Rahim Titipan

Rahim Titipan
Memulai Pembalasan Dendam 2.


__ADS_3

"Apa maksudmu?" tanya Wisnu dengan suara bergetar.


"Kamu ingat jika aku mengatakan akan balas dendam?" tanya Nisa.


Wisnu langsung melihat istrinya yang sedari tadi terlihat sangat penasaran.


"Jangan lakukan itu, kumohon." Wisnu memohon.


Nisa kembali tertawa lepas lalu menutup teleponnya.


"Ada apa?" tanya Dahlia yang penasaran.


Wisnu tidak menjawab, dia berjalan mendekati kursi lalu duduk terkulai lemah di atasnya.


Dahlia segera duduk di samping suaminya.


"Katakan padaku apa yang Nisa katakan," ucap Dahlia mendesak suaminya.


Wisnu menundukkan kepalanya sambil mengacak kasar rambutnya.


"Pendonor itu tak akan datang," ucap Wisnu pelan.


Dahlia tersentak.


"Apa maksudmu?"


"Nisa." Wisnu melihat istrinya.


Dahlia menutup mulutnya.


"Pendonor itu bersama Nisa sekarang," ucap Wisnu lagi dengan pelan penuh kesedihan.


Dahlia langsung menyandarkan tubuhnya pada kursi, dia terlihat sangat kaget.


Keduanya terdiam sejenak.


"Lakukan sesuatu, jangan biarkan Tari gagal lagi mendapatkan donor itu," Dahlia memegang tangan suaminya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Wisnu.


"Temui Nisa sekarang, tanyakan apa yang sebenarnya dia inginkan."


Wisnu terdiam.


"Kalau dia marah pada kita, minta maaf saja, katakan kalau kita sudah menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan padanya. Pokoknya katakan saja apapun yang akan membuatnya memaafkan kita," lanjut Dahlia. lagi.


"Tidak akan semudah itu," ucap Wisnu sambil kembali mengacak rambutnya.

__ADS_1


"Nisa sepertinya sudah bertekad untuk membalas dendam pada kita, dan seperti inilah caranya," tambah Wisnu lagi.


"Lalu apa kamu akan menyerah begitu saja? Pikirkan Tari Putri kita yang harus segera mendapatkan donor," jawab Dahlia dengan kesal.


"Dan sebenarnya ini juga kesalahanmu, seandainya jika bukan karena kecerobohanmu, Nisa tidak akan mengetahui semuanya, dan kita tidak akan mengalami situasi seperti ini, Tari pasti sudah sembuh dari dulu."


"Kamu menyalahkanku sekarang?" Wisnu terpancing emosi karena Dahlia menyalahkannya, dia berdiri dari duduknya.


"Kenapa kamu marah? Ini memang salahmu." Dahlia tak mau kalah, dia juga berdiri membentak suaminya.


Wisnu memelototi Dahlia, namun kemudian pergi meninggalkan istrinya ketika dia menyadari jika keduanya tengah menjadi tontonan semua orang di lobby itu.


***


Aaric dan Naina telah sampai di rumah pukul tiga sore, setelah menyapa Nenek dan Winda, keduanya segera masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat.


Naina merasa sangat kelelahan, dia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Apa kamu mau sesuatu?" tanya Aaric mendekati istrinya.


"Tidak," jawab Naina pelan.


Aaric yang duduk di samping istrinya mengecup kening Naina.


"Istirahatlah, kamu pasti kelelahan. Aku harus pergi sebentar."


"Ke kantor sebentar. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku akan kembali secepatnya."


Naina mengangguk pelan.


"Aku pergi dulu," ucap Aaric kembali mengecup kening Naina.


***


Sepanjang perjalanan Aaric terus memikirkan ucapan wanita yang berpapasan dengannya di Panti tadi.


"Siapa dia?" gumam Aaric dalam hatinya.


"Kenapa rasa-rasanya wajahnya sangat mirip dengan Naina?"


"Dan kenapa dia mengatakan itu kepadaku?"


Aaric terus bertanya-tanya dalam hatinya.


Dia sempat menduga-duga jika sebenarnya wanita itu adalah ibu kandung Naina, hal itu bisa saja terjadi karena Aaric melihat kemiripan diantara keduanya.


"Mungkinkah seperti itu?" tanya Aaric dalam hati.

__ADS_1


Tak lama dia mendapat panggilan telepon, nama Axel terpampang di layar ponselnya.


"Akhirnya kamu menelepon," ucap Aaric ketika dia mengangkat teleponnya.


"Maaf, aku tahu jika kamu marah karena tindakanku, tapi ada yang ingin aku katakan padamu dan kalau bisa aku ingin minta tolong padamu," ucap Axel di ujung telepon.


"Apa ini berhubungan dengan Tari? Karena jika memang iya, maaf aku tidak bisa membantumu, aku tidak mau lagi istriku salah paham padaku,"


"Iya ini tentang Tari, tapi tolong dengarkan aku dulu," Axel terdengar panik.


Aaric terdiam.


"Aaric, aku baru saja mendapat kabar jika pendonor itu tidak jadi mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Tari, dia bahkan sudah mengembalikan uang yang aku berikan padanya sebagai bayaran karena dia mau jadi pendonor."


"Apa?" tanya Aaric kaget.


"Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran, tapi pasti ada seseorang yang membujuknya dan membayarnya lebih mahal, aku akan mencari tahu dan sekarang sedang mencari tiket untuk kembali ke Indonesia, tapi sayangnya aku tidak mendapatkan tiket untuk hari ini atau besok, semua penerbangan penuh."


"Lalu kamu ingin aku melakukan apa?"


"Tolong cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, hubungi ayahnya Tari karena kata ibunya dia tahu sesuatu,"


Aaric terdiam. Dia terlihat ragu untuk mengiyakan karena takut jika perbuatannya ikut campur masalah Tari lagi justru akan disalahkan artikan oleh Dahlia sehingga akan kembali membuat Naina salah paham.


"Maaf Axel aku tidak bisa membantu," jawab Aaric.


"Aaric kumohon, ini masalah nyawa, Tari bisa mati jika tak segera dioperasi dalam waktu dekat ini. Jika kamu sudah tahu tolong informasikan padaku karena ayahnya Tari tidak mau memberitahuku walaupun aku sudah mendesaknya,"


Aaric terlihat galau, Axel benar, sejauh yang dia tahu jika keadaan Tari memang memburuk akhir-akhir ini, karena itu dia harus segera mendapatkan pendonor.


"Baiklah. Aku akan menghubungi Pak Wisnu dulu," jawab Aaric memutuskan untuk membantu Axel, dia hanya berharap Naina tak mengetahui hal ini atau kalaupun tahu dia berharap Naina akan mengerti dan tidak salah paham lagi.


Setelah menutup panggilan telepon Axel, Aaric segera menghubungi Wisnu keduanya lalu janjian untuk ketemuan di suatu tempat, sesudah itu Aaric lalu memberitahu sekretarisnya bahwa dia tidak jadi datang ke kantor.


Tak butuh waktu lama, Aaric sudah tiba di salah satu kafe, dimana Wisnu sudah menunggunya disana dengan wajahnya yang kusut.


Setelah bersalaman keduanya duduk, Aaric dibuat penasaran dengan raut wajah Wisnu yang terlihat sangat sedih.


"Axel sudah menceritakan apa yang terjadi, katanya anda mengetahui siapa orang yang membuat pendonor itu mengurungkan niatnya." tanya Aaric penasaran.


Wisnu melihat Aaric.


"Saya jelaskan nanti saja, karena masih ada satu orang yang kita tunggu."


"Siapa?" tanya Aaric heran.


"Apa kalian menungguku?" ucap Nisa tiba-tiba muncul di hadapan mereka sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2