
Di Rumah Sakit
"Naina hamil?!" tanya Intan dengan kaget.
Dani mengangguk pelan.
Intan yang syok langsung menghempaskan tubuhnya pada kursi, dia langsung memegang kepala dan memijatnya perlahan.
"Padahal hanya Naina harapan satu-satunya agar Tari bisa sembuh," ucap Intan lagi dengan sedih.
"Sebelum tahu jika dirinya hamil, Naina sudah bersedia menjadi pendonor Tari, itu yang Aaric katakan padaku, dia tetap akan mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya walaupun Aaric mencegahnya," ucap Dani.
"Tapi sekarang karena kehamilannya dia tak mungkin bisa membantu," lanjut Dani melihat istrinya.
"Sayang sekali, andai saja kehamilannya tidak terjadi bulan ini," ucap Intan dengan sedih.
"Dan untuk menunggu sampai dia melahirkan nanti, aku takut jika Tari tak bisa bertahan selama itu," lanjut Intan lagi.
Dani terdiam.
***
Kedatangan Naina dan Aaric disambut bahagia oleh Nenek yang baru saja mendengar kabar kehamilannya dari Winda yang telah sampai lebih dulu.
Tentu saja Nenek dibuat sangat bahagia, akhirnya semua harapan dan impiannya untuk melihat penerus keluarga Widjaja lahir akan segera terwujud.
"Jaga kehamilanmu baik-baik Nak, istirahat yang cukup dan ingat jangan banyak pikiran apalagi stres," ucap Nenek ketika Naina pamit untuk beristirahat di kamarnya.
Naina mengangguk, tentu saja dia akan menuruti semua nasihat Nenek karena dia tahu kehamilannya ini sangat dinantikan olehnya, karena itu dia akan menjaga baik-baik kehamilannya ini.
Sesampainya di kamar, Aaric meminta Naina untuk beristirahat, dia menggiring istrinya untuk berbaring di atas tempat tidur.
"Kamu tidak kembali ke kantor?" tanya Naina heran melihat suaminya yang malah membuka jas dan dasinya disusul dengan membuka kancing kemejanya
"Tidak. Hari ini aku sangat bahagia, aku ingin bersamamu seharian ini," jawab Aaric yang kini sudah bertelanjang dada mendekati istrinya dan menariknya untuk berbaring di atas kasur.
Keduanya saling berpelukan di atas tempat tidur.
"Sayang." Naina memanggil suaminya.
"Ya," jawab Aaric.
"Lalu bagaimana dengan masalah donor itu?"
Aaric tertegun.
Naina melepaskan diri dari pelukan suaminya, dia lalu beranjak duduk melihat Aaric yang berbaring.
"Apa dia akan meninggal jika tidak mendapatkan donor sumsum tulang belakangku?" tanya Naina lagi.
Aaric segera bangun untuk duduk, dia menatap Naina yang kini duduk tepat di depannya.
__ADS_1
"Sudah aku katakan jika masih banyak cara pengobatan lain agar dia bisa sembuh, lebih baik mulai sekarang kamu tidak usah memikirkannya lagi, ingat kata dokter jika kamu tidak boleh stres."
"Aku hanya takut jika dia tetap akan meninggal dan itu gara-gara aku."
"Tidak sayang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku yakin pasti kedua orang tuanya akan mengusahakan yang terbaik agar dia bisa sembuh."
"Sudah sekarang kamu tidak usah berpikir tentangnya lagi, sekarang kita fokus saja pada kehamilanmu," ucap Aaric lagi.
"Aku ingin seperti itu, tapi rasanya tidak bisa, karena biar bagaimanapun dia adalah saudaraku, aku ingin dia sembuh, " jawab Naina sedih.
"Aku tahu kalau dia saudaramu, tapi yang ada di dalam perutmu ini adalah anakmu, anak kita. Aku yakin jika kamu sangat menyayangi anak ini melebihi apapun, tapi jika kamu banyak pikiran seperti ini apalagi sampai stres, ingat kata dokter jika kita bisa saja kehilangannya," ucap Aaric sambil membelai perut istrinya.
Mendengar perkataan suaminya, Naina terlihat kaget dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau kehilangan anak kita, itu jangan sampai terjadi." Naina memegang perutnya
"Karena itu berhentilah memikirkan orang lain, aku tahu kamu kasihan pada kakakmu, tapi yakinlah jika ayahmu pasti akan mencari jalan pengobatan lainnya agar dia bisa sembuh, kita hanya bisa membantu dengan mendoakannya," ucap Aaric.
Naina mengangguk.
***
"Kamu mau kemana?" tanya Wisnu penasaran melihat Dahlia yang bersiap untuk pergi.
"Aku akan ke rumah Naina, menemuinya untuk memohon padanya agar dia mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Tari."
"Sebaiknya jangan! Kita tunggu beberapa hari lagi, mungkin saja mereka akan berubah pikiran, kita biarkan dulu mereka untuk berpikir sebentar." Wisnu mencegah Dahlia untuk pergi.
"Tentu saja aku tahu, tapi jika kita terus mendesak, akan sangat terlihat sekali jika kita memang hanya ingin memanfaatkan Naina saja."
"Kalau begitu kita katakan saja yang sebenarnya!" tantang Dahlia yang sudah terlanjur emosi.
"Apa maksudmu?" tanya Wisnu heran.
"Kita katakan saja jika Naina memang dilahirkan hanya untuk mengobati Tari," jawab Dahlia.
"Kamu akan mengatakan itu padanya?" tanya Wisnu tak percaya.
"Iya! Aku akan katakan itu agar dia tahu dia tidak akan lahir kalau bukan karena aku yang menyuruhmu menikahi ibunya."
"Jika kamu mengatakan itu malah akan membuatnya semakin tidak ingin mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Tari." Wisnu terlihat emosi.
"Justru kalau dia berpikir dia harus mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya, dia harus berterima kasih kepadaku dengan itu," jawab Dahlia.
"Pikiranmu sudah kacau, mana mungkin Naina akan mau jadi pendonor jika dia tahu dia dilahirkan hanya untuk menjadi penawar bagi penyakit Tari, itu akan sangat menyakiti hatinya."
Dahlia tertegun sejenak, sesaat kemudian dia langsung melemparkan tasnya ke atas sofa dengan kesal.
"Pikiranku memang sudah kacau," ucap Dahlia sambil duduk di atas sofa sambil memegang kepalanya.
Wisnu menghampiri istrinya, dia duduk di samping Dahlia.
__ADS_1
"Aku sangat mengerti perasaanmu sekarang," ucap Wisnu.
"Aku hanya takut jika Naina tetap tidak mau menolong Tari sedangkan hanya dia harapan satu-satunya agar Tari bisa sembuh," jawab Dahlia pelan.
"Sebenarnya aku juga merasa seperti itu, tapi aku tidak terlalu yakin karena aku lihat jika Naina memiliki hati yang lembut, entah mengapa aku yakin jika dia akan mau menolong kakaknya."
Dahlia nampak kaget mendengar perkataan suaminya.
"Benarkah seperti itu?" tanya Dahlia senang.
Wisnu mengangguk.
"Aku harap kamu benar, Naina mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Tari, karena biar bagaimanapun Tari adalah kakaknya," ucap Dahlia dengan senang.
***
Keesokan harinya.
"Apa kita akan kedatangan tamu?" tanya Naina heran melihat Ibu mertuanya tengah sibuk menata meja makan.
"Iya sayang, kita akan kedatangan tamu istimewa dan kita akan menjamunya dengan makan malam bersama. Oh iya suamimu juga sebentar lagi pulang, ibu sudah menyuruhnya untuk pulang cepat hari ini."
"Memangnya siapa tamunya? Sepertinya istimewa sekali." Naina terlihat sangat penasaran.
"Nanti kamu akan tahu sendiri," ucap Winda sambil tersenyum.
Naina semakin dibuat penasaran.
Tak lama Aaric pulang, dia yang juga tidak tahu siapa tamu yang akan datang hanya menurut saja ketika ibunya menyuruhnya untuk bersiap.
Malam hari.
Naina dan Aaric dibuat terkejut melihat tamu yang diundang ibunya ternyata adalah Wisnu dan istrinya.
Dahlia dengan sumringah langsung menyapa Naina bahkan memeluknya, begitu juga dengan Wisnu yang bersikap sangat baik kepada Aaric.
"Kami sangat senang anda mengundang kami untuk makan malam," ucap Dahlia dengan berseri-seri kepada Winda.
"Tentu saja karena kita harus menjaga hubungan baik diantara kita, karena biar bagaimanapun kita adalah besan," jawab Winda tak kalah senang.
Dahlia dan Wisnu terlihat sangat bahagia, mereka seakan diberi harapan jika Naina bersedia menjadi pendonor Tari.
"Tujuan kami mengundang kalian adalah ingin menyampaikan kabar bahagia kepada kalian berdua," ucap Winda melihat Dahlia dan Wisnu bergantian.
"Oh ya? Apa itu?" jawab Dahlia tidak sabar.
"Kita akan menjadi Nenek!" jawab Winda setengah berteriak dengan senangnya.
"Naina sedang hamil sekarang! Kalian pasti senang kan karena akan segera menjadi kakek dan nenek?" tanya Winda sambil tersenyum melihat Dahlia dan Wisnu.
Dahlia dan Wisnu tampak kaget dan syok, keduanya saling berpandangan.
__ADS_1