
"Apa kamu benar-benar merindukanku?" tanya Aaric tiba-tiba.
"Tidak." Naina mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Aaric kembali menahan istrinya agar tidak terlepas dari pelukannya, dia lalu memegang wajah istrinya agar menatap wajahnya.
Kini mereka saling bertatapan.
"Tapi kata kamu tadi merindukanku?"
"Tidak." Naina masih tak mengaku.
Aaric mengulum senyum.
"Terus siapa yang membelai wajahku sambil berkata 'aku merindukanmu'?"
"Memang aku yang mengatakannya, tapi bukan aku yang merindukanmu," jawab Naina berkelit.
"Lalu?" tanya Aaric heran.
"Mungkin anakmu," jawab Naina sambil menunjuk perutnya.
Aaric menahan senyum mendengar jawaban istrinya.
"Oh, Ok. Kalau begitu aku akan bicara sama anakku saja," ucap Aaric sambil beringsut mendekati perut Naina.
Giliran Naina yang kini menahan senyum.
"Sayang. Apa kamu merindukan papa?" Aaric membelai perut istrinya
"Papa juga sangat merindukanmu. Sebenarnya papa sangat merindukan mamamu, tapi sepertinya mamamu masih marah sama papa." Aaric berbicara dengan serius sambil mengusap perut Naina kemudian menciuminya.
"Sayang. Tolong katakan pada mamamu jika papa sangat mencintainya," ucap Aaric kali ini dengan suaranya yang memelas.
"Karena itu papa tak akan menyakiti hati mamamu, katakan padanya jika mama harus percaya sama papa," lanjut Aaric lagi.
Naina menatap wajah suaminya yang berbicara sambil terus mengusap perutnya.
Naina melihat kesungguhan dan kejujuran terdalam suaminya dari setiap kata yang diucapkannya.
Aaric menatap wajah istrinya yang sedang memandanginya.
"Percayalah padaku," ucapnya pelan.
"Aku tak akan melakukan sesuatu yang membuatmu kecewa," lanjutnya lagi.
Naina memegang wajah suaminya.
"Aku sekarang percaya padamu," ucap Naina sambil tersenyum.
Aaric tersenyum bahagia.
"Terima kasih." Aaric mengecup kening Naina agak lama.
__ADS_1
"Maafkan aku juga, seharusnya aku mendengarkan dulu penjelasan darimu," ucap Naina pelan.
Aaric menatap wajah istrinya.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah mempercayaiku."
Aaric mengecup bibir istrinya.
"Kamu tahu, aku sangat merindukanmu," ucap Aaric pelan.
"Aku juga."
Keduanya saling menatap mesra.
Aaric lalu merebahkan tubuhnya di samping sang istri, lalu menarik Naina untuk tidur di atas dadanya.
"Jam berapa tadi sampai kesini?" tanya Naina di pelukan suaminya.
Aaric melihat jam tangan yang masih ia kenakan.
"Dua jam yang lalu."
"Dari kantor langsung kesini?" tanya Naina baru menyadari jika suaminya masih mengenakan pakaian kerja, kemeja lengan panjang yang beberapa kancingnya sudah terbuka.
"Iya. Aku terlalu merindukanmu hingga tak sabar untuk menyusulmu kesini, tak sempat pulang dulu ke rumah."
Naina tersenyum.
"Maaf, aku tidur nyenyak sekali, hingga tak menyadari kedatanganmu," ucap Naina.
Lagi-lagi Naina dibuat tersenyum.
"Kenapa tidak membangunkanku?"
"Aku takut kamu masih marah dan malah mengusirku."
"Tidak mungkin aku seperti itu." Naina memukul pelan dada suaminya.
Aaric tertawa.
"Sayang. Kamu harus tahu jika sedang marah kamu sangat menakutkan," ucap Aaric lagi sambil terus tertawa.
Naina mengangkat kepalanya, melihat wajah Aaric.
"Kalau begitu jangan tertawa lagi atau aku akan marah."
"Maaf sayang." Aaric menghentikan tawanya, dia lalu mengecup bibir istrinya dengan cepat.
"Sekarang tidurlah, kamu pasti lelah sekali," Naina kembali tidur di atas dada Aaric.
"Kamu juga sayang," jawab Aaric sambil mengusap punggung istrinya pelan.
Naina memejamkan matanya, begitu juga dengan Aaric yang memang sangat kelelahan hati ini, tapi semuanya seakan hilang karena kini istrinya tidak lagi marah dan salah paham lagi.
__ADS_1
***
Keesokan Harinya.
Nisa membelalakkan matanya membaca laporan dari orang kepercayaannya.
"Jadi Aaric orang yang berhasil menemukan pendonor untuk Tari?"
"Menurut informasi yang kami dapatkan seperti itu, Pak Aaric berhasil menemukan pendonor selama ia berada di Jerman dua Minggu kemarin," jawab Irwan, orang kepercayaannya.
Nisa semakin terlihat kaget.
"Lalu informasi apa lagi yang kamu dapatkan?"
"Calon pendonor itu akan tiba hari ini dari Jerman, dan operasi akan dilaksanakan tiga hari lagi."
"Imbalan apa yang diberikan kepadanya?"
"Sudah pasti uang yang banyak."
Nisa terdiam berpikir sejenak.
"Cari tahu berapa persisnya uang yang ia terima." Nisa memberi perintah pada Irwan.
Irwan mengangguk cepat.
Nisa berdiri dari kursinya, dia berjalan mendekati jendela
"Lalu dimana putriku sekarang?"
"Dia ada di Panti Asuhan. Bersama suaminya."
"Siapkan mobil, kita akan kesana sekarang."
Irwan terlihat kaget.
Nisa membalikkan badannya melihat Irwan.
"Kenapa?"
"Apa Anda yakin Nyonya?"
Nisa mendesah sambil kembali melihat pemandangan di luar jendela.
"Mungkin ini saatnya putriku tahu yang sebenarnya, ini juga saatnya kami berkumpul bersama karena sekarang suamiku sudah meninggal, selain itu aku juga ingin melindungi putriku dari suaminya yang diam-diam masih memperhatikan mantan pacarnya, aku tidak ingin putriku disakiti olehnya, terlebih dia sedang hamil sekarang," ucap Nisa dengan geram mengingat kembali foto Aaric dan Tari tempo hari di ponsel Dahlia, Nisa mengepalkan tangannya mengingat kemesraan keduanya yang saling berpandangan sambil tersenyum.
Belum lagi informasi yang baru didapatnya kini semakin memperjelas jika Aaric masih mencintai mantan pacarnya, sehingga dia yakin jika Naina hanya sedang dipermainkan saja.
"Tapi Nyonya, bagaimana jika putra tiri Anda tahu jika sebenarnya anda mempunyai seorang anak? Aku yakin jika mereka tidak akan tinggal diam, karena takut jika saham anda yang banyak akan dialihkan pada putri anda."
Nisa menghela napas.
"Aku tahu itu, dan aku sudah siap dengan semua serangan kedua anak tiriku yang sangat membenciku karena aku yang mendapatkan saham terbesar di perusahaan ayah mereka."
__ADS_1
"Kamu tenang saja, uangku lebih banyak dari mereka, aku bisa melakukan apa saja untuk melindungi Naina," ucap Nisa sambil melihat Irwan.
"Baiklah kalau begitu Nyonya, saya akan segera menyiapkan mobil untuk anda." Irwan pergi meninggalkan ruangan Nisa.