Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kapal Pesiar 2.


__ADS_3

Naina berdiri di geladak, melihat gelombang air laut yang menerpa kapal hingga membuatnya berayun pelan.


"Disini dingin, anginnya kencang sekali, kamu bisa masuk angin." Aaric memeluk Naina dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Apalagi dengan baju yang kamu pakai ini," ucap Aaric lagi sedikit menggoda istrinya.


Naina langsung memegang tangan suaminya.


"Sepertinya kamu tahu jika aku sangat menyukai laut."


"Aku tahu semua hal tentangmu."


"Oh ya? Apa saja?"


"Hmm..Tiga hari lagi ulang tahunmu." Aaric berbisik di telinga Naina.


Naina langsung terdiam.


"Iya kan?" tanya Aaric.


"Aku tidak tahu."


Aaric mengerutkan keningnya.


"Tidak tahu?" Aaric memutar badan istrinya agar mereka saling berhadapan.


Aaric kaget melihat wajah Naina yang tampak sedih.


"Ada apa?"


"Tidak ada." Naina memeluk suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


"Ada apa?" tanya Aaric lagi heran.


"Kamu benar, tiga hari lagi ulang tahunku, tapi itu tanggal dimana orang tuaku meninggalkan aku di Panti, bukan tanggal kelahiranku, karena tidak ada yang tahu pasti tanggal berapa tepatnya aku lahir." ucap Naina dengan sedihnya.


Aaric nampak kaget dan merasa sangat bersalah.


"Maaf." Aaric mengeratkan pelukannya.


"Tidak apa-apa."


Keduanya terdiam beberapa saat.


"Kadang aku ingin tahu kenapa orang tuaku membuangku," ucap Naina tiba-tiba.


Aaric langsung melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya yang sendu.


"Sayang. Jangan seperti ini." Aaric menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maafkan aku." Naina berusaha untuk tersenyum.


"Tugas kita hanya menjalani takdir Tuhan dengan ikhlas, jangan tanya mengapa karena Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita." Aaric merapihkan rambut istrinya yang terbawa angin.


Naina menganggukan kepalanya.


"Kita ambil hikmahnya, seandainya kamu tidak tinggal di Panti, belum tentu kita akan bertemu."


Naina kembali mengangguk.


"Sudah sekarang jangan berpikir macam-macam lagi," Aaric menarik Naina ke dalam pelukannya.


Keduanya kembali saling berpelukan.


"Mulai sekarang ada aku yang akan selalu bersamamu." Aaric kembali menatap istrinya.

__ADS_1


Naina tersenyum.


"Kita masuk ke dalam." Aaric memegang tangan Naina, lalu menariknya perlahan memasuki dalam kapal.


Naina mengikuti kehendak suaminya, dia tampak pasrah akan apapun yang akan dilakukannya.


Aaric membuka pintu kamar, menarik Naina untuk masuk kesana, setelah keduanya ada di dalam kamar, Aaric langsung menarik sang istri mendekati tempat tidur.


Di tengah deburan ombak malam yang gemulai mengayunkan kapal, sepasang suami istri memadu kasih, meluapkan segala kerinduan yang terpendam.


***


"Kata orang-orang di dermaga tadi kan bilang jika Aaric pergi dengan kapalnya bersama dengan seorang wanita."


"Kamu yakin jika wanita yang sekarang bersama Aaric itu Naina?" tanya Intan pada Dani sambil menunjuk kapal yang tidak jauh dari mereka.


Mendengar pertanyaan istrinya, Dani langsung melirik Ryan di sampingnya.


"Kamu yakin jika itu Naina? Bagaimana jika bukan? Bukankah katamu jika mereka sedang ada masalah?" tanya Dani.


"Terus kalian pikir sekarang Aaric sedang bersenang-senang dengan wanita lain di kapal itu?" tanya Ryan balik.


Semuanya tampak diam tak menjawab.


"Kita semua tahu jika Aaric bukan pria seperti itu." ucap Ryan lagi.


"Itu bisa saja terjadi, mungkin Aaric mencari pelampiasan karena begitu merindukan Naina." Sheryl tampak sangat marah.


"Itu benar. Pria semua sama saja!"Intan berbicara dengan kesal sambil melirik Dani di sebelahnya.


Dani dan Ryan saling berpandangan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi apa mau kalian sekarang?" tanya Ryan melihat istrinya.


"Apa lagi? Tentu saja kita hampiri kapal mereka." jawab Sheryl cepat.


Dani dan Ryan nampak ketakutan melihat istri mereka yang kesal.


"Tapi sayang menurutku kita balik arah saja, Aaric memang sahabat kita tapi kita tak bisa terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangganya." Ryan merayu istrinya.


"Itu benar! Kita balik arah saja." Dani terlihat akan memutar kemudi kapal yang mereka naiki.


"Tidak!!" Sheryl dan Intan berteriak bersamaan.


"Awas." Intan terlihat akan mengambil alih kemudi.


"Iya.. iya..Biar aku saja!" Dani menghidupkan mesin kapal lalu melajukan kapal mendekati kapal Aaric di depannya.


---


Sementara itu, Naina yang tertidur sangat nyenyak tidak menyadari jika Aaric terus menatap wajahnya, Aaric menatap wajah istrinya dengan lekat sambil sesekali membelai lembut wajahnya.


Hingga dia mendengar suara kapal yang mendekati kapalnya, membuat kapal yang mereka naiki bergoyang cukup kuat.


Aaric segera memakai baju dan celananya lalu keluar kamar dan kaget mendapati kapal milik Ryan sahabatnya telah berada di sampingnya, kedua sahabatnya juga istri mereka masing-masing bahkan telah melompat ke kapal miliknya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Aaric kesal.


"Kami sedang berlibur, tak sengaja melihat kapalmu jadi kami kesini." jawab Ryan cengengesan.


"Itu benar. Kami kaget rupanya kamu juga sedang berlibur," tambah Dani.


Sheryl dan Intan terlihat celingak-celinguk melihat ke seluruh penjuru kapal.


"Kamu sama siapa disini?" tanya Intan menelisik.

__ADS_1


"Pasti sama seorang wanita kan?." ucap Sherly.


"Tentu saja dengan wanita memangnya kalian pikir aku gay?"


"Tuh kan apa kataku jika Aaric selingkuh dari Naina," ucap Intan dengan bersemangat.


"Apa!?" jawab Aaric dengan kaget.


"Aku tidak menyangka kamu lelaki seperti itu, bukannya mencari cara agar Naina kembali lagi padamu kamu malah bersenang-senang dengan wanita lain disini." Sheryl melihat Aaric dengan marah.


Mendengar perkataan Sheryl, Aaric malah terlihat menahan tawanya.


"Jadi kalian pikir aku membawa wanita lain kesini?" tanya Aaric.


Semuanya kompak mengangguk.


Tiba-tiba.


"Kalian kesini juga?" Naina yang baru keluar kamar kaget melihat Aaric sedang bersama teman-temannya.


Intan dan Sheryl yang kaget langsung menutup mulutnya, mereka langsung menghampiri Naina dan memeluknya.


"Kenapa tidak bilang?" tanya Dani dan Ryan yang juga tampak senang mereka menepuk pundak Aaric berkali-kali.


Aaric hanya tersenyum sambil kemudian menghampiri Naina yang sedang di interogasi oleh Intan dan Sheryl.


"Sekarang kalian tahu kan kalau aku sedang bersama istriku sendiri, tidak seperti yang kalian pikirkan kalau aku sedang berselingkuh." Aaric menarik Naina ke pelukannya.


Intan dan Sheryl nampak tersenyum malu.


"Maafkan kami. Salahmu sendiri kamu tidak segera memberitahu kami," jawab Intan.


"Itu benar. Kami hanya takut kamu mengkhianati Naina, karena kami akan sangat marah jika itu terjadi." ucap Sherly.


"Kalian tahu jika itu tidak akan pernah terjadi." ucap Aaric dengan tegas.


Semua keempat sahabatnya mengangguk.


***


"Kamu mengusir kami?" tanya Ryan tidak percaya.


"Iya. Cepatlah pergi dari kapalku." Aaric mendorong Ryan dan Dani agar melompat ke kapal mereka.


"Aku tidak mau acara bulan maduku dikacaukan oleh kalian lagi. Ajak istri kalian juga." Aaric menunjuk Sheryl dan Intan yang sedang mengobrol bersama istrinya.


"Baiklah-Baiklah. Tapi tunggu dulu nanti aku jatuh ke laut." Ryan melompat ke kapalnya dengan takut.


Dani yang sudah ada di kapal mereka segera memanggil istrinya masing-masing. Walaupun dengan berat hati keduanya nampak menghampiri suaminya.


Naina melambaikan tangan melihat kepergian Sheryl dan Intan.


"Kenapa mereka terburu-buru sekali." tanya Naina heran pada Aaric yang memeluknya dari belakang.


"Mereka tahu kita banyak pekerjaan."


"Pekerjaan?"


"Iya." Aaric memutar tubuh Naina lalu menggendongnya kemudian berjalan memasuki kamar.


Naina yang sudah dibaringkan oleh suaminya di atas tempat tidur tersenyum malu-malu melihat Aaric membuka bajunya, dia tahu persis apa yang akan dilakukan Aaric selanjutnya.


######


Mohon maaf karena sudah 4 hari author tidak up.

__ADS_1


Mohon doanya pada reader setia agar author senantiasa diberikan kesehatan 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻 dan kembali bisa melanjutkan cerita ini.


__ADS_2