Rahim Titipan

Rahim Titipan
Balkon


__ADS_3

"Apa?" tanya Aaric dan Nenek hampir bersamaan.


"Sepertinya Naina hamil Nak," ucap Winda berseri-seri sambil mendekati putranya.


"Tapi kita tak bisa mengira-ngira, kita harus periksakan dulu," ucap Nenek.


Wajah Winda langsung terlihat kecewa.


"Tapi semoga saja dia benar-benar hamil, ya kan?"


Aaric dan Nenek mengangguk.


"Kita lihat ke atas, tapi jangan bicara tentang kehamilan, Nenek takut jika Naina kemudian berharap jika dia benar-benar hamil tapi nyatanya dia hanya masuk angin biasa," ucap Nenek.


Winda dan Aaric menganggukan kepala, mereka lalu beranjak mendekati lift yang dibuat khusus untuk Nenek agar bisa naik ke lantai atas.


Naina yang sedang menggosok-gosok keningnya dengan minyak angin tampak kaget mendapati Ibu mertuanya dan Nenek serta suaminya yang ternyata sudah pulang kerja masuk ke kamar secara bersamaan.


"Kamu kenapa sayang?" Aaric segera menghampiri istrinya, segera duduk di sampingnya melihat Naina dengan cemas.


Belum lagi Naina menjawab, Winda dan Nenek menghujaninya dengan pertanyaan yang sama, keduanya juga tak kalah cemas dengan Aaric.


"Aku tidak apa-apa," Naina berusaha menenangkan mereka.


"Kata bi Nur kamu muntah-muntah?" tanya Winda.


"Iya. Tadi hanya muntah sedikit, sepertinya aku masuk angin, tapi sekarang sudah agak mendingan," jawab Naina.


"Kamu yakin? Apa perlu aku memanggil dokter Dani kesini untuk memeriksamu?" aaric masih terlihat cemas.


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa," jawab Naina cepat.


"Iya. Kamu tidak usah memanggil dokter Dani kesini, besok saja ibu akan bawa Naina ke Rumah Sakit untuk berobat," ucap Winda.


"Apa? itu tidak perlu Bu. Aku tidak apa-apa," jawab Naina yang kaget.


"Dengarkan saja ibu mertuamu, besok pergi saja ke Rumah Sakit dengannya," ucap Nenek.

__ADS_1


Mendengar Nenek yang bicara, Naina tidak bisa membantah, dia hanya bisa langsung menyetujuinya saja.


"Kalau begitu kamu istirahat sekarang, jangan banyak pikiran apalagi stres." Winda mendorong Naina agar berbaring, ibu mertuanya juga dengan cekatan menyelimuti menantunya.


"Ibumu benar, istirahatlah yang banyak dan yang terpenting jangan banyak pikiran," ucap Nenek sambil tersenyum dan pada Naina.


"Iya Nek," jawab Naina.


"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Winda.


"Nak. Jaga istrimu baik-baik," ucap Winda melihat putranya.


Aaric menganggukan kepalanya.


Winda lalu pergi meninggalkan kamar sambil mendorong kursi roda Nenek.


Melihat keduanya sudah pergi Naina lalu beranjak dari tidurnya, dia duduk berhadapan dengan suaminya.


"Kenapa bangun?" tanya Aaric sambil menatap istrinya.


"Tidurlah sayang," ucap Aaric lagi sambil mencium kening Naina lalu mendekapnya erat.


"Tidak apa-apa, Aku baik-baik saja," jawab Naina tersenyum sambil melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Oh iya. Apa Nenek dan Ibu sudah tahu?" tanya Naina.


"Iya. Aku sudah memberitahu mereka. Aku pikir mereka juga harus tahu."


Naina terdiam sejenak.


"Lalu apa kata mereka?" tanya Naina.


"Sama seperti aku yang tak ingin kamu menjadi pendonor."


Naina kembali tertegun sambil menunduk.


"Sayang. Pikir ulang keinginanmu untuk mendonorkan sumsum tulang belakangmu, tadi aku sudah berkonsultasi dengan dokter Dani, walaupun memang sangat jarang terjadi, beberapa mantan pendonor sumsum tulang belakang mengalami masalah kesehatan setelahnya. Aku tidak ingin kamu seperti itu."

__ADS_1


Naina semakin menundukkan kepalanya.


"Aku bingung, aku tak mungkin melakukannya jika kalian tak merestuinya. Tapi aku tak bisa menolaknya, bukan karena dia kakak tiriku, biarpun dia orang lain, yang tidak ada hubungan darah denganku, aku pasti ingin menolongnya," ucap Naina dengan sedih.


"Aku tahu. Aku tahu jika kamu orang yang baik, perasaanmu selalu tulus pada semua orang, tapi terkadang kita juga harus egois, sebelum memikirkan orang lain, kita harus memikirkan diri sendiri terlebih dahulu, dan ingat sayang, kita sedang program mempunyai anak, kamu harus sehat agar bisa melahirkan anak-anak kita nanti."


Naina terlihat kaget mendengar perkataan Aaric yang terakhir.


"Apa itu akan mengganggu jika nanti aku hamil?" tanya Naina penasaran.


"Itu yang aku takutkan," jawab Aaric.


---


Aaric terus menatap wajah istrinya yang tertidur pulas di sampingnya, dengan sesekali membelai lembut pipinya lalu menciumnya perlahan, Aaric terus menatap sendu wajah wanita yang sangat dicintainya itu. Wanita yang sampai kapanpun dan bagaimanapun tidak akan pernah dia sakiti dan sia-siakan.


Aaric lalu melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, dia lalu beranjak dari tempat tidurnya dengan hati-hati karena tak ingin membuat istrinya ikut terbangun, dia lalu berjalan menuju balkon, membuka pintunya dengan perlahan lalu menutupnya lagi dari arah luar.


Aaric berjalan mendekati pagar lalu merentangkan kedua tangannya di sana, dengan tatapan kosong dia melihat kolam renang di bawahnya yang bersinar terkena banyaknya pantulan lampu.


Aaric merenung, memikirkan kembali kejadian hari ini dimana dia baru saja tahu akan sebuah fakta yang mengagetkannya.


Aaric mendesah, mengeratkan pegangannya pada pagar mengingat jika selama ini dia telah salah karena sangat membenci Tari karena telah meninggalkannya. Padahal keadaan yang sebenarnya adalah Tari melakukannya pasti karena tak ingin membuatnya ikut menderita bersamanya.


Aaric menarik napas panjang, dia meyakinkan diri bahwasanya sekarang dia tidak sedang bimbang akan perasaannya, hatinya tetap mantap pada Naina istrinya walaupun dia sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Apapun yang terjadi Aaric tak akan mungkin meninggalkan Naina, menyakitinya atau bahkan mencampakkannya karena kini cintanya pada Naina lebih besar dibandingkan kepada apapun atau siapapun termasuk itu Tari.


Tari hanya masa lalunya, terlepas dari apapun alasannya meninggalkannya waktu itu, posisi Tari di hatinya benar-benar sudah tergantikan oleh kehadiran Naina, dan sekarang posisi itu tak bisa tergantikan lagi oleh siapapun termasuk oleh Tari lagi karena Naina tetap akan bertengger di hatinya apapun yang terjadi.


Perasaan yang dia rasakan pada Tari kini tak lebih dari rasa simpati, bagaimanapun dia peduli akan kondisi Tari saat ini dan sangat ingin membantu walaupun itu hanya sekedar dukungan dengan menemuinya dan tentu saja harus dengan sepengetahuan istrinya, dia tak ingin ada salah paham diantara mereka berdua nantinya, maka apapun yang ingin dia lakukan yang berhubungan dengan Tari, dia akan memberitahu Naina.


Aaric masih berdiam diri di balkon, berpikir keras tentang cara lain yang harus dia lakukan agar bisa menolong Tari untuk sembuh tanpa harus menjadikan Naina sebagai pendonornya, karena sampai kapanpun dia tak akan pernah mengizinkannya.


Sementara itu, Naina cukup lama berdiri di balik pintu, melihat suaminya yang tertegun di balkon sedari tadi tidak seperti biasanya. Naina tahu jika suaminya itu tidak bisa tidur karena sedang memikirkan sesuatu.


Naina seakan bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu, dia memegang dadanya, merasakan rasa sakit memikirkan jika sebenarnya suaminya tidak bisa tidur memikirkan Tari, mantan pacarnya yang sedang sakit.


Naina merasakan sesak di dadanya, ketika menyadari jika tak akan mudah bagi suaminya melupakan mantan pacarnya, bukan hal yang mustahil jika sekarang suaminya sedang bimbang akan perasaannya terlebih mengetahui jika ternyata Tari masih mencintainya dan bahkan sedang membutuhkannya karena kondisinya saat ini.

__ADS_1


Naina buru-buru berjalan mendekati tempat tidur lalu menaikinya ketika melihat suaminya akan kembali masuk ke kamar, dia lalu pura-pura memejamkan mata agar terlihat masih terlelap tidur.


Dia tak ingin suaminya tahu jika dia mengetahui kebimbangan hatinya, dia tak ingin menambah beban dihatinya dan membuatnya bertambah bingung.


__ADS_2