Rahim Titipan

Rahim Titipan
Memberitahu Aaric.


__ADS_3

Pagi hari.


Nenek memperhatikan Naina yang cekatan melayani Aaric ketika mereka sarapan bersama, Winda yang tak sengaja melihatnya tersenyum kecil seakan mengerti apa yang dirasakan Nenek saat ini.


Nenek dan Winda tentunya kini merasa tenang dan lega, karena kini akhirnya Aaric telah mendapatkan pendamping hidup, dan yang lebih membuat mereka bahagia adalah wanita itu adalah Naina.


Hingga sampai saat ini, di usia pernikahan mereka yang hampir menginjak tiga bulan, Nenek maupun Winda tidak pernah menemukan celah kejelekan dalam diri menantu mereka itu, Naina yang selalu tampil sederhana dan apa adanya justru kian hari kian membuat keduanya semakin tertarik akan kepribadiannya.


Walaupun kini dirinya sudah menjadi seorang Nyonya Aaric Widjaja, pengusaha muda dan tentunya memiliki banyak harta, Naina tampaknya tak begitu tertarik akan kemewahan dan fasilitas yang seharusnya dia nikmati dengan leluasa, bahkan sejumlah kartu debit maupun kartu kredit yang diberikan oleh suaminya hanya dia gunakan sesekali itupun untuk keperluan belanja bulanan saja.


Naina bahkan tak tertarik ketika seringkali Intan dan Sheryl mengajaknya untuk berbelanja barang-barang branded berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah seperti baju, tas dan sepatu. Semua baju dan tas yang dimilikinya saat ini itu karena Winda yang rajin membelikannya, mertuanya itu tahu jika Naina tak akan mungkin membeli sendiri, karena itu dia rajin berbelanja barang-barang yang cocok untuk menantunya agar bisa menunjang penampilannya sebagai istri seorang Direktur seperti Aaric.


"Nenek kenapa tidak makan?" tanya Naina tiba-tiba.


Nenek yang melamun tampak kaget mendengar pertanyaan Naina, buru-buru dia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Ada apa Nek? Kenapa Nenek melamun?" tanya Aaric kali ini.


"Tidak apa-apa Nak, Nenek tidak melamun kok." Nenek tersenyum.


"Apa Nenek sakit lagi?" Naina terlihat cemas.


"Tidak. Nenek baik-baik saja."


Winda tersenyum.


"Nenek baik-baik saja Nak, bahkan semenjak setahun terakhir baru kali ini ibu lihat Nenek sesehat sekarang." Winda tersenyum melihat Nenek dan Naina bergantian.


Naina tersenyum, begitu juga dengan Aaric.


"Syukurlah. Semoga Nenek selalu diberikan kesehatan." Aaric memegang tangan Nenek.


"Amin Nak. Semua ini karena kalian. Terima kasih banyak." Nenek sedikit terharu.


***


Siang Hari.


Aaric yang baru saja kembali dari rapat di luar kantor yang diakhiri makan siang bersama berjalan memasuki ruangannya dengan terburu-buru, dia baru saja mendapat kabar dari sekretarisnya jika ada seseorang yang menunggunya disana.

__ADS_1


Seandainya saja tamu yang datang ke kantornya itu bukan Pak Wisnu, maka mungkin saja dia tidak bisa menerima kedatangan tamu hari ini mengingat jadwalnya yang padat, namun ketika sekretarisnya menelepon dan mengatakan jika Pak Wisnu telah berada di kantor dan menunggu dirinya maka dengan cepat dia segera kembali ke kantor dan membatalkan beberapa janji penting hari ini, semuanya karena dia merasa penasaran akan tujuan Pak Wisnu ingin bertemu dirinya yang dia yakin jika kali ini bukan urusan bisnis, sekaligus ada beberapa hal juga yang ingin dia tanyakan padanya mengenai maksud ucapannya pada Naina istrinya tempo hari di Rumah Sakit.


"Maaf menunggu lama," Aaric menyalami Wisnu ketika dia memasuki ruangannya.


"Tidak apa-apa," jawab Wisnu.


"Silahkan duduk." Aaric mempersilahkannya untuk duduk.


Keduanya duduk di sofa dengan saling berhadapan.


"Maaf sebelumnya jika saya mengganggu waktumu yang pasti sangat sibuk."


"Tidak apa-apa, saya hanya kaget mendengar anda ingin menemui saya secara mendadak seperti ini, dan saya yakin ini bukan masalah bisnis."


"Kamu benar, saya kesini bukan ingin membicarakan masalah pekerjaan."


"Oh ya? Masalah apa?"


"Ini tentang istrimu, Naina." Wisnu tampaknya tidak ingin membuang waktu dengan berbasa-basi, dia langsung mengatakan maksud dan tujuannya.


"Ada apa dengan istri saya?" tanya Aaric penasaran.


Wisnu lalu merogoh secarik kertas di dalam saku jasnya, dia lalu membuka dan memberikannya pada Aaric.


"Ini hasil tes DNA," ucap Aaric setelah membaca isinya, dia melihat Wisnu dengan heran.


"Kamu benar," jawab Wisnu sambil mengangguk pelan.


"Saya masih tak mengerti." Aaric kembali melihat isi kertas itu sejenak lalu kembali menatap Wisnu dengan heran.


"Saya adalah ayah kandung dari istrimu, Naina." Wisnu dengan mantap mengatakannya.


Aaric yang kaget langsung mengerutkan keningnya.


"Maksud anda?"


"Naina adalah putri kandung saya. Dia adik Tari, satu ayah lain ibu."


"Apa? bagaimana bisa?" tanya Aaric tak percaya.

__ADS_1


"Ceritanya panjang, yang terpenting sekarang adalah akhirnya saya menemukan putri yang selama ini saya cari."


Aaric terlihat bingung, dia tak percaya jika istrinya dan Tari ternyata kakak beradik.


"Apa anda yakin?" tanya Aaric lagi.


"Hasil tes DNA itu buktinya."


"Tapi bagaimana caranya anda bisa melakukan tes DNA? Apalagi disini mengatakan jika sampel yang diuji adalah rambut, bagaimana cara anda mengambil rambut istri saya dan siapa yang yakin jika ini adalah rambutnya Naina?"


"Semenjak pertemuan pertama saya dengan Naina di Rumah Sakit tempo hari, saya sudah yakin jika dia putri saya yang sudah saya cari selama sembilan belas tahun karena wajahnya sangat mirip dengan ibunya. Setelah itu saya menyuruh orang untuk mencari tahu asal usulnya, maaf saya mengatakan ini, tapi diam-diam orang suruhan saya berhasil mengambil rambut Naina ketika mereka mengikutinya saat sedang berbelanja, setelah itu saya langsung melakukan tes DNA dan itu hasilnya."


"Anda menyuruh orang membuntuti istri saya?" tanya Aaric sedikit kesal.


"Iya. Saya terpaksa melakukan itu demi mencari tahu sebuah kebenaran."


Aaric terdiam, masih dengan wajahnya yang sedikit kesal mengetahui jika seseorang telah membuntuti istrinya.


"Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang?" tanya Aaric.


"Saya ingin Naina tahu jika saya ayah kandungnya."


Aaric terdiam sejenak.


"Sebelumnya apa istri anda dan Tari tahu masalah ini?"


"Istri saya tahu, tapi Tari belum."


Aaric menghela napas.


"Maaf sebelumnya. Kalau boleh saya ingin tahu secara jelas kejadian yang sebenarnya, mengenai ibu Naina. Apa yang sebenarnya terjadi? Maaf saya hanya merasa ada sesuatu yang aneh disini, mengingat saya yakin ketika Naina lahir Anda sudah berkeluarga dengan ibunya Tari."


Wisnu menatap Aaric.


"Bagaimana jika nanti saja saat kita memberitahu Naina, saya akan menceritakan semuanya."


"Kalau begitu saya tidak akan mengizinkannya, saya tidak ingin Naina tahu jika anda ayahnya, " jawab Aaric tegas.


Wisnu nampak kaget.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Saya ingin tahu dulu kebenarannya, jika menurut saya itu akan menyakiti Naina, saya pikir lebih baik dia tidak mengetahui semuanya."


__ADS_2