
Yuze yang mendengar putrinya kabur lagi hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Yuze memijit pelan pelipisnya yang mendadak berdenyut. Kaisar langit dan Dewa Agung menahan tawanya. Mereka sudah biasa melihat Dewa Tinggi Putra Mahkota kehilangan wibawa. Sejak kelahiran putrinya Dewa dingin itu tidak pernah lagi menampakkan wajah dingin. Wajahnya saat ini bertambah Tua lantaran tidak sanggup menghadapi sifat putri kecilnya yang super aktif.
"Cari adik mu Lie Zhu ." Lian memberikan perintah kepada putra sulungnya.
"Baik ibu." Lie Zhu pergi dari istana kakeknya. Saat ini Xi Chen dan Fang Yin sudah menetap di istana Fang Yin terdahulu. Agar tidak menghalangi para Dewa dan Dewi yang hendak berkunjung ke istananya, terpaksa Xi Chen mengalah dan tinggal di istana yang menjadi bukti cintanya kepada sang istri. Sementara istana yang di alam iblis kini di tempati Kai dan juga Jun Hui. Itupun sosok yang dua itu tidak pernah betah tinggal disana. Mereka lebih banyak menginap di luar atau sesekali ke istana Xi Chen.
Kai menggeram prustasi saat seorang gadis kecil yang masih anak-anak duduk manis dihadapannya. Anak kecil itu menatap Kai dengan mata legamnya. Senyum manisnya bisa meleleh kan hati yang beku. Tapi tidak bagi sosok yang berwajah datar itu. Kai melihat senyuman gadis kecil itu seperti melihat jurang kesengsaraan.
"Paman, ibuku besok membuat kue kukus persik, aku akan mengantarnya kepada paman." Ucap anak kecil itu dengan wajah sumringahnya. Kai mendengus. " Kembalilah, dan jangan pernah membawa kue-kue itu lagi kesini, aku tidak membutuhkannya, aku tidak menyukai makanan manis." Kai berucap acuh tak acuh
"Paman tenang saja, aku akan meminta pada ibu untuk mengurangi gulanya." Anak itu masih dengan wajah cerianya menjawab sosok dewasa yang di hadapannya.
Jika saja anak itu bukan cucu dari Raja iblis Kai pasti sudah mencekiknya dan membuangnya ke lautan api yang ada di alam iblis.
"Annchi." Suara berat Kai mampu membuat perasaan Annchi tak karuan. Dia paling paham raut wajah pamannya jika sedang memanggilnya dengan suara yang menekan.
"Paman tidak ingin mengulangi perkataan paman, kembalilah." Kai menunjukkan wajah dinginya.
"Paman." Annchi melihat wajah Kai dengan sendu.
"Annchi takut pulang sendiri." Annchi menunduk, dia takut melihat netra Kai yang menyala-nyala.
Kai mendengus, Annchi datang tanpa Dewi pengawal. Saat anak kecil itu tiba di istana, wajah anak kecil itu menunjukkan kebahagiaan. Sekarang wajah itu sedang merayunya. Kai tidak ingin tergoda. Dia tidak mau lagi tertipu dengan rayuan anak kecil itu. Annchi sudah terlalu sering membodohinya.
"Jika kau takut pulang kenapa kau kabur?"
Kai yakin pasti Annchi kabur lagi dan Kai juga harus siap-siap menjadi sasaran empuk kakak anak kecil yang dingin itu yaitu Lie Zhu.
"Aku hanya merindukan paman. Annchi sudah lama tidak pernah lagi melihat paman, bahkan ke istana kakek, paman tidak pernah datang lagi kesana." Annchi menatap wajah Kai dengan hidung yang sudah memerah. Siap mengeluarkan kristal beningnya. Sikapnya yang mengemaskan itu mampu membuat seorang Kai antara gemas dan geram.
__ADS_1
"Baiklah, paman akan mengantarmu." Kai mengalah. Dia juga tidak ingin Annchi tinggal terlalu lama, takut seluruh penghuni Istana Dewa Tinggi Putra Mahkota mengamuk.
Annchi tersenyum senang.
Di depan istana Dewa Tinggi Putra Mahkota. Laki-laki berwajah tampan dan memiliki warna mata yang sama dengan Annchi sedang menatap Kai dengan tatapan tajamnya.
"Annchi." Suara itu masih bisa mengontrol emosinya saat menyebut nama sang adik tercinta.
"Masuk." Lie Zhu memberi ruang kepada adiknya.
"Paman, terimakasih telah mengantar Annchi. Annchi berutang budi pada paman."
Kai acuh tak acuh dia berbalik tanpa melihat kebelakang dia tidak memperdulikan perkataan Annchi. Wajah Annchi kembali berkaca-kaca, lelehan kristal itu akhirnya jatuh. Annchi menatap wajah kakaknya.
"Kakak jahat, tatapan kakak pada paman Kai terlalu jelek sehingga paman Kai takut." Annchi merengek dan meninggalkan Lie Zhu. Lie Zhu menghembuskan nafas beratnya, adiknya masih sangat polos. Dia tidak ingin menggertak adiknya.
"Syaap " Lie Zhu muncul didepan paman Kai.
"Jangan menggangguku." Kai berucap datar.
"Tidak bisakah paman menjauh dari Annchi?"
Lie Zhu meminta untuk kesekian kalinya.
Kai terkekeh kecil, bukankah seharusnya dia yang meminta hal itu? Lalu kenapa kakak anak kecil itu bertingkah seakan Kai lah yang menjadi dalangnya.
"Jangan katakan itu kepadaku."
"Paman, Annchi masih anak kecil, dia tidak akan mau menjauh dari paman. Paman seharusnya mengerti."
__ADS_1
Kai langsung membalas tatapan nyalang Lie Zhu.
"Apa kau buta dan tuli? Adikmu yang selalu menempel kepadaku, aku juga tidak ingin di ganggu adikmu yang cerewet dan banyak maunya itu."
"Paman, Annchi masih anak kecil, wajar dia cerewet karena dia masih ingin memahami dunia.
"Oh, haruskah dia mengganggu ku sepanjang hari? Bukankah dia mempunyai dua kakak yang pintar dan dia juga memiliki seorang ayah yang sangat hebat?" Kai menggeram, meninggalkan Lie Zhu yang berwajah datar. Lie Zhu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia terlalu menyayangi adiknya sehingga tidak ingin melukai hati yang sensitif itu. Lie Zhu tau paman Kai tidaklah bersalah tapi Lie Zhu tidak tau lagi harus berbuat apa. Adiknya yang manis itu terlalu banyak akal sehingga selalu saja lolos. Lie Zhu sudah ratusan kali melakukan cara untuk memisahkan adiknya dengan paman Kai, tapi adiknya yang pintar itu selalu saja bisa kabur.
Xi Chen memasuki istananya. Sudah satu minggu ini dia tidur di kamar istananya sendirian. Xi Chen mengerutkan keningnya saat melihat Kai.
"Di mana cucuku?"
"Sudah aku pulangkan."
Kai melongos pergi dari hadapan Xi Chen.
"Bagus, seorang laki-laki harus bertanggung jawab. Memulangkan wanita dengan aman dan selamat." Xi Chen berkata bodoh.
Kai menghentikan langkahnya. Suasana hatinya sudah tidak bagus saat bertemu dengan Annchi di tambah lagi saat bertemu dengan Lie Zhu dan sekarang hatinya semakin buruk saat mendengar perkataan raja iblis.
"Braakkk."
Xi Chen mengusap dadanya saat suara pintu kamar itu mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga.
"Tidak ada tempat yang membuatku tenang." Guman Xi Chen.
"Guru, ada satu tempat yang membuat hati guru tenang." Jun Hui tiba-tiba saja muncul dari belakang Xi Chen.
"Dimana itu." Xi Chen penasaran.
__ADS_1
"Alam kematian guru. Hahaha." Tawa Jun Hui pecah dan langsung menghilang di telan kabut.
Xi Chen menggeram. "Jangan pernah muncul di hadapanku bocah ingusan. " Suara Xi Chen menggelegar. Xi Chen mengutuki nasibnya yang malang sejak menjaga jarak dari istrinya. Semenjak Fang Yin hamil. Fang Yin tidak menyukai Xi Chen yang selalu ingin dekat dengannya.