
Aaric dengan terus menggenggam tangan istrinya memasuki aula tempat diadakannya pesta ulang tahun salah satu koleganya.
Kedatangan keduanya menjadi perhatian beberapa orang yang hadir disana, beberapa diantaranya terpukau akan keserasian keduanya terlebih dengan Naina yang malam itu tampil cantik dengan balutan gaun hitam yang dikenakannya.
Aaric lalu mengajak istrinya menemui tuan rumah untuk mengucapkan selamat, mereka tampak berbincang sejenak sebelum akhirnya acara pesta dimulai.
Pesta sudah dimulai dan berlangsung dengan cukup meriah, banyak tamu yang hadir dan mengucapkan selamat, sambil menikmati hidangan yang disajikan, semuanya tampak saling bertegur sapa dengan hangat dan ramah, begitu juga dengan Aaric yang banyak dihampiri beberapa orang untuk sekedar menyapanya.
Naina yang setia berdiri di samping suaminya nampak hanya bisa terus tersenyum ramah ketika orang-orang juga menyapanya, begitu juga ketika datang seorang wanita menghampiri sambil menatapnya dengan sinis.
Melihat Amanda, seorang model cantik yang dulu tergila-gila padanya datang mendekati, Aaric langsung menggenggam erat tangan istrinya, menyambut Amanda yang nampak akan menyapanya.
"Apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu." Amanda tersenyum melihat Aaric.
"Baik," jawab Aaric singkat.
Amanda melihat Naina.
"Kamu tak ingin mengenalkan aku pada istrimu?"
"Oh iya. Sayang perkenalkan ini temanku Amanda."
Naina tersenyum sambil mengangguk pelan.
Sedangkan Amanda tersenyum sinis, melihat Naina penuh dengan rasa tidak suka.
"Jadi pilihanmu jatuh kepada gadis panti ini?" Amanda mengejek Aaric, menunjuk Naina denhan jijik.
Naina dan Aaric terlihat kaget mendengar ucapan Amanda, namun kemudian Aaric berusaha agar tidak terprovokasi, dia lalu tersenyum sambil merangkul pinggang istrinya dengan erat.
"Kamu benar. Maafkan aku yang menolakmu mentah-mentah, dan lebih memilih gadis panti ini. Tapi asal kamu tahu, untuk mendapatkannya aku harus melalui perjuangan yang berat, dan aku sangat beruntung dia kini bersamaku. Bukan begitu sayang?" Aaric mencium pipi istrinya dengan mesra di hadapan Amanda.
Wajah Amanda langsung memerah menahan amarah karena secara tidak langsung Aaric telah menjatuhkan harga dirinya di hadapan Naina, dengan mengatakan jika dirinya telah ditolak mentah-mentah oleh Aaric, apalagi perkataan Aaric tadi di akhiri oleh sikap mesranya pada istrinya, semakin membuat dirinya kesal bukan kepalang.
"Kamu tahu, wanita miskin yang tidak jelas asal-usulnya ini tidak pantas berada di sampingmu," ucap Amanda terbawa emosi.
__ADS_1
Aaric lagi-lagi tersenyum.
"Dan asal kamu tahu juga diantara sekian banyak wanita yang datang menggodaku, termasuk dirimu, hanya dia yang pantas menjadi istriku," jawab Aaric dengan santai.
Amanda kehabisan kata-kata, raut wajahnya terlihat sangat kesal dan marah.
Tiba-tiba seseorang pria paruh baya datang menghampiri ketiganya, karena rupanya diam-diam dia menyimak obrolan mereka.
"Merendahkan orang lain tak menjamin dirimu lebih tinggi, siapa tahu jika sebenarnya wanita yang kamu hina itu ternyata derajatnya lebih tinggi darimu." Wisnu melihat Amanda dengan tajam. Nada bicaranya juga terdengar jika dia amat sangat marah pada wanita yang telah menghina Naina itu.
Tentu saja semuanya kaget dengan kedatangan Wisnu yang tiba-tiba terlebih dia langsung membela Naina dari perkataan Amanda yang merendahkannya. Sedangkan Naina juga tak kalah kaget bertemu kembali dengan pria yang ditemuinya di Rumah Sakit waktu itu.
Amanda terlihat malu dan serba salah, dia langsung pergi meninggalkan mereka bertiga dengan sangat kesal.
Aaric melihat Wisnu, seorang pengusaha yang juga merupakan salah satu relasi bisnisnya, selain dia juga tahu jika Wisnu adalah ayah dari Tari, mantan pacarnya.
"Terima kasih anda sudah membela istri saya. Saya tidak tahu jika anda juga hadir di pesta ini." Aaric tersenyum sambil mengulurkan tangan, hendak menyalami Wisnu.
Dengan cepat Wisnu menyambut uluran tangan Aaric, mereka bersalaman.
Wisnu melihat Naina.
Naina hanya tersenyum.
"Sekali lagi terima kasih. Istri saya memang seperti ini, hatinya terlalu baik, akan tetapi selama ada saya di sampingnya, saya akan membela dan menjaganya dari siapa saja yang ingin mengganggunya," ucap Aaric.
"Kamu memang suami yang baik, sangat terlihat jika kamu mencintai istrimu." Wisnu menepuk pundak Aaric sambil tersenyum senang.
"Sebagai ayah, jika saya mendapatkan menantu sepertimu sudah pasti akan membuat saya tenang memberikan putri saya padamu," ucap Wisnu lagi.
***
"Ada apa sayang?" tanya Aaric melihat Naina yang sedari tadi terlihat melamun.
"Tidak ada." Naina tersenyum melihat suaminya yang menyetir.
__ADS_1
"Apa karena perkataan Amanda tadi?"
Naina tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku sama sekali tidak tersinggung akan ucapan wanita itu."
"Lalu?" tanya Aaric lagi.
Naina terlihat berpikir, sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya mengenai pria paruh baya itu.
"Bapak-bapak tadi, apa kamu mengenalnya?"
"Pak Wisnu?"
"Iya."
"Dia rekan bisnisku. Memangnya kenapa?" jawab Aaric tak berencana mengatakan jika Wisnu juga adalah ayah dari Tari, mantan pacarnya.
"Ketika aku ke rumah sakit menemani Nenek beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengannya,"
"Oh ya? Terus?"
"Dia memanggilku dan tiba-tiba menanyakan siapa nama ibuku, dia bilang jika aku mirip sekali dengan istrinya yang kabur membawa putrinya sembilan belas tahun yang lalu."
"Apa?" tanya Aaric tak percaya.
Dia lalu menghentikan mobilnya, melihat Naina di sampingnya.
"Kamu yakin jika itu Pak Wisnu?"
"Iya, aku yakin sekali. Mereka orang yang sama."
Aaric terdiam. Banyak hal yang dipikirkannya terlebih jika apa yang dikatakan Naina benar maka dia heran istri mana yang dia cari sementara dia tahu jika istrinya Bu Dahlia, ibunya Tari selalu ada di sampingnya.
Belum lagi Aaric merasa heran mendengar Wisnu mengatakan jika Naina sangat mirip dengan istrinya yang kabur sembilan belas tahun yang lalu, waktu yang sangat pas dengan usia Naina saat ini.
__ADS_1
Aaric menghidupkan kembali mobilnya dan melanjutkan perjalanan pulang mereka dengan sebuah tanda tanya besar di kepalanya.
Ada hubungan apa antara Wisnu dengan Naina istrinya?