Rahim Titipan

Rahim Titipan
Kemarahan Aaric.


__ADS_3

"Apa maksud kalian?" tanya Aaric lagi melihat kedua sahabatnya bergantian.


"Aaric. Selama ini Tari sakit parah, dia menderita kanker darah, itulah alasan yang sebenarnya dia meninggalkanmu, perselingkuhannya dengan Axel hanya sandiwara saja agar kamu meninggalkannya." Dani menjelaskan dengan hati-hati.


Aaric tertegun sejenak, mencerna setiap ucapan yang dikatakan oleh Dani.


"Kalian tidak sedang bercanda kan?" tanya Aaric lagi-lagi melihat kedua sahabatnya bergantian.


"Kami serius. Kami tidak mungkin bercanda untuk hal seperti ini," jawab Ryan.


Seketika kekagetan Aaric membuat dadanya begitu sesak, hingga membuatnya sulit untuk bernapas, dia langsung mengambil gelas di depannya dan meminumnya dengan cepat lalu menyimpannya dengan kasar.


Aaric seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, akan tetapi dia tahu jika kedua sahabatnya itu tidak akan mungkin berbohong, Aaric mengusap wajahnya kasar berkali-kali, dia lalu tertegun, berpikir dan merasa sangat menyesal telah menghabiskan lima tahun terakhir dengan hanya mengutuk dan membenci Tari, sementara keadaan yang sebenarnya adalah Tari sedang menderita dengan penyakitnya.


Rupanya semua prasangkanya salah, alih-alih mengkhianatinya Tari ternyata sangat mencintainya, hingga dia tak ingin berbagi penderitaan dengannya, Aaric yakin jika Tari terpaksa melakukan itu karena jika mereka tetap bersama, melewati hari-hari melawan penyakitnya bersama-sama hanya akan membuat dirinya ikut sedih dan menderita.


Dani dan Ryan hanya bisa terdiam melihat Aaric yang sedikit terguncang akan kabar yang baru saja mereka katakan.


"Sejak kapan kalian tahu?" tanya Aaric tiba-tiba.


"Aku secara tidak sengaja melihat rekam medis Tari beberapa minggu yang lalu tapi kami memilih untuk merahasiakannya darimu karena tidak ingin membuatmu bingung karena kamu sudah menikah sekarang, tapi sepertinya memang kamu tetap harus mengetahuinya karena sekarang ini berhubungan erat denganmu. Naina Istrimu adalah satu-satunya jalan agar Tari bisa sembuh," ucap Dani.


Jantung Aaric berdetak kencang ketika Dani menyebutkan nama istrinya.


"Naina?"


Dani mengangguk.


"Tari membutuhkan sumsum tulang belakang Naina agar dia bisa sembuh."


Aaric nampak semakin kaget, dia langsung menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil menatap Dani.


"Maksudmu Naina akan dijadikan donor sumsum tulang belakang untuk Tari?"


"Sepertinya begitu." jawab Dani pelan.


Kabar kali ini nyatanya membuat Aaric lebih kaget.


Aaric langsung mengepalkan tangannya, entah mengapa dia menjadi sangat marah karena akhirnya keraguannya akan sikap tulus Wisnu dan Dahlia terbukti, juga akan perasaannya yang sempat berpikir jika Naina hanya akan disakiti oleh mereka, dan ternyata semua itu benar adanya, Wisnu dan istrinya hanya akan memanfaatkan Naina.


Terlepas mengetahui jika itu semua mereka lakukan demi Tari putri mereka sekaligus mantan pacarnya. Aaric mengesampingkan semua itu, perasaan kecewanya akan Wisnu yang dia rasa mencari Naina hanya untuk kesembuhan anaknya yang lain, amat sangat menyakitinya, Naina istrinya sangat tidak layak diperlakukan seperti itu.


Aaric beranjak dari duduknya, dia langsung mengambil jas di sandaran kursi dan pergi dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Ryan bertanya setengah berteriak namun tak dihiraukan oleh Aaric, dia tetap melangkahkan kakinya keluar restoran dengan terburu-buru.


Ryan melihat Dani.


"Kira-kira dia akan pergi kemana?"


"Langkahnya kali ini adalah cerminan dari perasaannya,"


"Maksudmu?"


"Kita lihat saja, jika dia pergi ke rumah sakit, berarti Tari masih ada di dalam hatinya, Aaric mengisyaratkan dia akan kembali padanya, jika dia pergi menghampiri Naina di rumah Pak Wisnu, maka Aaric sangat mencintai Naina dan tak akan mencampakkannya walaupun dia sekarang sudah tahu keadaan Tari yang sebenarnya," ucap Dani.


"Siapa yang lebih dicintai Aaric. Itulah tujuannya sekarang," lanjut Dani.


Ryan duduk sambil mengangguk mengerti menyetujui pendapat Dani.


***


Aaric turun dari mobilnya tergesa-gesa, dia berjalan memasuki rumah megah Wisnu dengan terburu-buru, tidak menghiraukan penjaga yang bertanya ada keperluan apa dia datang ke rumah itu.


Aaric tetap menerobos masuk walaupun dua petugas keamanan mencoba menahannya, dengan wajahnya yang terlihat sangar, dia tetap berjalan memasuki rumah, mencari keberadaan istrinya.


Hingga akhirnya dia sampai di ruang keluarga, langsung menghampiri Naina yang tengah asyik mengobrol bersama Dahlia.


"Ayo kita pulang," ucap Aaric sambil melihat Dahlia dengan marah.


"Sayang. Ada apa?" tanya Naina heran melihat suaminya yang marah pada Dahlia.


"Pokoknya kita pulang sekarang," jawab Aaric sambil menarik Naina agar berjalan mengikutinya.


"Tunggu dulu. Ada apa ini?" Dahlia memegang sebelah tangan Naina.


"Katakan dulu ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu datang dengan marah?" tanya Dahlia lagi.


Aaric membalikkan tubuhnya menghadap Dahlia, masih dengan tetap memegang tangan istrinya, Aaric menghampiri Dahlia.


"Seharusnya anda yang harus mengatakan terlebih dahulu apa maksud anda berbaik hati pada istri saya?" tanya Aaric dengan sinis.


"Apa maksudmu?" tanya Dahlia gelagapan.


Tiba-tiba.


"Ada apa ini?" tanya Wisnu yang baru datang.

__ADS_1


Aaric langsung melihat Wisnu yang berjalan menghampiri istrinya.


"Ada apa?" tanya Wisnu lagi dengan heran.


"Aku hanya ingin membawa istriku pulang, dan mulai sekarang aku tidak ingin Naina berhubungan lagi dengan kalian," jawab Aaric tegas.


Naina kaget mendengar perkataan Aaric


"Memangnya ada apa?" tanya Wisnu heran.


"Iya. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Biar bagaimanapun suami saya adalah ayah kandungnya, kamu tak berhak menghalangi hubungan antara ayah dan anak." Dahlia menambahkan.


"Benarkah seperti itu? Bukan karena kalian hanya ingin memanfaatkannya saja?"


Wisnu dan Dahlia tampak kaget.


"Memanfaatkan apa maksudmu?"


"Kalian ingin agar istri saya mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk putri kalian," ucap Aaric yang langsung membuat Naina kembali kaget.


Wisnu dan Dahlia kini terlihat gelagapan dan salah tingkah, mereka tak segera menjawab malah saling berpandangan.


"Benar kan?" tanya Aaric lagi.


"Sayang. Apa maksudnya ini semua?" Naina membuka suaranya, melihat Aaric dengan rasa ingin tahunya yang besar.


Aaric menatap istrinya.


"Tidak apa-apa sayang. Mari kita pulang," ucap Aaric dengan lembut membelai rambut Naina.


"Tunggu!" Dahlia menahan Aaric yang kembali akan melangkah pergi.


"Kamu benar, kami memang ingin agar Naina mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk putri kami." Dahlia terdengar menahan tangisnya.


Naina langsung membalikkan tubuhnya melihat Dahlia.


"Naina. Kakakmu akan meninggal jika kamu tidak menolongnya." Dahlia kini terisak.


Naina tersentak.


"Dan Aaric, apa kamu lupa jika kamu dan Tari dulu saling mencintai, bahkan hingga sekarang Tari masih sangat mencintaimu, selama lima tahun ini dia hidup menderita selain karena penyakitnya, juga karena harus berpisah denganmu, apalagi sekarang, melihatmu sudah memiliki wanita lain membuat keadaannya semakin menurun, karena itu dia harus segera mendapatkan pendonor agar bisa bertahan hidup, setidaknya beri dia kesempatan untuk hidup lebih lama dan merasakan kebahagiaan seperti kalian," ucap Dahlia dengan terisak-isak.


Naina langsung melihat wajah suaminya yang tertegun.

__ADS_1


__ADS_2