Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kebimbangan Wisnu.


__ADS_3

Wisnu terlihat termenung sambil menatap secarik kertas di depannya.


Dia mengingat kembali kejadian di pesta tadi, saat dengan jelas dirinya mendengar Naina dihina dan direndahkan serta dianggap tidak cocok untuk mendampingi Aaric, pengusaha muda yang juga kebetulan adalah mantan pacar dari putri kesayangannya, Tari.


Wisnu menghela napas sambil mengambil kembali secarik kertas yang sedari tadi di tatapnya. Membaca ulang kembali poin penting disana yang mengatakan jika persentase kecocokan antara DNA dirinya dengan sampel yang diuji dimana itu adalah rambut Naina cocok 99.9 %, dengan kata lain jika benar Naina adalah putri kandungnya.


Rupanya firasatnya saat pertama kali melihat Naina di Rumah Sakit waktu itu memang benar, nalurinya mengatakan jika wanita yang secara tidak sengaja berpapasan dengannya adalah putri yang selama ini dia cari.


Mungkin itu juga tak lepas dari ikatan batin keduanya, biar bagaimanapun dirinya seorang ayah pasti akan mengenali putrinya sendiri walaupun mereka belum pernah bertemu sama sekali.


Hasil tes DNA yang kini dipegangnya menjadi penguat jika dugaannya benar, Naina adalah putri kandungnya, anak yang dilahirkan oleh Nisa, istri sirinya yang selama hampir 19 tahun menghilang.


Kini, berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya, perasaan yang baru saja dia rasakan ketika tidak sengaja mendengar putri kandungnya sendiri dihina dan direndahkan orang lain di depan matanya sendiri.


Wisnu yang awalnya merasa senang karena akhirnya bisa menemukan putrinya kini amat sangat merasa bersalah, dia terlalu bahagia hingga lupa jika Naina selama ini telah hidup menderita.


Tinggal di Panti pasti bukan sesuatu yang mengenakkan bagi siapa saja, termasuk Naina. Bahkan putrinya itu harus hidup disana hampir sepanjang usianya, hingga Wisnu tak bisa membayangkan betapa putrinya itu pasti telah banyak mengalami banyak kesusahan dan kekurangan disana. Tak sama dengan dirinya dan keluarganya yang hidup dengan bergelimang harta serba berkecukupan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dahlia yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja suaminya.


"Tidak ada." jawabnya sambil melipat kertas di tangannya.


Dahlia menghampiri suaminya.


"Kamu tahu aku tidak bisa tidur, saking merasa bahagia mengetahui jika akhirnya putri kita akan sembuh," ucap Dahlia berseri-seri sambil duduk di kursi di depan suaminya.


"Iya. Aku juga," jawab Wisnu.


"Tapi ada sesuatu yang menjadi masalah sekarang" Dahlia tiba-tiba terlihat sedih.


"Apa?" tanya Wisnu penasaran.


"Putrimu itu ternyata sudah menikah, tapi kenapa harus Aaric yang menjadi suaminya."

__ADS_1


Wisnu menghela napas.


"Iya. Kamu benar, takdir memang seperti mempermainkan kita. Kedua putriku mencintai lelaki yang sama."


"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kita harus jujur pada Tari mengenai Naina?"


Wisnu menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik jangan, jangan sampai Tari tahu jika Naina adalah adiknya yang menikah dengan lelaki yang dicintainya."


"Lalu apa rencanamu?"


"Aku akan segera menemui Aaric untuk mengatakan yang sebenarnya."


Dahlia terdiam.


"Setelah itu baru mengatakannya langsung pada Naina jika aku adalah ayah kandungnya."


Dahlia mengangguk.


"Pasti tidak akan mudah karena pasti dia bertanya banyak hal, terutama mengenai ibunya."


"Aku tahu, kamu harus meyakinkannya agar dia mau menolong kakaknya karena hanya dia harapan satu-satunya," ucap Dahlia penuh harap.


"Tapi pernahkah kamu merasa jika kita kejam padanya? Terutama aku yang membuatnya lahir ke dunia hanya untuk dijadikan penawar penyakit Tari, belum lagi aku juga mencarinya selama ini juga karena demi kesembuhan Tari, tidak seperti seorang ayah yang seharusnya mencari putrinya karena merindukannya." Wisnu terdengar sangat merasa bersalah.


"Apa yang ada di pikiranmu sekarang? apa kamu mulai menyayanginya?"


"Kamu benar, selain itu aku mulai merasa bersalah padanya," jawab Wisnu.


Dahlia terperanjat


"Kumohon jangan seperti itu, ingat rencana awal kita yang ingin menyembuhkan Tari." Dahlia menahan tangis melihat suaminya yang mulai bimbang.

__ADS_1


"Tentu saja aku ingat, Tari tetap harus sembuh, tapi aku harus bersikap adil juga pada Naina, bagaimanapun dia juga darah dagingku, aku harus menyayanginya seperti aku menyayangi Tari."


"Mengenai donor sumsum tulang belakang itu, aku tidak akan memaksa Naina, biarkan dia sendiri yang memutuskannya," lanjut Wisnu.


***


Aaric yang libur, lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Naina di dalam kamarnya, mereka berdua nampak sedang bersantai sambil menonton televisi.


Aaric yang tidur di pangkuan istrinya sibuk memainkan ponselnya, sementara Naina fokus menonton acara drama favoritnya di televisi.


Aaric yang bosan menyimpan ponselnya, lalu menatap Naina yang seakan larut terbawa cerita acara yang di tontonnya.


"Serius sekali." Aaric membelai wajah istrinya.


Naina tak menggubrisnya, dia tetap fokus melihat televisi.


"Sayang.." Aaric terus menggoda istrinya.


Naina tetap tak menghiraukan Aaric. Masih tetap fokus melihat layar televisi.


Aaric mulai menyerah dan berniat membiarkannya , dia yang berbaring dan menjadikan paha istrinya sebagai bantal memiringkan tubuhnya, menghadap perut istrinya lalu mengelusnya perlahan.


"Apa di dalam sini sudah ada anak papa?" gumam Aaric.


"Sepertinya sudah ada." jawab Aaric sendiri.


"Tok..tok.. tok.. Permisi apa anak papa ada disana?" Aaric mengetuk perut istrinya seolah itu adalah pintu.


Naina yang mulai terusik tersenyum geli mendengar suaminya yang bermain-main dengan perutnya.


"Kalau kamu sudah ada disini, papa cuma ingin bilang kalau papa sayang sama kamu, baik-baik ya kamu disana, papa dan mama sangat menyayangimu." Aaric mencium perut Naina berkali-kali.


Naina mengelus rambut suaminya.

__ADS_1


"Iya papa, aku juga sayang sama papa," ucap Naina sambil tersenyum.


__ADS_2