
Tak ada jawaban.
Aaric yang heran sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Naina yang rupanya sudah tertidur lelap, sambil mengulas senyumnya, Aaric kembali membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Sayang. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membiarkanmu mengetahui siapa ayah kandungmu? Tapi entah mengapa aku merasa bahwa itu akan sangat menyakitimu dan aku tak ingin melihat dirimu terluka," gumam Aaric pelan.
"Tapi selama kamu ada di sisiku, tak akan kubiarkan siapapun menyakitimu, walaupun itu orang tua kandungmu sendiri," lanjut Aaric sambil kemudian mencium kepala istrinya yang terlelap.
***
"Aku akan sembuh, kedua orangtuaku sudah menemukan pendonor yang cocok untukku," ucap Tari dengan senang sambil memegang tangan Sheryl yang duduk di depannya.
"Benarkah?!" jawab Sheryl yang kaget tidak percaya.
Intan yang berdiri di sampingnya juga tak kalah kaget, dia menutup mulutnya lalu tersenyum dengan bahagia.
Tari menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Itu benar, aku akan sembuh!" Tari memeluk Sheryl, Intan yang berdiri juga membungkukkan badannya memeluk kedua sahabatnya.
"Aku tidak percaya ini. Akhirnya kamu akan sembuh." Sheryl menitikkan air matanya.
"Dan kita akan kembali berkumpul bersama lagi." Intan melepaskan pelukannya, melihat Tari dengan bahagia.
"Siapa orang itu, dia pasti salah seorang dari keluargamu." tanya Intan lagi.
Tari menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu, sepertinya bukan dari keluargaku karena kalau iya kenapa tidak dari dulu saja, kata ayahku dia hanya orang lain yang kebetulan sumsum tulang belakangnya cocok denganku."
Tari mengernyitkan dahinya.
"Siapapun orang itu kita harus mengucapkan terima kasih padanya," ucap Sheryl sambil menyeka air matanya.
"Kapan operasinya akan dilaksanakan?" tanya Intan lagi.
"Aku tidak tahu, tapi kata ayahku secepatnya," jawab Tari.
"Semoga semuanya berjalan lancar sehingga kamu bisa kembali sehat." Sheryl menatap Tari dengan bahagia.
__ADS_1
"Iya. Kalian tahu, aku sudah menyusun rencana apa saja yang akan aku lakukan jika aku keluar dari sini."
"Oh ya? Apa itu?"
"Aku ingin berlibur keliling dunia dengan kedua orang tuaku, aku ingin membayar semua waktu yang terbuang selama ini karena kami harus banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Kini saatnya kami bersenang-senang," jawab Tari dengan bersemangat.
"Wah pasti seru sekali." Sheryl tersenyum bahagia.
"Setelah puas berlibur, aku akan melanjutkan karierku sebagai desainer, aku akan kembali melanjutkan hidupku, seperti kalian, aku juga ingin menikah."
Intan dan Sheryl saling berpandangan.
"Tentu saja kamu juga akan menikah dan berkeluarga,aku yakin kamu akan segera menemukan seorang laki-laki yang mencintaimu." Intan duduk di kursi.
"Iya. Intan benar, setelah kamu sehat, tak butuh waktu lama kamu akan segera bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang mencintaimu dengan tulus," ucap Sherly memberi semangat.
Tari tersenyum getir.
"Semoga saja seperti itu karena aku ingin segera melupakan Aaric," ucap Tari pelan.
Intan dan Sheryl kembali saling berpandangan, mereka langsung memegang tangan Tari.
"Kamu benar, lupakanlah Aaric karena kini dia sudah menjadi milik wanita lain, masih banyak lelaki yang lebih baik darinya dan mengantri ingin mendapatkanmu" ucap Sherly sambil tersenyum
Tari tersenyum.
"Kalian tahu, sekarang aku menyesal telah meninggalkannya waktu itu, belum lagi aku telah membuatnya salah paham hingga membuatnya sangat membenciku."
Sheryl dan Intan tertegun.
"Jika tahu aku akan sembuh, aku tak akan meninggalkannya." Tari terlihat sedih.
"Semua yang terjadi jangan di sesali, kita ambil saja hikmahnya jika Aaric memang bukan jodohmu." Intan membelai lembut tangan Tari.
"Apa Aaric mencintai istrinya?" tanya Tari tiba-tiba membuat Sheryl dan Intan kaget, keduanya tak segera menjawab dan nampak kebingungan.
"Maaf aku menanyakan hal itu pada kalian, karena kalian pasti tahu, selama ini kalian dekat dengannya."
"Tari. Lupakanlah Aaric. Setahuku kini dia sangat mencintai istrinya. Maaf aku mengatakan itu tapi aku hanya ingin kamu tidak berharap lagi padanya." Intan menasihati.
__ADS_1
"Intan benar, Aaric telah melupakanmu dan kini sangat mencintai Naina, Istrinya." Sheryl menambahkan.
Tari kembali tersenyum getir.
"Syukurlah kalau dia mencintai istrinya sehingga pengorbananku tidak sia-sia, Aaric hidup bahagia, hanya itu yang aku harapkan selama ini."
"Dan kamu juga akan hidup bahagia, yakinlah itu. Pengorbananmu juga akan berbalas kebahagiaan untukmu." Sheryl memeluk Tari.
***
Wisnu dan Dahlia duduk di sofa ruang tamu kediaman Aaric, hari ini mereka memutuskan untuk bertemu dengan Naina dan mengatakan hal yang sebenarnya.
Wisnu sebenarnya merasa belum siap, terlebih karena belum mendapatkan lampu hijau dari Aaric namun sang istri terus saja mendesaknya karena memikirkan Tari yang harus segera melakukan donor sumsum tulang belakang agar segera sembuh dari penyakitnya.
Sementara itu.
Winda berjalan mondar-mandir di ruangan lain sambil sesekali mengintip Wisnu dan istrinya, dia yang nampak cemas sesekali melihat ponsel di tangannya. Naina yang berdiri di samping kursi roda nenek nampak tak mengerti melihat tingkah laku ibu mertuanya, begitu juga dengan Nenek yang merasa Winda bersikap aneh.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa kita tidak boleh menemui tamu yang datang itu?" tanya Nenek heran.
Winda menyilangkan telunjuk di mulutnya sambil menghampiri Nenek.
"Kita tunggu dulu Aaric," ucapnya dengan berbisik.
"Kenapa kita harus menunggunya?" tanya Nenek masih tak mengerti.
"Aku tidak tahu, hanya saja Aaric kemarin berpesan padaku jika ada tamu yang datang ingin menemui Naina, aku harus segera memberitahunya dan jangan dulu ditemui sebelum dia datang."
Nenek mengerutkan keningnya, lalu melihat Naina yang juga tak kalah bingungnya.
"Kita tunggu saja Aaric, katanya dia sudah hampir sampai," ucap Winda lagi menenangkan keduanya.
"Baiklah kalau begitu. Kita tunggu saja Aaric, jangan sampai dia marah karena kita tak mendengarkan perintahnya." Nenek melihat Naina.
Naina menganggukan kepalanya.
Naina yang sedari tadi hanya terdiam sebenarnya memiliki banyak pertanyaan di benaknya mengenai maksud dan tujuan kedua tamu itu datang ingin menemuinya.
Terlebih ketika dia tahu jika tamu itu adalah Pak Wisnu, pria yang bertanya tentang ibu kandungnya ketika mereka pertama kali bertemu di rumah sakit.
__ADS_1
Naina semakin dibuat penasaran karena suaminya nampak sudah mengetahui jika mereka akan datang menemuinya.
"Ada apakah ini?" tanya Naina dalam hatinya