Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 43


__ADS_3

"Tarik pengawalmu, kalau tidak jangan salahkan aku jika menghanguskan mereka" ancam Xi Chen dengan suara beratnya, bukan hal yang sulit baginya menghadapi ribuan pengawal itu tapi Xi Chen tidak ingin mendapatkan amukan dari putrinya dan dia juga tidak mau berurusan dengan petinggi kerajaan langit yang terkenal cerewet itu.


"Apa kau takut" ucap dewa gunung tersenyum mengejek, baru ribuan pengawal yang di gerakkan nya sudah membuat raja iblis itu gelisah. Pikir Dewa gunung, padahal selama ini dia mendengar kabar bahwa raja iblis itu terkenal dengan keberingasannya.


"Takut? Hahaha, aku hanya mencoba menyelamatkan harga dirimu di depan para rakyatmu" terang Xi Chen membuat Kai kesal. Karena Rajanya itu kembali bersikap bodoh.


"Ckk, kenapa juga dia memikirkan harga diri pak tua itu" guman Kai.


"Baiklah jika kau bersikap keras kepala, suit..suit" dua kali Xi Chen bersiul, sosok berjubah biru bercorak putih langsung hadir di aula itu.


"Hamba Guru" ucap laki-laki itu dengan hormat.


Semua orang terkejut dengan kehadiran laki-laki itu. Siapa yang tidak kenal dengan sosok itu. Dia putra dari dewa salju, laki-laki itu hadir di tempat itu karena mendapatkan panggilan dan memanggil Xi Chen dengan sebutan Guru, itu berarti laki-laki itu murid dari raja iblis. Walaupun Dewa gunung terkejut dia tetap tenang karena dirinya merasa tidak ada masalah dengan laki-laki muda itu.


Sementara Yimin terkejut batin, matanya melotot sempurna saat melihat laki-laki itu. Yimin semakin takut di tempatnya, dia merasakan firasat buruk.


"Kenapa? apa kau mengenalnya?" Tanya Xi Chen saat melihat wajah Yimin bak orang yang ketahuan mencuri.


"Ckk, apa kau gila? Siapa yang tidak kenal dengan putra Dewa salju" ucap dewa gunung sinis.


"Salam nak, silahkan duduk" ucap Dewa gunung dengan sopan sambil mempersilahkan putra dewa salju yang bernama Jun Hui itu duduk. Sementara Jun Hui acuh tak acuh.

__ADS_1


Xi Chen tersenyum sinis " Sungguh bodoh sekali pak tua ini" batin Xi Chen dalam hati.


"Jun Hui, kau kenal dengan wanita itu?" tanya Xi Chen tanpa basa-basi.


"Iya, dia wanita penghangat ranjangku" ucap Jun Hui sambil menatap Yimin dengan tatapan nakalnya.


"Duarr" bak di sambar petir perasaan Dewa gunung dan istrinya saat putra dari dewa salju itu mengatakan putrinya penghangat ranjangnya.


"Aa..apa yang kau katakan nak? ucap Dewa gunung sedikit terbata karena dirinya takut putrinya bukan lagi putri yang polos seperti yang dikatakannya.


"Apa pak tua sepertimu sudah pikun? Dia", tunjuk Jun Hui. "Wanita yang duduk di sampingmu itu adalah wanita penghangat ranjangku, apa kau sudah mengerti? atau kurang jelas dengan ucapanku?" Sambung Jun Hui tanpa ada rasa sopan santun sama sekali kepada dewa gunung yang jauh lebih tua darinya, karena dia memang tidak menyukai yang namanya sikap ramah tamah terlebih sopan santun. Hal itu tidak penting baginya dan dia juga tidak menyuruh orang lain untuk bersikap ramah kepadanya ataupun menghormati dirinya.


"Apa yang dikatakannya benar nak?" Lirih ibu Yimin yang sudah menangis. Yimin diam, mau mengelak pun percuma karena dia yakin Jun Hui pasti memiliki bukti percintaan panas mereka.


"Tapi kami sudah putus ibu" guman Yimin sambil menunduk.


"Braakk" Dewa gunung langsung mengebrak meja yang didepanya.


"Ibumu bertanya, apa yang di katakan Jun Hui itu benar, bahwa kau dan dia sudah melakukan hubungan seperti suami isteri? " Teriak Dewa gunung dengan sorot mata yang tegas. Membuat Yimin semakin takut.


"Aa..aku dipaksa olehnya ayah" pekik Yimin sambil menangis.

__ADS_1


"Plaakk", satu tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Dewa gunung tidak menyangka dia akan memiliki putri yang sangat murah--an seperti Yimin. Sekalipun laki-laki itu memaksanya jika pada dasarnya putrinya memang bersedia maka hal itu akan terjadi.


"Jadi bagaimana, masihkah kau menganggap putrimu masih polos ataupun suci?" Tanya Xi Chen sinis tanpa memperdulikan raut wajah satu keluarga itu.


"Sekali lagi kutanya, kenapa kau menjebak pengawalku? jika kau tidak jujur maka aku akan menikahkan mu dengan Kai" ucap Xi Chen santai tanpa memperdulikan Kai yang sudah mengumpat ditempatnya.


"Apa? aku ingin dinikahkan dengan wanita siluman itu? sial, dasar sahabat tidak punya hati" ucap Kai menatap tajam Xi Chen berharap rajanya sekaligus sahabatnya itu melihatnya tapi sialnya Xi Chen seakan tidak perduli dengan tatapan Kai yang menghunus kearahnya. Xi Chen sengaja mengatakan itu untuk mengerjai sahabatnya Kai. Karena sahabatnya itu telah membuang waktu berharganya dengan sia-sia. Yimin semakin gelagapan, dia tidak mau dinikahkan dengan Kai yang sangat di bencinya itu. Karena laki-laki itu sosok laki-laki yang hidup dengan semaunya.


"Aku tidak mau, aku tidak mau menikah denganya" teriak Yimin histeris.


"Jika kau tidak mau dinikahkan dengan Kai, maka akuilah kesalahanmu, kenapa kau menjebak pengawalku. Aku yakin pengawal ku lah yang menjadi korbannya disini, jadi katakanlah yang sebenarnya, mumpung disini banyak saksi", ucap Xi Chen dengan santai. Bukankah dia sudah menyuruh Dewa gunung membubarkan para pengawalnya? Pak tua itu saja yang ngeyel. Pikir Xi Chen yang tidak memperdulikan Dewa gunung yang saat ini merasa was-was. Dia takut putrinya berkata yang bukan-bukan. Mau membubarkan para rakyatnya juga percuma karena dia sudah kalah malu didepan Xi Chen.


"Aaa..aku sengaja menjebak tuan Kai karena aku ingin mendapatkan mu Tuan Xi Chen, aku sangat mencintaimu melebihi cinta wanita sialan itu kepadamu tuan. Jadi aku mohon jadikanlah aku selirmu bahkan menjadi gundikmu pun aku bersedia." Teriak Yimin prustasi.


"Plaaak, plaaak, " dua tamparan sekaligus kembali mendarat ke wajahnya yang masih merah. Kali ini yang menamparnya adalah ibunya sendiri karena terlalu kecewa dengan putrinya. Terlebih dengan perkataan putrinya itu. Bahkan putrinya itu sengaja menjebak Kai hanya untuk mendapatkan laki-laki yang dicintainya seperti Xi Chen sang Raja iblis.


"Ibu" lirih Yimin. Dia tidak menyangka ibunya yang sangat menyayanginya dan juga berhati lembut tega menamparnya.


"Ibu kecewa kepadamu," pekik sang ibu sambil menangis sejadi-jadinya, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak akibat melihat perubahan putri kesayangannya.


"Bubar", teriak dewa gunung karena hal ini sudah menyangkut urusan pribadi keluarganya. Matanya berkaca-kaca melihat kekecewaan di wajah istrinya. Dewa gunung juga sangat kecewa sekaligus marah. Para pengawal beserta rakyatnya bubar secara teratur sekalipun mereka masih terkejut dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar.

__ADS_1


__ADS_2