
"Aku bekerja di perusahaan ini," jawab Axel sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu kamu kerja disini,"
"Kamu tidak akan tahu karena kamu sudah tidak ingin tahu lagi tentangku karena kamu sangat membenciku," ucap Axel sambil mempersilahkan Aaric untuk duduk.
Aaric duduk di kursi, diikuti oleh Axel yang juga duduk di depannya.
"Mengenai itu, bukan salahku jika aku melakukannya, kalian memang sengaja ingin membuatku membenci kalian kan?"
"Bukan aku, tapi Tari yang ingin kamu membencinya dan meninggalkannya,"
Aaric terdiam.
"Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui semuanya?"
"Tidak ada yang berubah, hatiku terlanjur diisi oleh wanita lain yang sekarang menjadi istriku, aku sangat mencintainya, mengetahui keadaan Tari yang sebenarnya tidak lantas membuatku ingin mencampakkan istriku," jawab Aaric tegas.
"Tapi, apa kamu tidak memikirkan Tari? Dia meninggalkanmu waktu itu demi untuk kebaikanmu, tidak ingin membuatmu ikut menderita bersamanya dengan penyakitnya," jawab Axel.
"Kalian tidak tahu jika di khianati oleh kekasih dan sahabat sendiri rasanya lebih menyakitkan dari itu," jawab Aaric memandang Axel tajam.
"Kami tidak mengkhianatimu, kami pura-pura melakukannya, itu semua Tari yang memintanya."
"Aku tahu, tapi tetap saja itu tak mengubah perasaanku kini, istriku tetap akan menjadi prioritas utamaku terlebih saat ini dia sedang mengandung anakku, kepada Tari, aku hanya bisa bersimpati, berusaha untuk membantunya sebisaku," jawab Aaric.
"Kamu ingin membantunya?" tanya Axel.
"Seandainya bisa, akan aku lakukan agar dia bisa sembuh, tapi itu bukan berarti aku masih mempunyai perasaan padanya."
"Baiklah kalau begitu, kamu bisa menolongnya."
"Apa yang bisa aku lakukan?"
"Aku sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Tari, tolong kamu urus semuanya, karena aku tidak bisa kembali ke Indonesia sementara ini karena pekerjaanku."
"Kamu sudah menemukan pendonor?" tanya Aaric tak percaya.
"Iya, kebetulan aku menemukan seseorang yang cocok untuk dijadikan pendonor Tari."
Aaric menatap Axel tajam.
"Tidak mungkin kebetulan, mencari pendonor yang cocok di luar keluarga pasien sangatlah sulit, kemungkinannya hanya satu diantara jutaan orang."
Axel terlihat tersenyum kecil.
"Kamu benar, sudah tiga tahun aku mencari pendonor untuk Tari."
Aaric menyandarkan tubuhnya.
"Rupanya kamu memang benar-benar jatuh cinta padanya," ucap Aaric dengan yakin.
__ADS_1
Axel hanya tersenyum getir.
"Kamu benar, aku memang mencintainya, tanpa kusadari aku jatuh cinta padanya. Semuanya bermula ketika hubungan kami yang semakin dekat ketika kalian baru saja berpisah. Tapi sayangnya aku tahu jika dia hanya mencintaimu," jawab Axel pelan.
Aaric terdiam sejenak, dia nampak tengah berpikir.
"Lakukanlah sendiri!" ucap Aaric tiba-tiba sambil berdiri.
"Apa?" tanya Axel yang kaget juga ikut berdiri.
"Uruslah sendiri pendonor untuk Tari itu, aku tidak mau ikut campur, lagi pula Tari harus tahu tentang perjuanganmu selama ini untuk kesembuhannya." Aaric akan melangkah pergi.
"Aku tidak mau Tari tahu!" jawab Axel cepat.
Aaric langsung melihat Axel.
"Tari tidak harus tahu jika aku mencintainya," ucap Axel lagi.
"Kenapa?" tanya Aaric heran.
"Sudah aku bilang jika dia hanya mencintaimu," jawab Axel.
Aaric melangkah mendekati Axel lebih dekat.
"Tidakkah kamu ingin mencoba mengutarakan perasaanmu dulu? Bisa saja setelah kamu melakukan itu akan mengubah perasaannya?"
"Tidak mungkin, aku tahu betapa besarnya rasa cintanya untukmu," jawab Axel pesimis.
Axel terdiam.
"Mana Axel yang penuh kepercayaan diri dulu, yang hampir bisa menaklukkan hati semua wanita di kampus?" tanya Aaric menggoda sahabatnya.
Axel celingukan.
"Cobalah dulu. Aku yakin kamu bisa!" Aaric menepuk-nepuk pundak Axel.
Aaric kemudian pergi meninggalkan Axel yang hanya bisa terdiam.
***
Tiga hari berlalu.
Entah karena campur tangan Axel yang bekerja pada perusahaan dimana Aaric akan melakukan kerjasama membuat semua rencana kerjasama berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.
Hal itu membuat perusahaan Aaric akan mendapatkan keuntungan yang besar, selain itu juga akan semakin mengokohkan posisi Grup Widjaja menjadi perusahaan besar yang berkembang karena bisa melebarkan sayapnya hingga ke beberapa negara di benua Eropa.
Namun hal itu juga semakin membuat Aaric sibuk, dia harus fokus mengurus semua urusan bisnisnya, walaupun sudah dibantu oleh beberapa orang asisten dan juga bawahannya tapi tetap saja Aaric harus turun tangan sendiri.
Tak ayal, semuanya juga membuat Aaric hanya bisa mempunyai sedikit waktu untuk terus menjalin komunikasi dengan istrinya, ditambah dengan perbedaan waktu antara Indonesia dan Jerman yang semakin mempersulit keduanya.
Seperti saat ini, disaat Aaric baru saja kembali ke hotel tepat pukul sembilan malam, dia nampak ragu akan menghubungi Naina yang pasti sudah tertidur karena waktu di Indonesia yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
__ADS_1
Sebenarnya Aaric sangat ingin menelepon istrinya untuk sekedar melepas kerinduan, tapi juga dia tak ingin mengganggu waktu istirahat sang istri, terlebih dia tahu jika di kehamilan muda sepertinya sangat tidak baik begadang malam hari.
Aaric akhirnya mengurungkan niatnya, setelah membersihkan diri, dia lalu beristirahat sembari memendam kerinduan yang mendalam pada sang istri.
Sementara itu.
Naina terus menatap layar ponsel, menunggu panggilan sang suami yang tak kunjung ada, membuatnya merasa sangat sedih.
"Sabar sayang, mungkin papamu akan menelepon kita besok, kita harus mengerti karena papa pasti sibuk sekali." Naina mengusap perutnya lalu bersiap untuk tidur.
***
"Maaf sayang, aku sibuk sekali," ucap Aaric menatap wajah istrinya di layar ponsel.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," jawab Naina sambil berusaha untuk tersenyum.
"Kamu pucat sekali, apa kamu baik-baik saja? Kamu sudah makan? Apa kamu masih muntah-muntah?"
"Aku baik-baik saja," jawab Naina menatap wajah suami yang sangat dirindukannya.
"Kapan kamu pulang?" tanya Naina.
"Sayang, maafkan aku. Sepertinya aku akan sedikit lebih lama lagi disini, pekerjaanku masih banyak."
Naina terdiam.
"Sayang maafkan aku, aku tahu ini sudah delapan hari, tidak seperti perkiraanku, ternyata butuh waktu lebih lama lagi mengurus pekerjaanku. Sayang maafkan aku, asal kamu tahu jika aku juga sangat merindukanmu dan ingin secepatnya pulang."
"Iya. Aku mengerti. Tidak apa-apa." Naina mencoba untuk tersenyum.
Mereka terus mengobrol, saling meluapkan rasa rindu yang sudah tidak tertahankan, walaupun hanya bisa saling menatap lewat layar ponsel, setidaknya bisa sedikit mengurangi kerinduan di antara keduanya.
Sementara itu, beberapa hari kemudian.
Kondisi Tari semakin memburuk, kondisi tubuhnya semakin melemah, membuat para dokter terpaksa harus memindahkannya ke ruang ICU.
Dahlia dan Wisnu sedih tiada tara, mereka berdua sudah berpikir jika mungkin inilah saat-saat terakhir bagi putri mereka.
Hingga akhirnya datang kabar yang tidak di duga-duga, mereka mendapat informasi jika akhirnya ada seseorang yang cocok untuk menjadi pendonor putri mereka.
"Ini keajaiban, kami baru saja mendapatkan hasil tes yang dikirimkan dari salah satu rumah sakit di Jerman, bahwa ada seseorang yang cocok untuk menjadi pendonor putri kalian," ucap salah seorang dokter dengan senang.
Dahlia dan Wisnu terpana.
"Rupanya ada orang disana yang berusaha mencari pendonor yang cocok disana, kalian tahu jika itu sangat sulit, tapi akhirnya dia berhasil, ini sungguh luar biasa." Dokter lain menambahkan.
"Si..si..apa orang itu?" tanya Dahlia tergagap.
Dokter itu langsung melihat lembar kertas yang dipegangnya.
"Orang yang bertanggung jawab disini, disebutkan namanya adalah Aaric Widjaja."
__ADS_1