Rahim Titipan

Rahim Titipan
Salah Paham.


__ADS_3

"Ternyata Aaric masih peduli pada Tari," ucap Dahlia dengan senang pada suaminya setelah beberapa dokter itu pergi.


Wisnu tertegun, dia seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Rupanya dia ke Jerman mencari pendonor Tari, aku sungguh tak menyangka," tambah Dahlia lagi.


"Dia melakukannya pasti karena simpati saja, jangan berpikiran lebih dari itu." Wisnu melihat istrinya.


"Tapi aku yakin jika dia melakukannya karena sebenarnya masih mencintai putri kita."


"Jangan seperti itu, ingat Aaric sudah menikah."


"Memangnya kenapa kalau dia sudah menikah, kalau Aaric dan putri kita masih saling mencintai, tidak salah kan jika keduanya kembali bersama."


Wisnu terperanjat mendengar perkataan Dahlia.


"Kamu jangan seperti itu, ingat biar bagaimanapun Naina adalah putriku, aku tidak ingin dia ditinggalkan oleh suaminya apalagi keadaannya sedang hamil sekarang."


Dahlia tak percaya mendengar perkataan suaminya.


"Jadi sekarang kamu lebih mementingkan kebahagiaan Naina daripada Tari?"


"Sama saja, keduanya sama pentingnya untukku karena keduanya darah dagingku."


"Hah?! Apa? Jadi kamu menyayangi Naina sekarang? Menyamakannya posisinya dengan Tari??" tanya Dahlia tak percaya.


"Iya, kamu benar! Di mataku keduanya sama, aku ingin keduanya hidup bahagia, terlebih lagi Naina karena dia sudah banyak menderita."


Lagi-lagi Dahlia dibuat tercengang mendengar perkataan suaminya namun dia tak bisa mengatakan apapun lagi karena ada beberapa perawat yang lewat ke hadapan mereka.


Wisnu lalu pergi meninggalkan istrinya yang sangat marah, dia tahu jika terus berada disana mereka berdua akan terus berdebat dan untuk kali ini dia tidak ingin kalah seperti biasanya, demi untuk menebus semua kesalahannya pada Naina, karena telah hidup menderita selama hampir sepanjang hidupnya, kali ini dia bertekad untuk menyayangi putrinya itu dengan tulus dan memastikan jika Naina harus hidup bahagia dengan rumah tangganya.


***


Dua Minggu berlalu, Aaric akhirnya kembali ke tanah air, dia yang sudah sampai di Bandara berjalan tergesa-gesa menuju mobil dimana sopir sudah menunggunya.


Aaric terlihat sudah tidak sabar lagi untuk sampai di rumah, kepulangannya hari ini tidak ada seorangpun yang dia beri tahu, termasuk itu istrinya sendiri, dia ingin memberikan suprise kepada tiga orang wanita yang sangat dicintainya, terlebih sang istri yang sedang hamil.


Akhirnya dia sampai di rumah, dengan berjalan tergesa-gesa Aaric memasuki rumah , dia tahu jika di waktu sore hari seperti ini biasanya Nenek dan ibu serta istrinya pasti sedang bercengkrama santai di halaman belakang rumah.


Namun rupanya dia salah, ternyata semuanya sedang ada di ruang tamu, merasa kaget karena rupanya Dahlia sedang berkunjung ke kediamannya.


Aaric mengerutkan keningnya, karena tak ada satupun yang menyambut bahagia kedatangannya, dia dibuat heran melihat raut wajah Nenek dan ibu serta istrinya yang melihatnya dengan kesal.


"Aaric. Kamu sudah pulang?" Dahlia menghambur memeluk Aaric dengan senang.

__ADS_1


Aaric semakin dibuat heran sambil terus melihat Naina yang terlihat sedih.


"Ada apa ini?" tanya Aaric sambil melepaskan diri dari pelukan Dahlia.


"Tante senang rupanya kamu sudah pulang dari Jerman, jadi Tante bisa mengucapkan rasa terima kasih Tante secara langsung padamu."


"Terima kasih?"


"Iya. Terima kasih karena berkat kamu akhirnya Tari bisa sembuh dari penyakitnya."


"Apa?"


"Terima kasih karena kamu sudah bersusah payah mencari pendonor yang cocok hingga harus jauh-jauh pergi ke Jerman," ucap Dahlia lagi.


Aaric terdiam, tampak sedikit mengerti maksud ucapan Dahlia.


"Maaf Tante, sepertinya ada salah paham disini, bukan aku yang mencari pendonor itu," ucap Aaric mencoba menjelaskan.


"Kamu tidak usah berpura-pura lagi, Tante tahu jika kamu yang melakukannya."


"Bukan Tante, bukan aku, tapi Axel."


"Tante tak bisa kamu bohongi lagi. Tante tahu jika sebenarnya kamu masih menyayangi Tari, karena itu kamu berusaha keras mencari pendonor yang cocok untuknya,"


"Ada kesalahpahaman disini, bukan aku yang mendapatkan pendonor itu, tapi Axel." Aaric melihat Naina.


Naina hanya diam tak menjawab, membuat Aaric semakin frustasi, dia lalu merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel dan langsung menghubungi seseorang.


Aaric berjalan mondar-mandir sambil terus mencoba menghubungi seseorang namun tak kunjung diangkat.


"Sial!" Aaric terlihat geram karena Axel tak kunjung mengangkat teleponnya.


Winda dan Nenek hanya bisa terdiam tak bisa mengatakan apapun, mereka terlihat bingung harus mempercayai siapa.


Dahlia kembali mendekati Aaric.


"Tante mengerti jika kamu tidak ingin istrimu tahu jika kamu masih memperdulikan Tari, tapi sebaiknya kamu jujur saja padanya, karena lambat laun Naina pasti tahu, biar bagaimanapun Tari adalah kakaknya," ucap Dahlia.


"Sudah kukatakan berapa kali jika kejadiannya tidak seperti itu," ucap Aaric dengan kesal.


"Itu benar. Kenapa kamu tidak jujur saja?" ucap Naina tiba-tiba mengagetkan Aaric.


Aaric langsung melihat istrinya.


"Sayang percaya sama aku, itu semua Axel yang melakukannya," ucap Aaric memohon.

__ADS_1


"Kenapa kamu terus mengelak, kami sudah melihat buktinnya," ucap Naina sambil mengangkat selembar kertas.


"Harusnya kamu senang karena sudah melakukan kebaikan, terlebih pada kakakku, berkat kamu akhirnya dia akan sembuh." Naina melihat suaminya tajam.


"Sayang.." Aaric menghampiri istrinya, namun kemudian Naina malah melengos pergi meninggalkan mereka semua, membuat Aaric segera menyusul istrinya.


Dahlia menahan senyum melihat Naina yang sepertinya terpancing emosi.


"Aku tahu tujuan anda sebenarnya, ingin mengganggu rumah tangga mereka berdua dan berharap jika Aaric akan kembali pada Tari," ucap Winda tiba-tiba sambil menghampiri Dahlia.


Dahlia tersenyum.


"Putra-putri kita masih saling mencintai, terbukti dengan Aaric yang diam-diam mencari pendonor agar Tari bisa sembuh, sebaiknya mulai saat ini kita menjalin hubungan dengan baik karena mungkin saja kita akan menjadi besan," ucap Dahlia dengan ramah.


Winda tersenyum.


"Sayang sekali itu tak akan mungkin terjadi, menantuku hanya Naina, tak akan ada yang bisa menggantikan posisinya,"


***


Aaric memasuki kamar menyusul Naina yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Sayang, dengarkan aku dulu," ucap Aaric mencoba memegang istrinya.


Naina menangkis tangan Aaric.


"Aku tidak apa-apa," ucap Naina menahan tangis sambil menatap wajah suaminya.


"Sayang, bukan aku," ucap Aaric menggeleng-gelengkan kepalanya.


Keduanya saling bertatapan.


"Harusnya kamu jujur jika kepergianmu kesana untuk mencari pendonor," ucap Naina dengan air mata yang merembes keluar dari kedua kelopak matanya.


"Tidak, aku kesana memang untuk bisnis, tolong percaya padaku," Aaric kembali mencoba memegang tangan istrinya.


Lagi-lagi Naina menangkisnya pelan, kemudian menyeka air mata di pipinya.


"Seandainya kamu jujur mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Apapun yang melatarbelakangimu menolongnya seharusnya kamu jujur saja, kalau seperti ini aku merasa jika kamu sebenarnya diam-diam masih mencintainya,"


"Tidak. Kamu salah, aku benar-benar sudah melupakannya,"


Naina tersenyum.


"Kamu tahu jika sekarang aku meragukan semua ucapanmu," jawab Naina pelan.

__ADS_1


__ADS_2