentang mama."
Nisa mengusap lembut punggung putrinya.
Sementara itu di tempat lain.
"Jadi wanita itu ternyata mempunyai anak?" ucap seorang pria dengan sinisnya
"Iya kak, setelah aku selidiki ternyata selama ini dia mempunyai seorang putri yang dia sembunyikan dan yang lebih mengagetkan putrinya itu ternyata adalah istri dari seorang pengusaha rekanan bisnis kita," jawab seorang pria di depannya dengan antusias.
"Siapa?" jawab pria tadi dengan penasaran.
"Aaric Widjaja."
Pria itu terlihat kaget, lalu kemudian tersenyum sinis.
"Rupanya ibu dan anak itu sama-sama pintar, menggaet pria kaya untuk mengambil hartanya."
"Kakak benar. Walaupun tidak dekat tapi aku kenal baik dengan Aaric Widjaja, dia pengusaha muda yang sukses dan sudah pasti kaya raya, dia memang akan menjadi santapan yang cocok untuk dikuras habis hartanya."
"Tapi kali ini putrinya lebih pintar, dia tidak mencari pria tua yang hampir mati seperti ibunya memperdayai ayah kita, tapi justru mencari pria yang lebih muda tapi tetap mempunyai banyak harta."
Keduanya lalu terdiam, menahan amarah mengingat semua yang sudah dilakukan Nisa yang kini menjadi pemegang saham di perusahaan peninggalan almarhum ayah mereka.
__ADS_1