Rahim Titipan

Rahim Titipan
Tak Ada Rasa Lagi.


__ADS_3

Semenjak keluar dari dalam lift, Aaric dan Naina berjalan berpegangan tangan dengan sama-sama terdiam, keduanya seperti tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Mereka memasuki kamar, masih juga terdiam Naina berjalan mendekati sofa dan duduk di atasnya, tak lama dia lalu melihat suaminya berjalan menghampirinya dengan membawa segelas air di tangan.


"Sayang. Minumlah, kamu pasti lelah sekali." Aaric memberikan gelas itu kemudian duduk di samping istrinya.


Naina mengambil gelas itu lalu meminum isinya perlahan, dengan terus melihat wajah suaminya yang sedikit berubah sejak pertemuan mereka dengan Tari di lift tadi.


Walaupun Aaric nampak berusaha untuk bersikap biasa, namun Naina tetap bisa melihat jika suaminya itu cukup terganggu dengan pertemuan tidak sengaja mereka dengan Tari.


"Itu Tari mantan kamu kan?" tanya Naina mengagetkan Aaric yang terus tampak merenung.


Aaric langsung terlihat salah tingkah, dia tersenyum sambil mendekati istrinya lebih dekat.


"Iya. Oh iya. Bagaimana kakimu? Apa masih pegal?" Aaric berusaha mengalihkan pembicaraan, memegang kaki Naina dan memijatnya perlahan.


Naina membiarkannya, bahkan ketika Aaric mengangkat kakinya ke atas pahanya dan kemudian lanjut memijatnya kembali.


"Dia cantik sekali."


Aaric tak merespon ucapan Naina, dia terus memijat kaki istrinya.


Melihat itu Naina langsung memegang tangan suaminya, memintanya untuk tidak lagi memijat kakinya.


"Sudah. Tidak pegal lagi." Naina menurunkan kakinya sambil menatap wajah suaminya.


"Apa pertemuan dengan mantanmu tadi membuatmu tidak nyaman?" tanya Naina pelan.


Aaric langsung tersenyum.


"Tentu saja tidak sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu?"


Naina tersenyum, dia memegang tangan suaminya.


"Kalaupun iya itu hal wajar sayang. Aku tidak marah kok, biar bagaimanapun dulu kalian saling mencintai, wajar jika bertemu dengannya lagi membuatmu tidak nyaman," ucap Naina lembut.


Aaric tersenyum.


"Terima kasih kamu sudah mengerti, jujur saja aku memang merasa tidak nyaman karena tadi pertemuan pertama aku dengannya setelah lima tahun tak bertemu." Aaric memeluk Naina.


"Apa yang kamu rasakan tadi?" tanya Naina di dalam pelukan suaminya.


Aaric menghela napas panjang.


"Kamu ingin aku jujur?" tanya Aaric sambil tersenyum.


Naina melepaskan diri dari pelukan suaminya kemudian mengangguk sambil menatap wajah Aaric.


"Hmm...Aku tidak merasakan apapun!" ucap Aaric sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu yakin?" tanya Naina tak percaya.

__ADS_1


"Perasaan cintaku padanya sudah lama pudar, lima tahun terakhir aku hanya membencinya karena pengkhianatan yang dia lakukan, tapi saat tadi aku bertemu dengannya lagi aku tak merasakan apapun, hanya perasaan tidak nyaman saja kenapa aku harus kembali bertemu dia lagi."


Naina tersenyum.


"Terima kasih karena sudah jujur."


"Terima kasih juga sudah mempercayaiku." Aaric mengecup kening istrinya.


***


Pesta resepsi telah selesai dilaksanakan, ballroom hotel tempat diselenggarakannya resepsi sudah nampak lengang hanya ada beberapa pegawai hotel yang sedang membereskan sisa-sisa pesta.


Seluruh pihak keluar dan kerabat juga sudah kembali ke kamar mereka masing-masing, begitu juga dengan Naina yang tadi pergi ke kamarnya bersama dengan Intan dan Sheryl, mereka berdua akan membantu Naina melepas gaun yang dikenakannya.


Sedangkan Aaric dan kedua sahabatnya pergi menuju bar di hotel itu, mereka bertiga ingin bersantai sejenak disana.


"Ada apa? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus," tanya Ryan melihat Aaric yang melamun.


"Tidak ada, aku hanya lelah saja," jawab Aaric sambil merenggangkan kedua tangannya kemudian mengambil gelas dan meminum isinya.


Aaric sudah jelas berbohong, sebenarnya dia masih sangat terusik karena pertemuannya dengan Tari tadi, tapi dia tak ingin memberitahu kedua sahabatnya, Aaric berpikir jika mulai sekarang dia tidak ingin membahas tentang Tari lagi, karena dia sudah benar-benar melupakannya.


"Kalau begitu sebaiknya kita kembali saja ke kamar, istri kita pasti sudah menunggu," saran Dani.


Aaric dan Ryan nampak setuju, mereka mengambil jas masing-masing sambil beranjak berdiri.


Namun ketiganya di kejutkan oleh kedatangan Axel yang tiba-tiba.


Raut wajah ketiganya langsung berubah, terutama dengan Dani dan Ryan, keduanya nampak takut jika Axel kembali berencana ingin memberi tahu Aaric tentang Tari.


"Iya. Kami sudah terlalu lama disini," jawab Dani cepat.


Aaric menatap wajah Axel, kemudian dia tersenyum kecil sambil menyimpan kembali jasnya.


"Kamu ingin minum? Baiklah akan aku temani." Aaric kembali duduk.


Dani dan Ryan saling berpandangan kemudian juga kembali duduk.


Axel nampak senang, dia duduk di kursi sambil memanggil pelayan dan memesan minuman bersoda.


Aaric menyandarkan tubuhnya pada kursi, menatap Axel yang duduk tepat di hadapannya, sedangkan Dani dan Ryan nampak cemas.


"Akhirnya kita bisa kembali berkumpul bersama lagi seperti ini." Axel melihat ketiga sahabatnya bergantian sambil tersenyum.


Aaric tersenyum sinis.


"Kamu benar, terakhir kali kita berkumpul itu lima tahun yang lalu," ucap Aaric.


Dani dan Ryan melirik Axel dan Aaric bergantian.


Axel melihat Aaric.

__ADS_1


"Apa kamu masih marah padaku?"


"Sama sekali tidak. Aku justru ingin mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, karena berkat kamu dan Tari aku menemukan cinta sejatiku. Istriku sekarang."


Axel tersenyum.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu."


"Semoga kalian juga demikian, aku tunggu kartu undangannya," jawab Aaric.


Mendengar hal itu, sontak Axel melihat Dani.


Dani langsung memberikan kode jika Axel tetap harus menutup mulutnya.


"Sudah malam, sebaiknya kita kembali ke kamar." Ryan melihat Aaric.


"Benar. Kita harus cepat kembali ke kamar kalau tidak istri-istri kita akan marah."


Aaric lantas melihat jam tangannya, sudah pukul setengah satu malam, dia lalu teringat akan Naina yang mungkin sedang menunggunya.


Aaric berdiri lalu mengambil jasnya kembali, diikuti oleh Dani dan Ryan juga Axel.


"Aku dan Tari tidak akan menikah," ucap Axel tiba-tiba membuat Aaric dan kedua sahabatnya menghentikan langkah mereka.


"Kami tidak akan menikah." Axel mengulangi perkataannya ketika Aaric membalikkan tubuh melihatnya.


Tanpa diduga, Aaric malah tersenyum.


"Sebenarnya aku tidak peduli kalian menikah atau tidak," Aaric lantas pergi berjalan meninggalkan Axel yang berdiri mematung di susul oleh Dani di belakangnya.


Sementara Ryan menghampiri Axel.


"Aku sudah tahu yang sebenarnya dari Dani dan seperti apa yang dikatakan oleh Dani padamu, sebaiknya Aaric jangan tahu mengenai kondisi Tari,"


Axel nampak kesal, dia memukul meja di sampingnya dengan keras.


Ryan menepuk-nepuk pundak Axel.


"Seandainya kalian tahu bagaimana posisiku saat ini, di satu sisi aku juga tidak ingin merusak kebahagiaan Aaric, tapi di sisi lain aku tidak tahan melihat penderitaan Tari karena penyakitnya yang semakin parah, dia sangat membutuhkan Aaric saat ini."


***


Aaric memasuki kamarnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana Naina sudah terlelap, dia lalu duduk di samping istrinya, menatap wajah Naina kemudian menyibakkan rambut yang menutupinya.


Rupanya Naina terusik, dia membuka matanya perlahan, lalu tersenyum melihat Aaric duduk di sampingnya.


"Maaf aku membuatmu terbangun." Aaric membelai lembut pipi istrinya.


Naina menggeleng pelan, dia lalu menggeser badannya memberi ruang agar suaminya bisa berbaring di sampingnya.


Aaric merebahkan tubuhnya di samping Naina, lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," bisik Aaric.


"Aku tahu," jawab Naina


__ADS_2