Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kesedihan Naina.


__ADS_3

Aaric masuk ke dalam dan langsung menghampiri Naina yang ternyata memang sudah sadar.


Satu-persatu pegawai rumah yang sedari tadi menemani Naina segera keluar dari kamar itu, kini hanya tinggal nenek saja.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Aaric sambil memegang tangan istrinya.


Naina menggeleng pelan.


"Nenek sudah menghubungi dokter kandungannya, sebentar lagi dia akan kesini," ucap Nenek.


"Tidak usah. Aku tidak apa-apa." Naina berusaha untuk duduk.


"Jangan duduk dulu berbaringlah sayang."


"Tidak. Aku mau duduk." Naina meminta suaminya untuk membantunya duduk.


Naina sudah duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada bantal. Wajahnya terlihat sangat sedih.


"Kamu tetap harus diperiksa dokter sayang," ucap Aaric dengan khawatir.


Naina terdiam.


Aaric menggenggam tangan istrinya erat.


"Sayang. Apa yang terjadi?" tanya Aaric dengan lembut.


Naina menatap wajah suaminya dengan sendu.


"Ibu Dahlia bilang kalau ibuku sudah kembali," jawab Naina pelan.


Nenek yang kaget langsung melihat Aaric.


Namun berbeda dengan Aaric yang nampak tak terkejut mendengar jawaban Naina dan pastinya membuat istrinya itu curiga.


"Apa kamu sudah tahu?" tanya Naina menduga-duga.


Aaric tak segera menjawab. Dia nampak bingung untuk menjawabnya.


"Jadi kamu sudah tahu rupanya," ucap Naina dengan yakin.


"Sayang lebih baik sekarang kamu tidak usah memikirkan hal itu dulu," ucap Aaric.


"Suamimu benar Nak. Untuk sekarang kamu tidak usah memikirkannya, kondisimu sedang lemah saat ini, tunggu kamu pulih dan kita akan membicarakan hal ini bersama." Nenek memberi saran.

__ADS_1


Naina menganggukan kepalanya.


Tak berapa lama dokter kandungan datang dan langsung memeriksa keadaan Naina, Nenek dan Aaric dibuat lega ketika dokter memberi tahu keduanya jika keadaan Naina dan kandungannya baik-baik saja.


Dokter juga menyarankan agar Naina melakukan bedrest, kondisi kehamilannya yang lemah membuat Naina harus banyak beristirahat juga terhindar dari banyaknya pikiran apalagi stres.


Diluar kamar.


Wisnu baru saja pergi berniat akan menyusul istrinya, sementara Nisa masih disana dan duduk dengan risau, Winda memperhatikannya dengan seksama.


"Apa semua yang dikatakan Nyonya Dahlia itu benar?" tanya Winda.


Nisa langsung melihat Winda.


"Tentu saja tidak," jawab Nisa.


"Lalu?"


Nisa menghela napas panjang.


"Tanya saja pada putramu, dia sudah tahu semuanya." Nisa berdiri.


Dahlia ikut berdiri.


"Anda akan pergi?"


"Tolong jaga putriku baik-baik."


"Anda tak ingin menemuinya dulu?"


"Bukan ide bagus menurutku dengan situasi seperti saat ini. Nanti saja setelah kondisinya membaik aku pasti akan kembali lagi kesini dan memberitahunya fakta yang sebenarnya."


"Baiklah."


***


"Naina sedang mengandung cucuku dan kamu hampir membuatnya kehilangan bayinya?" Wisnu melihat Dahlia dengan sangat marah.


"Apa? Cucumu?" tanya Dahlia tak percaya.


"Iya. Cucuku! Keturunanku! Darah dagingku!! Asal kamu tahu jika aku sangat bahagia karena akan segera mempunyai seorang cucu, tapi kamu mencoba untuk melenyapkannya??" tanya Wisnu balik pada Dahlia masih dengan marahnya.


Dahlia menatap suaminya semakin tidak percaya.

__ADS_1


"Kamu sudah berubah, Tari sekarang tidak menjadi prioritasmu lagi, kamu lebih memikirkan Naina dan kehamilannya."


Wisnu menggelengkan kepalanya.


"Tari dan Naina sama pentingnya dalam hidupku, mereka berdua darah dagingku, aku sama-sama menyayangi keduanya."


"Beda! Keduanya sangat berbeda! Tari lahir karena cinta diantara kita, dia buah cinta kita. Sementara Naina lahir hanya dari sebuah tipu daya kita pada Nisa. Kamu tidak mencintai Nisa, kamu hanya memperdayai Nisa agar dia mengandung anak yang nantinya akan dijadikan penawar bagi penyakit Tari. Jadi kamu tidak boleh menyayangi Naina sama seperti kamu menyayangi Tari!" Dahlia menjawab dengan sangat berapi-api.


"Bagaimanapun caranya Naina lahir ke dunia ini, dia tetap darah dagingku dan aku harus menyayanginya sama seperti aku menyayangi Tari, terlebih Naina sudah hidup jauh dariku selama ini, dia sudah hidup menderita karena harus tinggal di Panti Asuhan."


"Sudah kukatakan berulang kali jika bukan salah kita membuat Naina hidup di Panti, salahkan ibunya yang sudah membuangnya kesana!"


"Berhentilah menyalahkan Nisa dan Naina terus menerus, kita yang salah disini. Kita!!"


"Apa!! Kita??" tanya Dahlia lagi-lagi dibuat tak percaya.


"Aku tidak percaya kamu melakukan itu padaku dan Tari," ucap Dahlia lagi dengan pelan kemudian duduk di atas tempat tidur.


"Mulai sekarang kamu terima atau tidak, Naina adalah putriku yang posisinya sama dengan Tari. Jadi jangan sekali-kali berniat menyakitinya lagi karena mulai sekarang aku tidak akan tinggal diam." Wisnu mengancam kemudian pergi meninggalkan kamar mereka.


Dahlia meremas sisi tempat tidur dengan kuat.


***


Keesokan harinya.


Naina mengikuti saran Dokter yang menyuruhnya untuk istirahat total, namun tidak begitu dengan pikirannya yang terus memikirkan perkataan Dahlia padanya tentang ibu kandungnya.


Naina tidak mungkin tidak memikirkannya, kabar mengenai Ibu kandungnya yang selama ini sangat ingin dia ketahui sudah pasti mengagetkannya belum lagi ditambah kabar lain tentangnya yang membuatnya semakin shock.


Gambaran tentang ibu kandungnya yang diceritakan oleh Dahlia kepadanya sangat jauh berbeda dengan ekspektasinya selama ini, dimana dia membayangkan jika ibunya adalah sosok wanita yang baik dan lembut, yang terpaksa harus meninggalkannya di Panti karena sesuatu hal yang membuatnya terpaksa melakukan itu demi kebaikannya.


Namun kenyataannya berbeda, Dahlia menggambarkan jika ibunya adalah sosok wanita yang egois dan materialistis juga kejam.


Semuanya itu membuat Naina ingin sekali untuk menemui ibunya, dia ingin meminta penjelasan padanya atas apa yang sudah dia perbuat.


Naina juga ingin meminta ibunya agar tidak menghalangi kesembuhan Tari dengan segera mengantarkan pendonor itu kepada mereka.


Namun semua itu harus dia tahan, dia tahu jika kesehatannya sedang tidak baik, dan itu sudah tentu berpengaruh pada kehamilannya.


"Kamu akan baik-baik saja Nak," ucap Naina mengelus perutnya.


"Mama tahu kamu anak yang kuat, bertahanlah di dalam sana walau bagaimanapun keadaan mama."

__ADS_1


"Mama tahu kamu bisa. Mama sangat menyayangimu." ucap Naina sambil berderai air mata mengingat ibu kandungnya.


Naina tentu saja berharap jika apa yang dikatakan oleh Dahlia mengenai ibu kandungnya sama sekali tidak benar karena dia yang selama ini merindukan sosok sang ibu kandung sudah berangan-angan jika suatu saat mereka bisa bertemu lagi maka dirinya akan langsung memeluknya dengan erat dan lama.


__ADS_2