
"Maaf Tante, aku kesini karena istriku yang ingin melihat keadaan Tari." Aaric mencoba melepaskan diri dari pelukan Dahlia.
Dahlia langsung melihat Naina sambil menghapus air matanya.
"Kamu pasti ingin melihat keadaan kakakmu?" tanya Dahlia pelan.
Naina mengangguk pelan.
Dahlia tersenyum.
"Kamu memang harus melihatnya, kamu harus melihat sendiri bagaimana keadaan kakakmu, mari ikut ibu," Dahlia menarik tangan Naina.
Dengan diikuti oleh tatapan semua orang, Naina berjalan mendekati ruang perawatan Tari bersama Dahlia.
Dahlia membuka pintu perlahan, lalu menarik Naina agar ikut masuk ke dalamnya, mereka berdua berjalan mendekati Tari yang berbaring di atas ranjang tengah tertidur dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
Naina terperanjat, sontak menutup mulutnya melihat keadaan Tari yang jauh berbeda ketika terakhir kali dia melihatnya.
Tari kini tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya pucat dan kepalanya yang pelontos pasti akan membuat siapa saja yang melihat akan menjadi sangat iba padanya.
"Ini kakakmu, dia sudah bertahun-tahun sakit seperti ini." Dahlia melihat Naina.
Naina menitikkan air matanya.
"Baru saja keadaannya drop karena aku dan ayahmu memberitahunya bahwa dia tak jadi mendapatkan pendonor, dia syok dan akibatnya tekanan darahnya turun," ucap Dahlia lagi.
Naina terus menatap wajah Tari dengan air mata yang terus mengalir karena rasa iba.
Dahlia juga nampak sibuk menyeka air mata yang terus keluar dengan sendirinya.
"Kita tidak tahu sampai kapan dia akan mampu bertahan." Dahlia menutup wajah dengan tangannya lalu menangis sesenggukan.
Naina kaget.
"Jika kamu tidak hamil, mungkin saja dia akan bisa sembuh," ucap Dahlia melihat Naina.
Naina tersentak, dia langsung memegang perutnya.
Dahlia menyeka air matanya kembali, dia lalu mendekati putrinya lebih dekat dan terlihat akan mengambil sesuatu di bawah bantalnya.
Dahlia mengambil foto Aaric, lalu diberikannya pada Naina.
"Kakakmu masih sangat mencintai suamimu." Dahlia menunjukkan foto itu pada Naina.
Naina tersentak, dia lalu mengambil foto itu dan menatapnya lekat.
Masih menyimpan foto suaminya memang salah satu bukti jika memang Tari masih sangat mencintainya, membuat dada Naina terasa sesak.
"Dia bertahan selama ini hanya karena Aaric, karena dia masih mempunyai harapan untuk kembali padanya," ucap Dahlia lagi.
Naina yang kaget mendengar perkataan Dahlia langsung memberikan kembali foto itu padanya dengan air mata yang terus berlinang.
__ADS_1
Naina langsung memegang dadanya yang terasa semakin sesak.
Tiba-tiba pintu terbuka, Aaric masuk ke dalam dan segera menghampiri istrinya lalu memeluknya erat
Dahlia segera menyembunyikan foto di tangannya.
Aaric memeluk istrinya yang menangis, sementara tatapannya melihat Tari yang tengah berbaring lemah.
Hatinya berdesir melihat keadaan Tari yang memperihatinkan, sungguh sangat tak disangka olehnya jika keadaan Tari ternyata separah itu, wanita yang dulu amat sangat dicintainya terlihat sangat berbeda membuat dirinya merasa iba dan kasihan.
Namun kemudian Aaric tersadar, bagaimanapun keadaan Tari saat ini, fokus utamanya sekarang haruslah tetap Naina dan kandungannya, dia yang sedari tadi merasa khawatir tentang keadaan Naina di dalam sini, nekat masuk menyusulnya ke dalam karena takut jika Dahlia akan mengatakan sesuatu yang membuat istrinya tertekan hingga berakibat buruk pada kandungannya.
Dan benar saja, mendapati istrinya tengah menangis ketika membuka pintu, membuat Aaric yakin jika Dahlia telah membuat istrinya merasa bersalah.
Aaric melepaskan pelukannya
"Ayo kita pulang," bisik Aaric lembut sambil menyeka air mata istrinya.
Naina mengangguk pelan.
"Tante, kami permisi dulu." Aaric berpamitan pada Dahlia.
"Tunggu dulu." Dahlia menahan Aaric untuk pergi.
Aaric menghentikan langkahnya, lalu melihat Dahlia.
"Tari masih mencintaimu," ucap Dahlia.
"Bagaimana perasaanmu setelah melihat keadaannya seperti ini?"
"Aku bersimpati padanya dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya,"
"Tidakkah kamu kasihan padanya?"
"Aku yakin jika Tari tak ingin dikasihani, karena itulah dia pergi meninggalkanku lima tahun lalu," jawab Aaric.
Dahlia tak bisa menjawab.
"Kami permisi dulu." Aaric kembali melangkahkan kaki sambil terus memegang tangan istrinya.
"Oh iya." Aaric tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aku ingin memperjelas jika kedatanganku kesini karena atas keinginan istriku, jika anda berpikir aku masih mempunyai perasaan padanya, anda salah, perasaanku kini tak lebih hanya sekedar simpati saja, juga karena bagaimanapun dia adalah kakak dari Naina dan itu berarti dia kakak iparku sekarang."
Aaric lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Dahlia yang merasa kesal mendengar perkataan Aaric langsung menyobek fotonya dengan geram dan penuh amarah.
Dahlia kemudian melihat Tari yang berbaring.
"Kamu tenang saja Nak, ibu akan terus berusaha membuat Aaric kembali padamu."
__ADS_1
Di luar ruangan
"Kami pulang duluan." Aaric berpamitan pada semuanya.
Tiba-tiba Wisnu menghampiri Naina
"Terima kasih sudah datang kesini," ucap Wisnu melihat putrinya.
Naina mengangguk.
"Bagaimana dengan kehamilanmu?" tanya Wisnu.
"Baik," jawab Naina singkat.
"Syukurlah, jaga kandunganmu baik-baik, jangan banyak pikiran." Wisnu menasihati.
Naina hanya bisa mengangguk pelan.
***
"Apa yang dikatakannya padamu tadi hingga kamu menangis?" tanya Aaric pada Naina disaat mereka dalam perjalanan pulang.
"Aku menangis karena kasihan melihat keadaan kakakku seperti itu,"
Aaric memegang tangan istrinya.
"Sepertinya aku salah mengajakmu kesana,"
Naina menggeleng.
"Tidak. Malah seharusnya dari kemarin kita datang kesana," jawab Naina
Aaric kembali fokus menyetir.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Iya?" jawab Aaric melihat istrinya.
"Apa kamu benar-benar telah melupakannya?"
Aaric menganggukan kepalanya.
"Tapi dia masih mencintaimu,"
"Itu tak mengubah apapun, sekarang aku hanya mencintaimu," jawab Aaric.
Naina terdiam sejenak.
"Jika suatu hari nanti keadaannya berbalik, aku yang sakit parah seperti itu, apa kamu akan melupakanku ketika kamu telah bertemu dengan wanita lain penggantiku?"
Aaric langsung melihat istrinya.
__ADS_1
"Selama kamu berada di sampingku bagaimanapun keadaanmu, aku akan setia menjaga hati ini hanya untukmu."