
Aaric berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi dengan wajahnya yang terlihat sangat gusar dan panik, hingga dia tak memperdulikan bajunya yang terdapat banyak noda darah.
Tak lama datanglah Dani yang berlari ke arahnya, Aaric langsung menghambur mendekati sahabatnya.
"Tolong Naina, kumohon selamatkan istriku dan ayahnya," ucap Aaric dengan memohon.
Dani menenangkan Aaric.
"Iya. Aku masuk dulu dan lihat keadaan mereka, kamu tenang saja, dokter bedah yang menangani keduanya sangat handal, operasi ini pasti akan berjalan lancar."
Aaric menganggukan kepalanya.
"Aku masuk dulu. Kamu tenanglah." Dani menepuk pundak Aaric lalu masuk ke dalam ruangan operasi dengan segera.
Aaric kembali berjalan mondar-mandir dengan gusarnya, dia terlihat sangat stres memikirkan keadaan sang istri yang kini sedang menjalani operasi.
Namun kemudian dia dikejutkan oleh Nisa yang berjalan ke arahnya dengan lunglai, dari wajahnya terlihat dengan jelas jika dia sangat terpukul.
Nisa menatap wajah menantunya dengan nanar, tatapan matanya jatuh pada baju aaric yang terdapat banyak noda darah.
Melihat itu Nisa langsung jatuh terkulai lemas ke lantai, Aaric segera menghambur memegang ibu mertuanya.
Nisa menangis terisak sambil terduduk, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ini salahku. Naina seperti ini karena kesalahanku," ucap Nisa di sela-sela tangisnya.
"Naina akan baik-baik saja, dia akan baik-baik saja ma." jawab Aaric juga dengan menangis.
Aaric lalu membantu Nisa untuk berdiri lalu membawanya duduk di kursi yang tak jauh dari sana.
Aaric duduk di samping ibu mertuanya.
"Mama tak akan memaafkan diri mama jika terjadi sesuatu pada Naina dan kandungannya," ucap Nisa masih sambil menangis penuh penyesalan.
"Tidak ma. Naina dan bayinya akan baik-baik saja. Naina hanya tertembak di bahunya saja, tapi.."
Nisa menghentikan tangisnya, dia langsung mengangkat kepalanya melihat Aaric.
"Tapi apa?" tanya Nisa.
"Pak Wisnu tertembak tiga kali demi melindungi Naina."
Nisa membelalakkan matanya. Dia yang hanya mendapat kabar jika Naina ditembak seseorang tak dikenal begitu kaget karena rupanya mantan suaminya juga ikut tertembak.
"Wisnu juga tertembak?"
Aaric menganggukan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu kenapa pak Wisnu tiba-tiba ada disana."
Nisa langsung menunduk dan memikirkan sesuatu, dia teringat jika kemarin Wisnu menghubunginya dan meminta izinnya untuk bertemu dengan Naina, Wisnu juga mengatakan jika dirinya sangat merindukan Naina.
"Dia merindukan putrinya," ucap Nisa kembali berderai air mata.
"Dia pasti kebetulan berada disana untuk melihat Naina diam-diam," tambah Nisa lagi sambil menyeka air matanya.
"Aku juga berpikir seperti itu. Secara kebetulan Pak Wisnu berada disana untuk melihat Naina, tapi kemudian beliau melihat orang itu. Orang yang akan mencelakai Naina, lalu dia berusaha untuk menyelamatkan nyawa putrinya." Aaric kembali mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Dia telah mengorbankan dirinya hingga tertembak tiga kali demi Naina."
"A..apa?"
Tiba-tiba tanpa mereka sadari, Dahlia telah berdiri di hadapan mereka.
Aaric dan Nisa langsung berdiri melihat kedatangan Dahlia.
"Suamiku tertembak?" tanya Dahlia melihat Aaric dan Nisa bergantian.
Aaric menganggukan kepalanya pelan.
Sontak Dahlia langsung menutup mulutnya.
"Dia tertembak demi melindungi putrinya." Nisa berjalan mendekati Dahlia.
Dahlia menatap wajah Nisa tidak percaya.
Dahlia buru-buru menghampiri Aaric
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dahlia terlihat cemas.
Aaric menggelengkan kepalanya.
"Dokter masih mengoperasinya, kita hanya bisa berdoa semoga Naina dan suami anda baik-baik saja."
Dahlia melangkah mendekati kursi lalu duduk di atasnya, dia terlihat sangat shock dan terpukul. Sambil menutup wajahnya dia terlihat mulai menangis terisak.
Nisa dan Aaric masih berdiri memperhatikannya.
Suasana hening seketika, hanya terlihat perawat yang lalu lalang keluar masuk ruang operasi dengan tergesa-gesa.
Lalu beberapa saat kemudian satu persatu orang berdatangan. Kini Intan dan Sheryl juga suaminya telah berada disana, lalu kemudian beberapa orang kepercayaan Nisa juga datang dan memberi informasi jika Thomas adalah pelaku penembakan itu.
"Aku sudah tahu jika Thomas pelakunya." Nisa terlihat geram dan mengepalkan tangannya.
"Kami sudah melaporkannya ke pihak kepolisian, polisi bergerak cepat dan sedang mencarinya sekarang."
Nisa menganggukan kepalanya pelan.
"Jangan hanya mengandalkan kepolisian saja, kalian juga harus mencarinya dengan segera, dan ingat jika kalian telah berhasil menangkapnya, bawa dia ke hadapanku dulu."
Beberapa orang itu mengangguk, kemudian mereka semua segera pergi dari sana.
***
" Naina baik-baik saja." Dani yang baru saja keluar dari ruang operasi langsung dihampiri oleh semua orang yang sedari tadi menunggu di luar ruangan operasi.
Semuanya tampak bernapas dengan lega, terutama dengan Naina dan Aaric.
"Bagaimana suamiku?" Dahlia menatap wajah Dani.
"Pak Wisnu masih menjalani operasi. Tidak seperti Naina yang hanya tertembak di bahu sehingga pelurunya mudah diambil. Suami anda terkena tiga kali tembakan di dada dan perutnya, Para Dokter memerlukan banyak waktu untuk mengeluarkan peluru-peluru itu."
Dahlia kaget mendengar jawaban Dani.
"Tapi anda tidak usah khawatir, setelah para Dokter lihat tak ada satupun pelurunya yang mengenai organ penting seperti jantung atau paru-paru."
__ADS_1
Dahlia dan yang lainnya sedikit bernapas lega.
"Kehamilan Naina? Apa itu akan berpengaruh pada bayi yang dia kandung?" tanya Nisa.
Dani menggelengkan kepalanya.
"Untungnya tidak, keadaan Naina dan bayinya baik-baik saja. Dia hanya kehilangan banyak darah tapi itu sudah teratasi dengan transfusi darah. Naina sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah melewati masa observasi."
Semua orang kembali merasa lega.
***
Thomas terus tersenyum-senyum sendiri sambil duduk di kursi santainya menikmati pemandangan alam yang indah.
Dia baru saja sampai di sebuah villa di sebuah kota terpencil yang cukup jauh dari kota.
"Tidak akan ada yang bisa menemukanku disini," gumam Thomas dengan senang.
Dia lalu bersiul dengan merdunya.
Prok..prok..
Thomas dibuat kaget mendengar suara tepuk tangan dari arah belakangnya.
"Sam.. Leo?" Thomas ternganga melihat dua keponakannya disana.
Sam tersenyum lalu berjalan mendekati Thomas.
"Paman pikir kami tidak tahu tempat ini?"
Leo ikut melangkah maju mendekati keduanya.
"Villa ini punya ibu kami kan? Kenapa paman masih menggunakan semua fasilitas milik kami? Sudah kami katakan agar paman tak lagi menggunakannya kan?"
Thomas terlihat ketakutan melihat keduanya.
"Maafkan paman! Paman tahu jika paman sudah melakukan banyak kesalahan, maafkan paman. Tolong ampuni paman."
Sam dan Leo terkekeh.
"Sekarang paman harus ikut kami."
"Kemana?"
"Tentu saja paman harus bertanggung jawab atas semua perbuatan paman." Sam menarik tangan Thomas dengan kasar.
"Ke kantor polisi?"
"Tidak paman, paman tenang saja." Leo menarik satu lagi tangan Thomas juga dengan kasar.
Thomas di seret oleh kedua kakak beradik itu.
"Lalu kalian akan bawa paman kemana?"
"Pada ibu kami, biar dia yang membalas apa yang sudah paman lakukan pada putrinya." Sam tersenyum melihat Leo.
"Bersiap-siaplah paman, bisa saja paman akan mati dihajar oleh orang-orangnya," ucap Leo sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jangan! Jangan bawa paman kesana. Bawa saja paman ke kantor polisi langsung."