Rahim Titipan

Rahim Titipan
Terungkap Semuanya.


__ADS_3

Semua orang melihat layar proyektor yang mulai menayangkan sesuatu.


Dimulai dari video Sam dan Leo yang sedang bersenang-senang di sebuah klub malam, keduanya tampak sibuk mabuk-mabukan dan bermain wanita.


Bukan hanya satu kali, video itu menunjukkan jika mereka berdua melakukannya hampir tiap malam, video itu terus memutar kelakuan dua kakak beradik itu dari hari ke hari, melewati bulan dan tahun, sesuai tanggal yang tertera jelas di keterangan video, hingga tayangan terakhir yang diambil kemarin malam.


Sam dan Leo tampak celingukan serba salah melihat kelakuan mereka ternyata ada yang merekam.


Video selanjutnya menunjukkan Sam dan Leo keluar masuk hotel dengan berganti-ganti wanita, meskipun keduanya diketahui sudah menikah dan punya anak, namun rupanya itu tak menyurutkan hasrat mereka untuk tetap menikmati wanita lain. Seperti sebelumnya keduanya dari dulu sudah melakukan itu hingga terakhir kali itu juga dilakukan kemarin malam.


Nisa tersenyum melihat semua orang.


"Kalian lihat itu, itulah yang dilakukan pewaris perusahaan ini tiap hari."


"Umur yang sudah tua tidak membuat mereka semakin dewasa dan berpikir, yang hanya ada dipikiran keduanya hanya bersenang-senang dan menikmati hidup dengan harta ayah mereka."


Semua orang terlihat kaget, terutama Thomas yang tak menyangka jika situasinya justru akan berbalik seperti ini.


Sementara Sam dan Leo terlihat mengeluarkan keringat dingin, Sam berinisiatif untuk mematikan proyektor namun beberapa bodyguard Nisa menghalanginya.


Adegan selanjutnya adalah Nisa yang terlihat ditemui oleh beberapa wanita dan memberikan sebuah cek pada mereka.


Leo dan Sam tampak kaget mengenali wanita-wanita yang diberikan cek oleh Nisa.


"Uang yang kalian berikan pada mereka rupanya masih dirasa kurang, tanpa kalian tahu jika wanita-wanita itu merekam semua adegan mesra kalian di dalam kamar, dan setelah itu mereka memerasku, mengatakan akan menyebarkan video itu untuk mempermalukan ayah kalian. Aku terpaksa membayar uang yang mereka minta agar ayah kalian tidak tahu dan keluarga kalian tetap utuh, aku melakukan itu karena kasihan pada anak-anak kalian saja."


Sam dan Leo terlihat sangat malu.


Kemudian, tayangan berikutnya memperlihatkan Della, mantan istri Leo. Dia terlihat sedang berjalan menuju hotel lalu masuk ke sebuah kamar dengan terburu-buru.


Leo memicingkan matanya.


"Apa ini?" tanya Leo melihat Nisa.


"Kamu lihat saja sendiri." Nisa menjawab dengan santainya.


Lalu terlihat sebuah adegan dari kamera tersembunyi, Della yang tengah berciuman mesra dengan seorang pria yang hanya terlihat punggungnya saja, adegan selanjutnya diburamkan karena menunjukkan adegan dewasa.


Leo tampak shock hingga membuatnya mundur beberapa langkah, dia tidak percaya jika ternyata istrinya telah tega mengkhianatinya.


"Siapa pria itu?" tanya Leo tiba-tiba sambil melihat Nisa dengan marah.


"Kamu akan tahu sendiri nanti."


Setelah adegan di percepat, layar menunjukkan dengan jelas sosok pria yang menjadi selingkuhan Della.


Leo terperanjat, begitu juga dengan semua orang, mereka langsung melihat Thomas yang sedari tadi sudah gemetar ketakutan.


"Pa..paman?" tanya Leo sambil melihat pamannya.


"Ini semua tidak benar. Wanita itu merekayasa semuanya." Thomas berdiri.


Sam langsung menghampiri pamannya lalu memukul wajahnya dengan sangat keras.


Thomas jatuh tersungkur ke lantai.


Sementara Leo terduduk lemas di kursi, dia lalu mengerti kenapa Nisa memisahkannya dari Della.

__ADS_1


Leo meremas rambutnya dengan kasar, dia terlihat sangat frustasi, marah dan kecewa.


"Kalian juga harus tahu ini," ucap Nisa sambil menunjuk layar proyektor.


Sam dan Leo kembali melihat layar.


Terlihat sebuah tayangan yang diambil dari kamera tersembunyi Thomas sedang berbicara dengan beberapa orang di sebuah ruangan, mereka semua tengah mengobrol santai.


"Sam dan Leo yang akan melengserkan Nisa di perusahaan ini, dengan bantuan kalian tentunya Nisa akan turun dari jabatannya. Maka perusahaan akan menjadi milik kedua keponakanku dengan surat wasiat palsu ini, tapi tetap aku yang akan mengendalikannya," ucap Thomas dengan diiringi suara tertawanya.


Semua orang ikut tertawa.


"Kedua keponakanku itu tidak akan tahu caranya mengurus perusahaan, karena mereka selama ini tidak pernah bekerja dengan benar, yang mereka tahu hanya bersenang-senang saja. Karena itu pelan-pelan aku akan mengambil alih kemudi perusahaan tapi mereka tidak akan curiga karena mereka sangat mempercayaiku."


Sam dan Leo kembali melihat Thomas yang memegang wajahnya kesakitan.


"Maka perlahan juga aku akan mengambil semua milik mereka, maka impianku selama ini untuk menjadi direktur di perusahaan ini akan menjadi kenyataan. Kalian tenang saja karena kalian pasti juga akan diuntungkan." Thomas pada tayangan itu terlihat tertawa dengan senang.


Sam kembali menghampiri Thomas lalu memukul wajahnya lagi, kali ini Leo membantu kakaknya sehingga keduanya memukuli Thomas dengan bertubi-tubi.


Sementara orang-orang yang terlibat di dalam video tadi langsung terlihat ketakutan, mereka semua tampak sudah berkeringat dingin.


"Itulah yang terjadi sebenarnya," ucap Nisa sambil berdiri.


"Ayah kalian yang rupanya sudah tahu niat buruk paman kalian dari dulu tidak ingin kalian masuk ke dalam perangkapnya, karena itu beliau memberikan perusahaan ini atas namaku."


"Tapi karena sekarang kalian sudah tahu yang sebenarnya, maka aku berniat memberikannya kembali pada kalian, kalian benar. Semua ini memang bukan hakku, tapi hak kalian."


Leo dan Sam melihat Nisa dengan penuh rasa bersalah.


Nisa memberikan beberapa berkas pada keduanya.


Leo dan Sam menerima semua berkas itu dengan melongo.


"Dan mengenai saham, pengacara akan mengurusnya, saham itu akan aku bagi dua pada kalian."


Nisa melihat semua orang.


"Mulai saat ini, kepemimpinan aku serahkan pada mereka berdua, maaf jika selama aku memimpin melakukan banyak kesalahan. Terima kasih dan sampai bertemu lagi." Nisa membungkuk pada semuanya.


Semua orang tampak terharu dan langsung berdiri dan menganggukan kepala mereka.


Nisa lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dengan diikuti oleh asisten juga para bodyguardnya.


Leo dan Sam buru-buru menyusul Nisa.


"Tunggu dulu."


Nisa membalikkan badannya.


Leo dan Sam mendekatinya.


"Maafkan kami," ucap keduanya dengan lirih.


Nisa tersenyum dan hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


***

__ADS_1


Aaric menemani Naina yang sudah ketemuan dengan Nisa di sebuah Kafe, keduanya berjalan sambil berpegangan tangan.


Rupanya Nisa sudah menunggu disana, Naina langsung menghambur memeluk ibunya yang sudah membuka tangannya lebar.


Ketiganya lalu duduk dan berbincang santai.


"Mama, boleh aku minta dibelikan sesuatu?" tanya Naina tiba-tiba.


"Beli apa sayang?"


Naina melihat suaminya sambil tersenyum.


"Kata suamiku uang mama sangat banyak, mama bahkan lebih kaya dari kami."


Nisa terdiam.


"Sayang. Kamu harus tahu sesuatu. Sekarang mama tidak kaya lagi."


Naina tertegun sejenak.


"Mama bangkrut?"


Nisa mengangguk sambil tersenyum.


"Iya sayang mama bangkrut, sekarang mama tidak punya apa-apa lagi," ucap Nisa berpura-pura sedih.


Naina langsung memegang tangan ibunya.


"Tidak apa-apa mah. Suamiku orang kaya, mama bisa tinggal bersama kami, iya kan sayang?" Naina melihat suaminya.


Aaric langsung mengangguk sambil tersenyum, dia yang sudah mengetahui semua karena Nisa yang bercerita padanya merasa lucu melihat reaksi Naina ketika mengetahui jika ibunya sudah tidak punya apa-apa lagi, padahal sebenarnya ibu mertuanya tidak jadi semiskin itu sekarang, walaupun tidak sekaya dulu, tapi dia masih mempunyai usaha yang didirikannya sendiri yang kini berjalan dengan sukses.


"Memangnya kamu ingin mama belikan apa sayang? Mama masih ada uang walaupun tidak banyak."


"Benarkah?" tanya Naina memastikan.


Nisa langsung tersenyum.


"Baiklah, aku ingin mama membelikanku kuncir rambut," jawab Naina sambil memegang rambutnya.


"Apa? Kuncir rambut?" tanya Nisa kaget.


Aaric yang kaget mengetahui keinginan Naina langsung tersenyum merasa lucu karena keinginan simpel istrinya.


"Tadinya aku ingin mama membelikanku kuncir rambut satu toko, tapi karena mama sekarang sudah tidak kaya lagi, cukup belikan saja aku sepasang kuncir rambut."


"Kenapa kamu ingin mamamu membelikanmu kuncir rambut?" tanya Aaric heran.


Naina yang akan menjawab terlihat kaget karena tiba-tiba Nisa memeluknya sambil menitikkan air matanya.


"Mama akan membelikanmu kuncir rambut yang banyak sayang," ucap Nisa sambil terisak.


Naina ikut menitikkan air mata.


Nisa baru teringat jika di setiap foto Naina kecil, dia selalu menggunakan kuncir rambut yang sama setiap hari.


Sedangkan Naina mengingat masa kecilnya dimana dia berangan-angan ingin memiliki banyak kuncir rambut karena dia sangat menyukainya.

__ADS_1


Dia ingin seperti anak-anak lain di sekolahnya dimana mereka bergonti-ganti memakai kuncir rambut setiap hari karena dibelikan oleh ibu mereka.


__ADS_2