Rahim Titipan

Rahim Titipan
Mempermalukan Nisa.


__ADS_3

"Bulan ini aku gagal lagi," ucap Sheryl terlihat sedih.


Naina dan Intan saling berpandangan lalu serentak keduanya mengelus pundak Sheryl dengan lembut.


"Jangan sedih seperti itu, kamu bisa mencobanya lagi bulan depan," ucap Intan.


"Iya. Kamu harus tetap semangat, mungkin bulan depan kamu akan segera hamil."


"Tapi ini sudah 6 bulan semenjak aku program kehamilan,"


"Kamu tidak tahu bahkan pernah ada yang program selama bertahun-tahun, selama tetap semangat dan tidak putus asa, akhirnya penantian panjang mereka membuahkan hasil," ucap Intan.


"Aku tidak sanggup untuk menunggu selama itu,"


"Demi hadirnya seorang anak, kita akan rela melakukan apapun, termasuk itu bersabar dan menunggu, selama kita masih terus berdoa dan berusaha aku yakin jika Tuhan akan segera menjawab semua doa-doa kita," ucap Naina.


"Naina benar. Intinya jangan putus asa dan jangan stres, itu sangat mempengaruhi program ini akan berhasil atau tidaknya," ucap Intan lagi.


Sheryl langsung menyeka air matanya.


"Maafkan aku. Aku lupa jika tak boleh stres."


Intan tersenyum.


"Sudah. Jangan sedih lagi dan makan makananmu."


"Kalau tidak, aku yang akan menghabiskannya," kata Naina mengancam.


Intan dan Sheryl tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar ibu hamil serakah," ucap Sherly sambil menyuapi Naina.


Ketiganya tertawa bersama.


***


Hari ini ada agenda rapat anggota dewan direksi, dan tentunya Nisa sebagai pemilik saham terbesar di haruskan untuk hadir.


Nisa berjalan dengan anggun melewati koridor kantor dengan diikuti oleh beberapa orang kepercayaannya, hingga dia dikagetkan oleh Thomas yang juga pemilik saham disana berdiri menghadangnya.


"Sepertinya kamu sibuk sekali," ucap Thomas sambil tersenyum.


Nisa tersenyum.

__ADS_1


"Begitulah. Aku pemilik saham terbesar di perusahaan ini dan pastinya aku sangat sibuk. Jadi minggirlah, anda menghalangi jalanku." Nisa mengibaskan tangannya menyuruh Thomas untuk enyah dari hadapannya.


Thomas terkekeh.


"Tidak sebelum kamu mau pergi makan malam denganku."


Nisa tersenyum.


"Tidak. Jangan bermimpi karena itu tidak akan pernah terjadi!" Nisa membalikkan tubuhnya memberi isyarat pada para bodyguardnya untuk menghalau Thomas dari hadapannya.


Melihat itu Thomas langsung menggeser badannya. Membuat Nisa kembali melangkahkan kakinya.


"Jangan terlalu jual mahal, janda kaya sepertimu tidak baik untuk berlama-lama sendiri," ucap Thomas dengan sedikit berteriak agar Nisa yang sudah berjalan bisa mendengarnya.


Nisa langsung menghentikan langkahnya, dan langsung membalikkan tubuhnya melihat Thomas.


"Kalaupun aku harus menikah lagi, orang sepertimu tidak masuk kriteriaku untuk menjadi suamiku, jadi berhentilah untuk menggodaku. Di mataku kamu hanya benalu yang terus merongrong dan mengadu domba keluargaku," ucap Nisa dengan santainya.


Thomas terdiam, dia terlihat malu dengan semua perkataan Nisa.


Ketika rapat dewan direksi sedang berlangsung, tiba-tiba tanpa diduga datanglah Sam beserta Leo adiknya menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa permisi, membuat semua orang yang berada disana kaget dan keheranan.


Keduanya langsung menghampiri Nisa yang berusaha untuk bersikap tenang.


Sementara Thomas yang memang sudah berada di ruang rapat sedari tadi, nampak tersenyum senang, dia bersiap untuk melihat pertunjukan yang menarik sebentar lagi.


"Kalian tentunya sudah tahu siapa saya dan adik saya ini." Sam menunjuk adiknya.


"Kami adalah putra kandung dari mendiang ayah kami yaitu Jefri Atkinson, pemilik perusahaan ini dan itu berarti secara hukum kami adalah pewaris dari semua harta kekayaan ayah kami."


"Akan tetapi, harus kalian ketahui, wanita ini mengambil semuanya dari kami. Semuanya! Termasuk itu saham di perusahaan ini sehingga kami tidak mendapatkan apapun."


Semua orang terperanjat, kemudian langsung melihat Nisa.


Nisa tersenyum santai sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Kalian pasti berpikir jika itu tidak adil bukan?" tanya Sam pada semua orang.


Tak ada yang menjawab, semuanya masih terlihat bingung dan kaget.


Sementara Thomas cengengesan melihat Sam yang terus mempermalukan Nisa di hadapan semua orang


"Wanita ini sangat licik, dia yang awalnya hanya pembantu di rumah kami, lalu merayu ayah kami untuk menikahinya lalu kini mengambil alih semua hak kami, setelah ayah kami meninggal." Leo kali ini yang bersuara.

__ADS_1


Nisa kembali tersenyum kecil.


"Ini ini fakta yang baru saja saya dapatkan, ini skandal tentang dia yang harus kalian ketahui." Sam membuka amplop coklat yang dia bawa.


"Wanita ini mempunyai seorang putri yang dia sembunyikan selama ini, dia menyembunyikan putrinya di panti asuhan, sesuatu yang mengagetkan bukan?"


Leo membagikan foto-foto kebersamaan Nisa dan Naina di berbagai tempat, rupanya selama ini mereka menyuruh seseorang untuk membuntutinya.


Mata semua orang terbelalak kaget.


"Putri haramnya dia sembunyikan di panti asuhan kecil di pinggir kota, kalian pasti tidak akan menyangka jika Direktur Utama kalian ini ternyata mempunyai kisah kelam yang membuatnya terpaksa harus menyembunyikan putrinya sendiri karena malu." Sam melirik Nisa dengan senyum penuh kemenangan.


Semua orang langsung saling berbisik pada orang di sebelahnya sambil melihat foto di tangan mereka, mereka semakin mempercayai perkataan Sam dan adiknya karena melihat kemiripan antara Nisa dan Naina di foto itu.


Nisa yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan lalu berdiri dari duduknya, dia menghadap ke arah Sam dan Leo masih dengan sikapnya yang santai dan elegan.


"Sudah?" tanya Nisa sambil tersenyum.


"Jadi hanya ini saja?" tanya Nisa lagi masih sambil tersenyum.


"Tentu saja tidak, setelah kelakuan burukmu terungkap sekarang, aku yakin jika anggota direksi yang hadir disini tidak mau perusahaan ini dipimpin olehmu lagi," ucap Leo sambil tersenyum.


"Mereka juga pasti akan membatalkan kepemilikan sahammu karena dianggap tidak sah, karena kamu pasti yang telah memaksa ayah kami untuk memberikannya padamu sebelum kematiannya, dilihat dari surat wasiat yang ditulis ayah kami dimana tertulis namaku dan adikku disana sebagai pewaris yang sah jika dia meninggal." Sam menunjukkan surat wasiat itu pada Nisa.


"Wow. Ini sungguh suatu kejahatan yang serius, kita tak bisa membiarkannya, Nisa tidak bisa lagi memimpin perusahaan ini." Thomas berdiri untuk memprovokasi orang-orang.


"Iya betul. Kami setuju, wanita itu tidak layak untuk menjadi pemimpin di Perusahaan ini." Seseorang yang sebenarnya sudah dibayar Thomas ikut berdiri juga untuk memprovokasi yang lainnya.


"Kami setuju." Beberapa orang terlihat mulai terhasut.


Nisa melihat semua orang yang mulai terprovokasi.


Leo dan Sam tertawa penuh kemenangan.


Nisa lalu memanggil Asistennya untuk membisikkan sesuatu.


Sang asisten dengan cekatan melaksanakan apa yang diperintahkan Nisa.


Semua orang keheranan melihat layar proyektor yang dihidupkan.


Nisa kembali duduk dengan santai di kursinya, sementara Sam dan Leo terlihat bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Nisa.


"Kalian duduklah, lihat apa yang akan aku tunjukkan pada kalian," ucap Nisa kepada kedua kakak beradik itu.

__ADS_1


Sam dan Leo tak menggubris, keduanya tetap berdiri melihat layar proyektor.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kalian semua akan melihatnya sekarang." Nisa melihat semua orang.


__ADS_2