
Sementara itu di kamar Nenek.
Nenek dan Ibu serta Aaric terlihat sedang mengobrol dengan serius, ketiganya sudah pasti sedang membicarakan Naina dan Ibu kandungnya.
"Ibu tidak menyangka jika kejadian yang sebenarnya seperti itu," ucap Winda dengan sedih.
"Padahal ibu hampir saja terhasut oleh perkataan Dahlia," lanjut Winda lagi kali ini dengan menyesal.
"Dahlia dan suaminya memang manusia tak bermoral, demi kesembuhan putri mereka keduanya menghalalkan segala cara termasuk itu memperdaya seorang gadis lugu." Nenek juga ikut terbawa emosi.
"Iya. Benar-benar manusia kurang ajar!! Pantas saja jika ibu kandung Naina berniat untuk balas dendam," ucap Winda lagi masih dengan emosi.
"Itulah kejadian yang sebenarnya. Tapi ibunya Tari malah ingin membalikkan fakta, ingin membuat Naina membenci ibu kandungnya," ucap Aaric.
"Tapi kita tak akan membiarkannya, Naina harus secepatnya kita beritahu," ucap Winda dengan cepat.
"Ibu. Kita tak bisa melakukan itu." Aaric melihat ibunya.
"Aaric benar. Kita tak bisa melakukannya. Keadaan Naina saat ini sedang lemah, mengetahui fakta ini pasti akan membuatnya shock atau bahkan terpuruk dan itu tidak baik untuk kandungannya." Nenek mendukung perkataan Aaric.
"Oh iya. Aku lupa! Kabar ini pasti akan membuat Naina kaget dan sedih. Wajar saja, siapapun akan merasa sakit hati jika dia tahu dirinya dilahirkan hanya untuk dijadikan obat untuk orang lain. Sungguh kisah yang memilukan. Aku tidak bisa membayangkan betapa Naina akan sakit hati mengetahui semuanya." Winda merasa sangat iba pada menantunya.
***
Tiga hari kemudian.
Tiga hari telah berlalu, dan selama itu pula masalah tentang ibu kandungnya seakan terlupakan dan tak pernah dibahas lagi olehnya atau siapapun di rumah itu. Naina hanya fokus untuk menyehatkan badannya, dia nampak makan dengan banyak dan terlihat tak mempunyai banyak pikiran.
Sehingga kesehatan Naina semakin membaik, membuat semua orang merasa lega, terlebih dengan suaminya.
"Aku senang kamu sudah kembali pulih." Aaric terus menciumi Naina yang mengantarnya menaiki mobil ketika akan pergi bekerja.
Naina tersenyum.
"Karena aku sudah kembali sehat, boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Naina merapihkan dasi suaminya.
"Apa sayang?"
"Suruh ibu kandungku datang ke rumah ibu Dahlia dengan membawa si pendonor itu," ucap Naina mengagetkan Aaric.
__ADS_1
"Aku tahu tiga hari ini kalian intens berkomunikasi, ibuku terus menanyakan keadaanku padamu." Naina menatap wajah suaminya.
"Tapi sayang ada yang harus kamu ketahui dulu tentang ibu kandungmu."
"Tidak perlu, aku sudah tahu semuanya." Naina menyuruh Aaric untuk masuk mobil.
"Tiga hari kemarin ibu Dahlia terus meneleponku untuk menanyakan tentang pendonor yang masih disembunyikan oleh ibuku," ucap Naina lagi ketika Aaric sudah berada di dalam mobilnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Aaric kaget.
Naina tersenyum.
"Aku tidak apa-apa. Tapi hari ini aku berjanji akan
membereskan semuanya. Siang ini kami janjian akan ketemu di rumahnya. Kamu ajak ibuku untuk kesana ya." Naina menutup pintu mobil suaminya.
Aaric terdiam.
***
"Aku sudah siap, pendonor itu akan ikut bersamaku ke rumah Dahlia." ucap Nisa di ujung telepon.
Nisa menghela napas.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang kita ikuti semua keinginannya saja," jawab Nisa pasrah
Aaric terdiam.
"Aku akan berangkat sekarang, sampai jumpa disana." Nisa menutup teleponnya
***
Dahlia tampak sangat bahagia, dia terus tersenyum membayangkan kemenangan yang kini dia raih, dia bersyukur berkat idenya menghasut Naina dengan menjelek-jelekkan Nisa kini membuahkan hasil yang memuaskan, Naina akan membantunya untuk mendapatkan pendonor itu lagi.
Naina duduk di samping Winda yang menemaninya mendatangi kediaman Wisnu.
Sementara Wisnu duduk di samping istrinya dan sesekali melihat wajah Naina karena jujur saja selama tiga hari ini Wisnu sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya dan bersyukur melihat keadaan Naina yang sudah membaik seperti sekarang ini.
Tak lama Nisa dengan diikuti oleh dua orang di belakangnya juga Aaric datang bersamaan.
__ADS_1
Naina langsung berdiri menatap wajah Nisa, ibu kandungnya. Dia tak percaya jika wanita yang datang ke Panti tempo hari itu adalah ternyata ibu kandungnya yang telah melahirkannya.
Begitu juga dengan Nisa yang terus menatap wajah Naina dengan lembut, memancarkan rasa kasih sayang yang tulus dan kerinduan yang tertahankan.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Dahlia dengan sumringah.
Nisa tersenyum sinis.
"Kamu benar. Aku datang dan mengantarkan sendiri pendonor ini padamu," jawab Nisa menunjuk salah seorang dibelakangnya.
Dahlia tertawa penuh kemenangan. Lalu melangkahkan kakinya hendak mendekati si pendonor.
"Tunggu dulu!" Naina menahan Dahlia.
Semua orang terkejut melihat ke arahnya.
Naina melihat wajah Dahlia dengan tatapan yang tajam.
"Minta maaflah dulu pada ibuku."
"Sujudlah di kakinya jika anda ingin pendonor itu menolong putri anda," ucap Naina sambil menunjuk kaki Nisa.
"Sambil bersujud, sebutkan satu-persatu dosa yang sudah kalian lakukan pada ibuku."
Semua orang terperanjat kaget, terutama dengan Dahlia dan Nisa. Keduanya seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Naina.
"Apa maksudmu?" tanya Dahlia dengan tergagap saking kagetnya.
"Aku sudah tahu semua yang terjadi." Naina melihat Wisnu dan Dahlia bergantian dengan penuh amarah.
Tiga hari yang lalu..
Naina yang akan masuk ke kamar Nenek tidak sengaja mendengar percakapan antara suaminya, Nenek dan ibu mertuanya tentang fakta yang sebenarnya terjadi dan cerita di balik kelahirannya.
Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, Naina kembali ke kamarnya sambil menangis, dia menenggelamkan wajahnya di atas tempat tidur meratapi nasibnya.
Tiba-tiba dia bangun lalu menghapus air matanya.
"Akan kubuat mereka menyesal dengan apa yang sudah mereka lakukan pada ibuku."
__ADS_1