Rahim Titipan

Rahim Titipan
Menghasut


__ADS_3

Winda yang baru saja pulang menemani Nenek melakukan rutinitas sore hari jalan-jalan di sekitar komplek kaget ketika disambut oleh para pembantu yang memberitahu jika Naina pingsan, keduanya segera melihat keadaan Naina yang sudah dibawa ke kamar tamu, Winda dibuat lebih kaget ketika dirinya melihat Dahlia ada disana. Setelah memastikan keadaan Naina baik-baik saja karena sudah sadar, Winda yang merasa jika Dahlia pasti penyebab dari pingsannya Naina langsung memegang tangan Dahlia dan menariknya keluar kamar.


Winda meremas tangan Dahlia dengan begitu kencangnya, hingga Dahlia meringis kesakitan.


"Lepaskan. Kamu menyakitiku." Dahlia mencoba melepaskan tangan Winda.


Winda malah semakin mengencangkan cengkraman tangannya pada lengan Dahlia.


"Apa yang kamu lakukan pada Naina?" tanya Winda sambil melotot menahan amarah.


"Aku tidak melakukan apapun."


"Bohong!!"


"Aku hanya mengatakan jika ibunya sudah kembali," ucap Dahlia dengan terus mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Winda.


"Apa maksudmu?" tanya Winda tidak mengerti.


"Ibu kandung Naina sudah kembali," ucap Dahlia lagi mengulangi perkataannya.


Winda yang kaget langsung melepaskan tangannya, dia melihat Dahlia dengan tidak percaya.


"Hanya itu saja yang aku katakan padanya, aku tidak tahu kenapa dia bisa pingsan seperti itu," ucap Dahlia sambil mengusap tangannya yang memerah.


"Ibu kandungnya?" tanya Winda lagi.


"Iya. Ibu kandung Naina yang sudah menelantarkan Naina hingga dia tinggal di Panti selama ini kini sudah kembali dan asal kamu tahu jika dulu dia tega membuang Naina demi menikahi duda kaya raya," ucap Dahlia lagi memprovokasi.


Winda tersentak kaget mendengar perkataan Dahlia.


"Aku tidak percaya dengan semua perkataanmu!"


"Kalaupun itu benar, kenapa kamu harus mengatakannya pada Naina?!" Winda kembali melihat Dahlia dengan marah.


"Karena Naina harus tahu semuanya," jawab Dahlia tergagap.


"Tapi lihat hasil perbuatanmu sekarang, Naina pingsan pasti karena mendengar semua perkataanmu!" Winda memarahi Dahlia dengan suaranya yang lantang.

__ADS_1


Dahlia terdiam karena jujur saja dia merasa takut melihat Winda yang sangat marah padanya.


"Awas saja kalau terjadi sesuatu pada kehamilannya," ucap Winda lagi dengan nada mengancam.


"Jangan salahkan aku! Lambat laun Naina pasti tahu yang sebenarnya, jika bukan dari aku pasti ada orang lain yang memberitahunya jika ternyata ibunya telah membuangnya ke Panti demi lelaki lain dan demi harta."


Plakkk...


Tiba-tiba ada seseorang dari belakang menarik lengan Dahlia lalu menampar pipinya dengan sangat keras.


Dahlia langsung memegang wajahnya yang kesakitan, namun rasa sakit itu belum seberapa dibandingkan rasa kagetnya melihat ternyata Nisa yang yang telah menamparnya berdiri di hadapannya dengan wajahnya yang terlihat sangat marah.


Bukan hanya itu, dibelakang Nisa ternyata ada Wisnu suaminya dan Aaric yang sama-sama melihat dirinya penuh amarah.


Semua orang tertegun sejenak melihat Nisa yang menampar Dahlia dengan begitu keras, terutama Winda yang dibuat kaget dengan kehadiran Nisa, orang yang tidak dikenalnya sama sekali.


Aaric lalu menghampiri ibunya.


"Dimana Naina? bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan panik.


"Dia di kamar tamu. Dia sudah sadar dan sepertinya baik-baik saja, Nenek sedang bersamanya," jawab Winda sambil menunjuk sebuah kamar yang tak jauh dari mereka.


Nisa yang merasa lega mendengar jika keadaan Naina baik-baik saja kembali melihat Dahlia di hadapannya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Jadi itu yang kamu katakan pada putriku? Aku membuangnya ke Panti karena mengejar lelaki kaya?" tanya Nisa dengan geram.


"Memang kenyataannya seperti itu kan?" jawab Dahlia dengan lantang.


Nisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis.


"Sepertinya kamu memang ingin putrimu mati."


Dahlia malah tersenyum membuat Nisa keheranan. Begitu juga dengan Wisnu yang kemudian mendekati istrinya.


"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Wisnu dengan kesal.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya lagi dengan heran.

__ADS_1


"Aku hanya ingin Naina tahu kelakuan bejat ibunya, selain sudah membuangnya ke Panti, aku ingin dia juga tahu jika ibunya juga sekarang berniat menghalangi kesembuhan Tari, dengan menyabotase si pendonor, aku ingin Naina tahu jika ibunya akan menjadi seorang pembunuh." Dahlia melihat Nisa sambil tersenyum sinis.


"Apa?" tanya Nisa tak percaya.


Wisnu memegang kepalanya, dia tak percaya dengan apa yang sudah dibuat oleh istrinya.


"Kamu mengatakan itu pada Naina?" tanya Wisnu lagi seolah ingin memastikan.


Dahlia mengangguk sambil tersenyum.


Nisa terlihat semakin marah, dia menghampiri Dahlia berniat ingin menjambak rambutnya, namun sayang Wisnu menghalanginya.


"Kurang ajar kamu." Nisa memaki Dahlia.


Dahlia terus tersenyum dengan santainya.


Winda yang sedari tadi terdiam dan memperhatikan sedikit mengerti dengan apa yang terjadi. Dia juga sedikit terhasut oleh perkataan Dahlia tentang Nisa dan keburukannya. Walaupun belum percaya sepenuhnya, namun Winda sempat berpikir dan menilai jika Nisa adalah wanita yang kejam karena tega meninggalkan Naina di Panti Asuhan hanya demi lelaki kaya, belum lagi tentang sabotase pendonor Tari yang dilakukan olehnya.


Namun sekarang Winda lebih tidak menyukai tindakan Dahlia yang telah mengatakan semua itu pada Naina, dia akhirnya mengerti kenapa menantunya itu bisa sampai pingsan. Semua cerita Dahlia pasti telah membuat Naina shock, terlebih cerita tentang dirinya yang telah dibuang ibu oleh kandungnya sendiri.


Winda mendekati Dahlia yang membelakanginya, dia menarik tangan Dahlia agar menghadap kepadanya.


"Aku tidak peduli dengan semua urusan kalian, yang aku pedulikan hanya Naina, awas saja jika akibat perbuatanmu keadaannya dan kandungannya tidak baik-baik saja!!" Winda melihat Dahlia dengan marah.


Dahlia tersenyum.


"Kamu tenang saja, Naina akan baik-baik saja."


"Baiklah, aku pergi dulu!" Dahlia berjalan melewati Winda.


Dahlia membalikkan badannya melihat Nisa.


"Oh iya. Kamu akan mengantarkan sendiri pendonor itu padaku," ucap Dahlia sambil tersenyum.


"Kamu akan melakukannya karena putrimu yang memintanya." Dahlia melambaikan tangannya pada Nisa lalu pergi meninggalkan mereka semua.


Nisa berdiri menatap kepergian Dahlia sambil mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Wisnu melihat Nisa dengan perasaan iba.


__ADS_2