
Aaric terperanjat, begitu juga dengan Wisnu yang terpana melihat penampilan Nisa yang kini tampil sangat berbeda.
Nisa mendekati keduanya.
"Kamu disini? Kenapa kamu disini padahal sudah saya katakan jika kamu harus menjadi suami yang baik dan tidak menyakiti perasaan istrimu. Kenapa kamu masih mau ikut campur urusan orang lain? Apa karena dia mantan pacarmu? Atau mungkinkah kamu masih mencintai mantan pacarmu itu?" tanya Nisa panjang lebar kepada Aaric.
Aaric langsung menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak benar. Saya sangat mencintai istri saya."
"Kalau begitu pergilah sekarang juga, kamu tidak perlu ikut campur masalah ini, jaga saja istrimu yang sedang hamil."
Aaric melihat Wisnu.
"Baiklah kalau begitu, tapi sebelumnya boleh saya tahu siapa anda sebenarnya?"
Nisa melihat Wisnu.
"Dia ibu kandung Naina." Wisnu yang menjawab.
Aaric nampak tak begitu terkejut karena memang dia sudah bisa menduga sebelumnya.
"Kamu sudah tahu sekarang? Kalau begitu sekarang kamu tahu jika saya tidak suka kamu menyakiti perasaan putri saya. Karena kalau sampai itu terjadi, saya sendiri yang akan memisahkan kalian," ucap Nisa mengancam.
"Saya tak pernah berniat menyakiti Naina karena saya sangat mencintainya," jawab Aaric.
"Lalu kenapa kamu masih ingin ikut campur masalah mantan pacarmu? Harusnya kamu tahu jika itu bisa menyakiti perasaan Naina."
"Saya hanya bersimpati padanya, tidak lebih."
Nisa tersenyum melihat Aaric yang terlihat mantap dan tanpa ragu sedikitpun menjawab semua pertanyaannya, membuatnya yakin jika menantunya itu memang benar sangat mencintai putrinya.
"Baiklah kalau begitu. Oh iya sebaiknya kamu disini saja karena menurutku kamu harus tahu apa yang terjadi sebenarnya," ucap Nisa menyuruh Aaric untuk duduk.
Nisa duduk dengan santainya diikuti oleh Wisnu dan Aaric.
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Nisa tersenyum melihat Wisnu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Wisnu terlihat gugup.
"Jangan lakukan itu, kamu akan membuat Tari meninggal," ucap Wisnu memohon.
Aaric memperhatikan keduanya.
"Aku tidak peduli," jawab Nisa sambil tersenyum.
"Maafkan semua kesalahanku dan juga istriku, kami akui kami memang sudah banyak bersalah padamu, kamu boleh menghukum kami dengan cara apapun tapi tidak dengan cara seperti ini," ucap Wisnu dengan memelas.
"Hanya ini balasan yang setimpal untukmu dan istrimu," jawab Nisa lagi masih dengan santai.
"Kamu salah, Tari tidak tahu apa-apa, jangan biarkan dia menanggung kesalahan kami orang tuanya."
"Lalu bagaimana dengan Naina, dia juga tidak tahu apa-apa tapi dia menderita selama 19 tahun ini," jawab Nisa dengan emosi yang dia tahan.
Wisnu mengangguk pelan.
"Aku tahu. Asal kamu tahu jika aku juga merasa sangat bersalah padanya," ucapnya dengan nada yang bergetar.
"Naina yang paling menderita disini, dia harus hidup di Panti Asuhan seumur hidupnya," ucap Nisa dengan geram.
"Semuanya itu terpaksa aku lakukan agar kamu tidak bisa menemukannya. Agar kamu tak bisa memanfaatkannya untuk kesembuhan anakmu," lanjut Nisa lagi.
Wisnu terdiam.
"Aku tak akan membiarkan rencana kamu dan istrimu berhasil, menjebakku dan membodohiku, supaya aku mengandung anakmu agar kelak anak itu bisa dijadikan obat untuk anakmu yang penyakitan."
Aaric tersentak kaget mendengar penuturan Nisa kali ini.
"Apa?" tanya Aaric tak percaya.
"Seperti yang kamu dengar, Naina lahir ke dunia hanya untuk dijadikan obat demi kesembuhan putrinya, orang ini dan istrinya memperdayaku agar aku melahirkan anak yang nantinya akan dijadikan penawar bagi penyakit putri mereka," ucap Nisa sambil menunjuk Wisnu dengan penuh amarah.
__ADS_1
Aaric langsung melihat Wisnu.
"Apakah seperti itu?" tanya Aaric memastikan.
Wisnu melihat Aaric lalu mengangguk pelan.
Aaric langsung mengepalkan tangannya, merasa ikut tersulut emosi mengetahui kebenaran itu, kini dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan merasa wajar jika ibu kandung Naina begitu dalam menyimpan kebencian untuk Wisnu dan istrinya
"Aku tidak percaya jika anda seperti itu," ucap Aaric geram.
Wisnu menundukkan kepalanya.
"Jadi apa yang aku lakukan sekarang sebagai balasan karena kamu dan istrimu yang telah menyakitiku dan putriku," ucap Nisa lagi sambil berdiri.
"Tidak. Kumohon maafkan aku, sekali ini maafkan aku dan istriku, tolong jangan lakukan ini karena ini kesempatan satu-satunya Tari untuk sembuh." Wisnu menahan Nisa yang akan pergi.
Nisa tersenyum, menikmati setiap ucapan mantan suaminya yang terus memohon padanya.
Tiba-tiba ponsel Aaric berdering.
Aaric segera sedikit menjauh dari sana untuk menjawab panggilan telepon, sementara Wisnu terus memohon dan Nisa yang hanya tersenyum saja melihatnya.
Keduanya dibuat kaget ketika Aaric bergegas untuk pergi.
"Ada apa?" tanya Nisa penasaran.
"Naina pingsan."
"Apa!?" Nisa dan Wisnu terlihat kaget.
"Apa yang terjadi?" tanya keduanya hampir bersamaan.
"Istri anda datang ke rumah dan mengatakan sesuatu pada Naina," jawab Aaric melihat Wisnu lalu segera pergi meninggalkan keduanya dengan terburu-buru.
Nisa langsung melihat Wisnu dengan penuh amarah, dia lalu berjalan menyusul Aaric.
__ADS_1
Begitu juga dengan Wisnu, dia juga langsung pergi menuju mobilnya berniat untuk menyusul Aaric dan melihat keadaan Naina.
Ketiga mobil berjalan beriringan menuju kediaman Widjaja.