
Sayang kenapa mengatakan seperti itu?" Xi Chen protes, dia tidak menyukai perkataan istrinya. Seakan dirinya memang sudah gila. Julukan yang disematkan seluruh alam semesta kepadanya.
"Tidak bisakah kau mengontrol emosimu sedikit?" Fang Yin menatap wajah suaminya dengan lembut. Xi Chen yang melihat itu langsung mengangguk.
"Kamu jangan asal mengiyakan, jika hal itu masih kamu ulangi lagi." Fang Yin berusaha memaklumi keadaan suaminya. Apa boleh buat, suaminya sudah terjun kedunia kegelapan.
Xi Chen jadi serba salah. Dia mengiyakan bukan berarti dia tidak akan marah lagi. Karena dia tidak akan bisa menghilangkan amarah iblisnya. Sekali dirinya disenggol pasti dia akan langsung meledak. Xi Chen hanya berusaha tidak akan marah didepan istrinya karena dia tidak ingin menakuti istrinya seperti semalam.
Sementara ditempat lain, Kai mengikuti Jun Hui. Sepertinya laki-laki yang masih bau comberan itu akan mengikuti perjudian gelap yang ada di alam Matahari.
"Aku bertaruh dengan ini," Jun Hui menunjukkan sebuah mutiara berwarna biru gelap. Kai melotot tak percaya. Mahar yang di berikan ayahnya Dewa Salju untuk istrinya, ibu kandung Jun Hui akan di judi kan laki-laki yang tidak berakhlak itu. Seiblis-iblisnya Kai dia tidak pernah menjudi kan barang-barang peninggalan orang tuanya. Tapi laki-laki yang bau comberan itu menggadaikan mahar ibunya padahal ibunya masih sehat walafiat.
Kai menepuk bahu Jun Hui. Jun Hui yang tidak menyadari kehadiran Kai acuh tak acuh. Sudah hal biasa jika banyak orang yang sok akrab kepadanya. Apalagi setelah dirinya mengeluarkan mutiara biru gelap itu. Jun Hui yakin mata semua orang yang berada ditempat itu sedang keluar dari sarangnya.
"Apa kau tidak merasa bersalah telah menjadikan mahar ibumu sebagai barang taruhan?" Bisik Kai di telinga Jun Hui. Jun Hui menggeleng, dia tersenyum sinis.
"Bahkan aku akan menghabiskan semua mahar ibuku, dan harta-harta ayahku juga akan ku habiskan." Balas Jun Hui bangga. Kai semakin terkejut mendengar ucapan Jun Hui. Kai memutar otak cerdasnya. Seingatnya hubungan Jun Hui dengan kedua orangtuanya sangatlah harmonis. Hanya saja semenjak Jun Hui memasuki alam kegelapan kedua orangtuanya sedikit menjauh. Namun mereka masih memperhatikan Jun Hui dari kejauhan. Tapi kenapa laki-laki itu seakan memiliki dendam kepada kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Apa Jun Hui dan Dewa Salju ada konflik?" Batin Kai. Niatnya ingin menghentikan Jun Hui akhirnya dibiarkan saja dan Kai pergi dari tempat judi gelap itu.
"Syaap," Kai menggertakkan giginya saat dia kembali memijakkan kakinya di alam langit. Entah kenapa Hati dan logikanya tidak sejalan. Kalau dulu Kai sangat membenci alam langit bahkan dia pernah bersumpah tidak akan memijakkan kakinya dialam itu. Tapi akhir-akhir ini dia kembali memijakkan kakinya di alam langit. Sepertinya sumpah yang pernah dibuatnya akan dilanggarnya. Dan untung saja sumpah itu hanya di dengar Kaisar Langit dan Dewa Agung sehingga Kai sedikit tenang. Coba jika Dewa notulen itu yang mendengar sumpah Kai. Kai yakin Dewa notulen itu akan terus-terusan membacakan sumpahnya itu.
"Aku akan segera menemui Dewa Salju, apa sebenarnya masalahnya dengan Jun Hui," batin Kai merasa penasaran. Dia tidak pernah penasaran seperti ini.
Saat kakinya ingin memasuki istana Dewa Salju dia bertemu dengan Dewi Petir. Kai langsung mengumpat.
"Cihh, wanita munafik ini," gumanya.
"Kai," Dewi Petir mengerutkan keningnya saat melihat Kai hendak memasuki istana Dewa Salju.
"Fu Kai,"Dewi Petir sedikit berteriak. Kai langsung memutar kepalanya dan mencekik leher Dewi Petir. "Jangan pernah bersikap akrab kepadaku." Kai menghempaskan tubuh kurus Dewi Petir.
"Uhuk-uhuk," Dewi Petir berbatuk dan langsung meraup oksigen sekuat-kuatnya. Laki-laki itu mencekiknya hingga hampir membuatnya memasuki alam kematian. Kai masih sangat membencinya. Sorot mata itu masih gelap seperti dulu.
"Apa kau tidak bisa melupakan masa lalu Kai? Masalah yang terjadi diantara kita sudah lebih dari sepuluh ribu tahun," ucap Dewi Petir bergetar.
__ADS_1
Kai tertawa sinis. Lebih tepatnya tawa itu bercampur kesedihan.
"Kau menyuruhku melupakan kejadian itu? Baiklah aku akan melupakannya asal kau bisa mengembalikanya kepadaku."
"Deg," tubuh Dewi Petir membeku. Setetes butiran kristal mengalir di pipih mulusnya.
"Kai, aku tau aku salah," isak Dewi Petir.
"Lalu kenapa kau menyuruhku melupakan kejadian itu. Ingat satu hal, kejadian itu tidak akan ku lupakan seumur hidupku dan akan kubuat kejadian itu sebagai pengingat bahwa aku pernah memiliki seorang kakak laki-laki yang mencintai wanita munafik dan lebih keji dari seorang wanita iblis yang ada di alamku," ucap Kai penuh penekanan. "Akan kupastikan, kematian kakakku akan kau bayar suatu saat nanti, aku akan menghancurkan keluargamu yang sedang hidup damai itu," bisik Kai penuh dendam. Kilatan kemarahan muncul di mata gelapnya. Dia meninggalkan Dewi petir begitu saja. Kai tidak perduli melihat wanita itu yang mengerang kesakitan. Kai bahkan mengutuk wanita itu lenyap dari alam semesta. Dewi Petir merasakan sesak di hatinya. Dia tau, dia salah tapi tidak bisakah kesalahannya itu dikubur oleh laki-laki itu. Laki-laki yang pernah tumbuh dalam pangkuannya. Laki-laki yang sempat diajarinya ilmu kehidupan. Laki-laki yang pernah menyayanginya seperti menyayangi kakak kandungnya sendiri. Laki-laki yang selalu membelanya walau dia yang salah.
"Maaf..maafkan aku Fu Kai, aku tau aku telah banyak berutang kehidupan kepadamu, hiks," Dewi Petir menangis sesenggukan. Dewi pengawal yang menemaninya hanya bisa menatap Dewi nya dengan sendu. Dia salah satu Dewi yang menyaksikan kehidupan Dewi Petir. Jika semua orang mengatakan Dewinya memiliki hidup terlalu sempurna hal itu sangat salah. Nyatanya Dewinya hidup dalam penyesalan yang tak berujung. Apalagi jika Dewinya selalu menerima sikap dingin Kai secara terus menerus membuat Sang Dewi itu di hantui rasa bersalah seumur hidup. Dewi pengawal merasa kasihan.
"Dewi," Dewi pengawal memapah Dewi Petir, membawanya kesebuah taman yang selalu dikunjungi Dewi Petir jika hatinya sedang bersedih seperti saat ini.
"Tinggalkan aku," guman Dewi Petir.
Dewi pengawal mengangguk dan meninggalkan Dewi Petir sendiri. Seperti biasa, dia akan memberikan ruang kepada sang Dewi. Setidaknya Dewinya bisa melepaskan sejenak beban yang tidak kunjung lepas dari pundaknya.
__ADS_1
"Jika kau hidup, apa kau melakukan hal yang sama kepadaku? " Tanya Dewi Petir sambil menekan dadanya yang semakin sesak.
Taman bunga itu adalah peninggalan seseorang yang sangat berarti di hidup Dewi Petir. Jiwanya tersebar disekitar taman luas itu. Sehingga taman bunga itu tetap tumbuh dengan indah walaupun tidak dirawat.