
Nisa segera memalingkan wajahnya dari Naina yang berjalan mendekati Farida sambil melihat ke arahnya.
"Jika aku tahu apa Bu?" tanya Naina lagi ketika sudah berada dekat dengan Farida.
"Tidak apa-apa nak." Farida terlihat gugup.
"Oh iya Naina. Ini ibu Nisa, beliau kesini bermaksud ingin mengadopsi anak." Farida terpaksa berbohong.
Naina langsung melihat Nisa yang sedari tadi terlihat salah tingkah, Naina lalu menyodorkan tangannya hendak menyalami Nisa.
Nisa tertegun melihat tangan Naina, perlahan dia memberikan tangannya juga, sehingga keduanya saling berjabat tangan.
Nisa menatap wajah putrinya yang tersenyum ramah padanya.
Jantung Nisa berdesir. Ini kali pertama baginya bersentuhan dengan Naina setelah sekian tahun berlalu. Seandainya dia tidak bisa menahan diri, Nisa sudah pasti akan langsung memeluk dan menciumi Naina serta mengatakan yang sebenarnya jika dia adalah ibu kandungnya.
Sedangkan Naina dia terus menatap lekat wajah Nisa, wajah yang terasa tidak asing baginya karena entah mengapa dia merasa pernah bertemu dengannya.
Naina melepaskan tangannya, dia lalu melihat Farida.
"Siapa anak yang akan Nyonya ini adopsi Bu?" tanya Naina pada Farida.
Farida langsung melihat Nisa.
"Beliau belum memutuskan," jawab Farida sambil tersenyum gugup.
"Jangan panggil saya Nyonya, panggil saja ibu." Nisa melihat Naina.
Naina tersenyum lalu mengangguk pelan.
Nisa terus menatap wajah Naina dengan penuh haru, berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya, terutama rasa tidak percaya karena kini dia bisa melihat putrinya secara langsung setelah sekian tahun hanya bisa melihat dari foto atau video dari orang yang diutusnya untuk mengawasi Naina selama ini.
"Saya permisi dulu," ucap Nisa tiba-tiba.
Nisa akhirnya memilih untuk segera pergi dari sana, dia merasa tidak sanggup lagi untuk berlama-lama berada di dekat Naina, dia takut dia tidak bisa menahan diri dan mengatakan yang sebenarnya jika dirinya adalah ibu kandungnya.
Tapi Nisa berpikir jika sepertinya memang dia harus menunda untuk mengatakan semuanya, kehamilan putrinya yang masih kecil memang rentan untuk mengalami keguguran, membuatnya shock dan kaget bisa jadi salah satu pemicunya dan tentu saja dia tidak ingin itu terjadi.
Farida hanya mengangguk pelan, sementara Naina terlihat bingung melihat sikap Nisa yang dirasanya aneh.
__ADS_1
Nisa segera pergi meninggalkan ruangan Farida.
Nisa berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya, dimana supir dan asistennya sudah menunggunya disana.
Tiba-tiba Nisa menghentikan langkahnya, dia secara tidak sengaja berpapasan dengan Aaric.
Nisa menatap wajah Aaric dengan tajam, begitu juga dengan Aaric yang tertegun heran karena Nisa melihatnya seperti itu.
Aaric melihat wajah Nisa lekat, merasa jika menurutnya wajahnya sangat mirip dengan seseorang.
Nisa berjalan mendekati Aaric lebih dekat.
"Jadilah suami yang baik, jangan menyakiti perasaan istrimu," ucap Nisa dengan terus menatap wajah Aaric.
Aaric mengerutkan keningnya merasa heran dengan maksud ucapan wanita yang tidak dikenalnya sama sekali.
Aaric terlihat membuka mulutnya akan mengatakan sesuatu namun sayang Nisa kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan melewatinya menuju parkiran mobil.
Aaric yang keheranan terus melihat Nisa hingga ia menaiki mobilnya.
***
"Jadi kamu akan pulang sekarang?" tanya Farida.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan Nak."
Naina mengangguk.
"Oh iya Bu. Tentang wanita tadi, apa dia baru kali ini kesini?" tanya Naina tiba-tiba.
Farida tampak kaget mendengar pertanyaan Naina.
"Iya Nak. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Tapi rasanya wajahnya tidak asing bagiku, rasa-rasanya kami pernah bertemu sebelumnya," jawab Naina.
Farida terdiam.
"Mungkin hanya perasaanku saja," ucap Naina sambil tersenyum.
__ADS_1
Tak lama Aaric datang, dia mengajak Naina untuk berangkat, setelah berpamitan kepada semua orang keduanya kemudian pergi meninggalkan Panti untuk kembali ke kota.
***
Hari ini pendonor Tari dikabarkan akan datang dari Jerman, pendonor yang rupanya seorang wanita masih keturunan Indonesia tapi sudah lama menetap di Jerman itu ternyata seorang janda beranak satu yang umurnya tak jauh berbeda dengan Tari.
Wisnu dan Dahlia menunggu kedatangannya dengan antuasias di rumah sakit, mereka sudah mengirim seseorang untuk menjemputnya di Bandara, keduanya seakan tidak sabar lagi untuk melihat putri mereka benar-benar akan sembuh.
"Entah itu Aaric atau Axel yang berhasil menemukannya, aku tidak peduli, yang terpenting sekarang putri kita akan sembuh," ucap Dahlia dengan bersemangat.
"Axel yang menemukannya, bukan Aaric. Tari mengatakan itu berkali-kali pada kita. Karena itu kiita harus berterima kasih pada Axel." Wisnu melihat istrinya.
Dahlia mendengus kesal.
"Siapa tahu jika itu hanya akal-akalan Aaric saja agar tidak ketahuan oleh istrinya," ucap Dahlia kesal.
Wisnu kembali melihat Dahlia kali ini dengan tatapan yang juga sama kesalnya.
"Ingat jika istri Aaric adalah putriku juga, jangan membuatnya tersakiti lagi karena kita sudah cukup membuatnya menderita," jawab Wisnu.
"Terserah apa katamu, yang terpenting sekarang adalah putriku sembuh, aku tidak peduli hal lainnya termasuk itu pernikahan Naina dan Aaric tapi asal kamu tahu jika ternyata Aaric dan Tari masih saling mencintai, maka aku akan mendukung mereka untuk kembali bersatu," ucap Dahlia dengan tegas.
Wisnu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan istrinya.
Keduanya lalu berjalan mondar-mandir di lobby Rumah Sakit menunggu kedatangan si pendonor yang seharusnya sudah sampai.
"Kenapa lama sekali, coba kamu telepon asistenmu yang sedang menjemputnya," ucap Dahlia.
Wisnu segera mengambil ponsel dalam saku celananya, dia terlihat akan menghubungi seseorang namun tiba-tiba ada panggilan masuk.
Wisnu tertegun sejenak melihat deretan nomor telepon yang masuk, dia lalu segera mengangkatnya.
"Ini aku lagi," ucap seseorang di ujung telepon.
"Nisa?" tanya Wisnu mengagetkan Dahlia yang berdiri di sampingnya.
Terdengar Nisa tertawa di ujung telepon.
"Apa kamu sedang menunggu kedatangan calon pendonor untuk putrimu?" tanya Nisa.
__ADS_1
Wisnu tersentak kaget.
"Dia ada bersamaku sekarang," ucap Nisa lagi dengan santainya.