
"Sayang, berhentilah tertawa. Suara beratnya berusaha selembut mungkin untuk tidak membuat istrinya itu marah.
"Kenapa kau menghukum putraku, dia saat ini sedang berjuang untuk menyatukan Kakek dan neneknya". Ucap Lian bangga.
"Tapi yang di lakukanya itu sudah tidak wajar sayang"? Yuze menatap netra kesukaanya itu.
"Apanya yang tidak wajar, semua salah di depanmu !, kamu tidak pernah menghargai kerja keras kedua putraku". Lirih Lian matanya berkaca-kaca.
Dia jadi merasa bersalah saat putranya berjuang mempersatukan ibu dan ayahnya. sementara dirinya, dia hanya bisa diam karena aktivitasnya di batasi suami posesifnya itu.
Yuze menghembuskan nafas beratnya.
" salah lagi " Batinya
"Maaf" dia memeluk istri manjanya itu. Tidak hamil saja istrinya sudah bersikap manja kepadanya, apalagi sedang hamil.
"Pergilah, usir Yuze kepada Putra keduanya itu. Dia tidak ingin membuat istrinya bersedih.
"Terimakasih Ayah, ibu. Ucap Ba Xi'O bernafas lega. Dia menatap kakaknya dengan tajam.
Sementara Lie Zhu yang di tatap acuh tak acuh. Tapi dia meminta maaf di dalam hatinya. Dia tidak bermaksud menyakiti saudara kembarnya itu.
"Harus rugi lagi. Gumanya.
Membujuk saudara kembarnya itu menguras kantong ajaibnya.
Di istana Dewa Takdir. Dewa bintang dan yang lainnya sejak tadi tidak berhenti tertawa bahkan Dewa bulan yang selalu bersikap lebih dewasa ikut menertawakan nasib pilu sahabatnya itu, dia bahkan memegang perutnya yang terasa menggelitik. Melihat wajah Dewa Takdir menjadi perempuan tulen alias perempuan jadi-jadian.
"Berhentilah kalian mentertawakan ku, jika kalian sudah puas silahkan pergi dari istanaku ini ". Usir Dewa Takdir kesal. Bisa-bisanya para sahabatnya itu tertawa di atas penderitaanya.
__ADS_1
Semua Sahabatnya itu tidak ada niatan untuk menghapus wajahnya yang terpampang jelas di cermin ajaibnya.
"Ba Xi'O" Gumanya melafalkan mantra kesialan untuk bocah yang selalu mengganggunya itu.
"Eheem..
Dewa Bulan berdehem saat melihat wajah muram sahabatnya.
" Maaf" Ucapnya.
"Aku datang kesini untuk mengundang kalian. Untuk menghadiri perjamuan yang keseratus tahun umur putriku". Jelasnya.
"Aku harap kalian semua datang". Pinta Dewa. Dewa Bulan langsung pergi dari sana, dia tidak ingin Dewa notulen itu dendam sehingga mengubah takdir hidupnya. Apalagi saat ini dirinya sedang berbahagia lantaran kehadiran putri tercintanya, buah cintanya dengan Jing Huli sang Dewi Rubah Wanita yang sangat di cintainya.
Di pondok sang tabib Tua Xi Chen menepati perkataanya dia menjaga Fang Yin di pondok itu sampai pagi, lebih tepatnya menjaga dari sang Dewa Neraka.
Yu Wang mengerutkan keningnya saat melihat Xi Chen yang duduk santai di ruang tamu.
"Wanitaku yang mengijinkan ku". Ucap Xi Chen malas, sungguh dia merasa saingan cintanya bertambah.
"Siapa wanitamu? Teriak Yu Wang
"Fang Yin, siapa lagi? cuma dia perempuan di pondok ini ". Ucap Xi Chen santai.
"Kau"
Yu Wang ingin melanjutkan perkataannya dan langsung di hentikan sang tabib Tua.
"Sudahlah Nak, Tuan ini tamu di sini, kau tidak boleh bersikap kurang ajar kepadanya". Tegur tabib Tua kepada muridnya itu.
__ADS_1
'"Dia bukan tamu kek, dia hanya menganggu Fang Yin. Gerutu Yu Wang.
Dia semakin kesal lantaran Xi Chen mengatakan Fang Yin sebagai wanitanya. Yu Wang yang sudah menaruh hati kepada Fang Yin sejak dulu merasa tidak terima. Dia juga merasa Xi Chen ingin menguasai Fang Yin, Layaknya seorang kekasih. Yu Wang percaya bahwa sahabatnya itu tidak memiliki perasaan kepada laki-laki misterius yang ada di depanya.
Yu Wang dan tabib tua baru saja pulang dari hutan, mereka bahkan bermalam di sana demi menunggu Hewan suci Naga, ternyata yang mereka tunggu-tunggu tidak datang. Naga suci yang biasa singgah di sungai kecil yang jernih yang ada di hutan dalam untuk sekedar melepas dahaga, ternyata tidak datang tadi malam. Yu Wang berniat mengambil sisik emas yang ada di punggung Naga itu untuk di jadikan jimat. Konon katanya sisik itu dapat menghalangi segala kesialan ataupun mengusir jiwa kegelapan seperti sosok yang di depanya.
Fang Yin yang melihat kedatangan Yu Wang dan kekek tabib langsung menyeduh teh dan beberapa roti kukus yang sederhana. Fang Yin juga memberikanya kepada Xi Chen dengan terpaksa karena di suruh sang tabib tua.
Fang Yin tadi malam bisa di katakan tidak bisa tidur, laki-laki itu sesuka hatinya keluar masuk kekamarnya, bahkan laki-laki itu tidak segan-segan mencium di seluruh wajahnya membuat Fang Yin kesal. Yang membuat Fang Yin tidak habis pikir Xi Chen mengatakan itu imbalan untuknya yang telah menjaganya.
Fang Yin yang tak terima mengeluarkan segala umpatan untuk laki-laki itu dan berakhirlah adegan yang tidak di inginkan Fang Yin. Tapi sialnya tubuhnya malah merespon perbuatan mesum laki-laki itu.
Wajah Fang Yin merah padam mengingat kejadian tadi malam, hampir saja Fang Yin merelakan kesuciannya untuk laki-laki mesum itu.
Xi Chen tersenyum melihat istrinya yang terus memanyunkan bibir dengan raut kekesalanya. Seandainya tabib tua dan Yu Wang sedang tidak di situ, Xi Chen yakin akan mengulang kejadian tadi malam dimana dia bebas menciumi istrinya sesuka hati bahkan istrinya itu sempat membalasnya.
"Fang Yin kenapa bibirmu terluka"? Tanya Yu Wang sambil melihat bibir Fang Yin dari jarak yang sangat dekat.
Xi Chen langsung menarik tubuh Fang Yin ke sampingnya.
"Sopanlah sedikit kepada wanita Tuan. Ucap Xi Chen menatap tajam ke arah Yu Wang.
Fang Yin terkejut dan tersenyum sinis. bisa-bisanya laki-laki itu menyuruh sahabatnya bersikap sopan sementara dia tadi malam melakukan sesuatu di luar batasanya. Fang Yin tidak habis pikir, kenapa ada laki-laki yang tidak tau malu seperti Xi Chen.
Yu Wang semakin emosi melihat sifat posesif laki-laki yang lebih dewasa darinya.
"Kau tidak punya hak melarangku, bahkan aku dan Fang Yin pernah melakukan hal lebih seperti berpelukan, mandi bersama dan tidur bersama. Terang Yu Wang memanas-manasi Xi Chen. Yu Wang juga merasakan kecemburuan, Sekalipun yang di katakannya benar terjadi. Mereka pernah melalui itu semua sewaktu mereka masih anak-anak dan keluarga mereka masih hidup bahagia dan tentram.
"Apa kau bilang "?. Xi Chen meradang, matanya melotot sempurna saat laki-laki yang di anggap Xi Chen masih bocah ingusan. Mengatakan bahwa dirinya dan sang istri pernah berpelukan, tidur sama bahkan mandi bersama. Pikiran Xi Chen sudah berkelana jauh, Pikiran negatifnya membayangkan adegan-adegan yang kotor.
__ADS_1
Xi Chen yang dulu pemain wanita berfikir jika laki-laki dan wanita sudah tidur sama atau mandi sama akan berakhir dengan adegan suami istri.