
Dewi Petir tiba-tiba tertawa miris. "Jika kau masih hidup aku yakin Kai tidak akan pernah menatapku dengan penuh kebencian dan kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Sungguh, aku ingin waktu bisa diputar kembali, aku bahkan rela kehilangan segalanya asalkan kau kembali hidup, hiks, hiks." Dewi Petir menjerit dalam diam. Menumpahkan segala kesakitan nya yang menggerogoti tulang-tulangnya.
"Bisakah kau hadir walau sebentar, aku..aku sangat merindukanmu, hiks..hiks. Aku merindukanmu Fu Chao," Dewi Petir terduduk lemas. Mengingat perjalanan hidupnya yang begitu sakit dan sangat menyiksa dirinya. Dewi Petir dulunya seorang peri. Dia telah mengabdikan dirinya selama ribuan tahun menjadi peri. Saat dirinya mengalami penindasan yang sudah berulang kali dia dapatkan. Sosok laki-laki anggun dan bermartabat tiba-tiba muncul. Laki-laki itu seperti cahaya yang indah bagi Dewi Petir. Laki-laki itu datang membantunya dengan senyuman yang masih teringat jelas dibenak Dewi Petir. Laki-laki itu masih remaja sama seperti dirinya di pangkuannya ada seorang bayi kecil yang sangat tampan.
"Maukah kau merawatnya?" Tawar laki-laki itu setelah Dewi Petir lolos dari penindasan.
__ADS_1
"Dia adikku. Adik yang sangat ku sayangi. Ibuku meninggal saat melahirkan adikku. Dan ayahku menyibukkan dirinya setelah ditinggal oleh ibu," curhat laki-laki itu kepada Dewi Petir. Walaupun dia baru mengenal Dewi Petir, laki-laki itu tidak sungkan untuk menceritakan kehidupan pribadinya.
Dewi Petir yang tidak memiliki tujuan hidup akhirnya menerima tawaran dari laki-laki berwibawa itu.
Sejak saat itu dia tumbuh dengan laki-laki itu. secara bertahap mereka memiliki perasaan yang sangat mendalam.
__ADS_1
Dewi Petir sudah jatuh cinta pada laki-laki itu sejak pertama kali bertemu, tapi dia tidak berani menunjukkannya karena Dewi Petir merasa tidak pantas. Karena sosok itu adalah Dewa Tinggi dari klan Naga putih. Dimana sosok itu adalah salah satu klan yang memiliki kesucian dialam langit. Semua Dewa dan Dewi memujanya. posisi laki-laki itu sangat Mulia.
Hingga tiba saatnya Dewi Petir juga di nobatkan sebagai Dewi Tinggi. Dia bisa menduduki posisi itu berkat dukungan Fu Chao dan Fu Kai. Fu Chao selalu membantunya dalam berlatih. Hingga suatu hari Fu Chao datang melamarnya dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri, tapi takdir berkata lain Dewi Petir sudah menikah secara diam-diam dengan Dewa Musim karena Dewi Petir sudah mengandung anak dari laki-laki itu. Fu Chao yang mendengar itu hanya menunjukkan senyum mempesonanya seperti biasa. Tidak ada raut wajah kekecewaan dan kesedihan. Fu Chao hanya meninggalkan beberapa kata. "Aku akan selalu berdoa, semoga langit memberikanmu kehidupan yang bahagia dan keturunanmu kelak menjadi yang maha Tinggi seperti yang kamu impikan," kata-kata itu masih terngiang-ngiang di pikiran Dewi Petir.
Dan setelah Dewi Petir melahirkan putranya yaitu Dewa Tinggi Putra Mahkota. Dia pergi, hendak menemui Fu Chao untuk memberikan nama kepada putranya. Karena dia merasa bersalah telah meninggalkan laki-laki itu diam-diam. Ternyata saat dia tiba di istana laki-laki itu. Kejadian yang merenggut sebagian jiwanya terjadi tepat didepan matanya. Fu Chao hendak menebas punggung suaminya Dewa Musim. Dengan panik Dewi Petir langsung melayangkan cambuk petir ungunya beberapa kali kepada Dewa Naga. Tidak memberikan kesempatan kepada laki-laki itu untuk sekedar melawan bahkan menghirup udara sekalipun. Fu Chao meninggal tepat cambukan terakhir petir ungu itu. Laki-laki itu masih tersenyum saat jiwanya mulai hancur.
__ADS_1
"Kakak," Fu Kai berteriak histeris saat melihat jiwa kakaknya berterbangan. Fu Kai belum memiliki kekuatan yang cukup untuk mengumpulkan jiwa kakaknya sehingga jiwa itu pecah dan menghilang begitu sata. Mulai kejadian itu Fu Kai menatapnya penuh dendam yang membara. Dewi Petir yang shock langsung tidak sadarkan diri membuatnya mengalami perdarahan hebat dan dia koma selama lima ribu tahun. Dan hal itu tidak membuat Fu Kai lunak. Dia semakin menjadi-jadi bahkan saat dirinya menduduki posisi Dewa Tinggi Matahari. Fu Kai bersikap dingin dan datar hingga suatu saat dia bekerja sama dengan raja iblis untuk menyerang kerajaan langit. Hal itulah yang membuat laki-laki itu diusir dari kerajaan langit. Sampai saat ini Dewi Petir belum tau apa penyebab Fu Chao melayangkan pedangnya kepada suaminya. Jika Dewi Petir bertanya Dewa musim hanya diam. Dia menyuruh Dewi Petir melupakan kejadian itu dan memulai kehidupan baru. Dewi Petir hanya bisa menuruti perkataan suaminya.
"Memulai kehidupan baru. Nyatanya hidupku penuh dengan serpihan kaca. Bahkan bernafas pun aku tidak kuat. Apa yang harus kulakukan Fu Chao? Haruskah aku menyusul mu? Aku tidak pernah bahagia menjalani hidupku. Tolong.. tolong berikan aku jawaban seperti dulu jika aku tersesat," guman Dewi Petir dalam Isak tangisnya. Ingatan kejadian dimasa lampau membuat Dewi Petir semakin terpuruk. Dia tidak memiliki gairah hidup lagi. Jika saja bukan karena kehadiran menantu dan cucunya Dewi Petir lebih memilih mengakhiri hidupnya. Hidupnya saat ini lebih berwarna semenjak kehadiran cucu-cucunya, sehingga membuat Dewi Petir seribu kali berfikir untuk tidak menyerah. Dia tau suatu saat dia akan mengetahui jawaban yang memuaskan dari kejadian itu. Dewi Petir masih sangat percaya kepada suaminya karena suaminya sosok yang hangat walau sedikit kaku. Selama mereka menjadi suami istri, laki-laki itu selalu berada di garda terdepan. Saat ini Dewi Petir hanya menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengontrol diri waktu itu. Sehingga Dewi Petir selama ini hidup dalam penyesalan yang tak berujung. Dia tidak pernah tenang menjalani hidupnya. Bayang-bayang senyum manis Fu Chao sebelum menutup matanya untuk yang terakhir kalinya selalu muncul di benak Dewi Petir. Bahkan dia selalu memimpikan kejadian itu setiap malam membuat dirinya trauma jika hendak tidur. Dewi Petir menyiram bunga-bunga itu dengan kekuatannya. Dia hanya bisa melakukan hal kecil. Disamping taman luas itu terdapat tembok yang menjulang tinggi. Dan di balik tembok itu ada istana yang terbengkalai. Istana yang dulu pernah di tempati Dewi Petir selama ribuan tahun. Dewi Petir ingin sekali memasuki istana itu tapi Fu Kai telah memasang mantra disana sehingga Dewi Petir tidak bisa menerobos masuk. Laki-laki itu benar-benar menginginkan dirinya menjauh sejauh mungkin. Jadi dirinya hanya bisa menatap dari kejauhan sambil menitihkan air mata. Dewi Petir meninggalkan taman bunga itu tanpa menyadari sosok yang telah mengikutinya sejak tadi. Bahkan menyaksikan dirinya menangis dan kesakitan.