Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 70


__ADS_3

Walaupun adiknya masih bayi tapi dia sudah memiliki nama. Bahkan Kaisar Langit sendiri yang menobatkan nama itu dan saat ini adik cantiknya di kenal sebagai calon Dewi suci Annchi.


"Aku tidak perduli dengan namanya," Kai berkata ketus. Mau siapapun nama bayi kecil itu dia memang tidak perduli karena Kai merasa itu tidak penting. Lie Zhu mendengus. Pamannya itu sungguh tidak punya perasaan.


Fang Yin, Lie Zhu dan Kai akhirnya pergi ke kerajaan langit, tepatnya ke istana Dewa Tinggi Putra Mahkota. Kai menggertakkan giginya saat alam itu kembali dipijaknya. Niat awalnya tidak ingin lagi memijakkan kakinya di kerajaan itu kini harus menelan bulat-bulat janjinya itu, karena dalam satu hari ini dirinya bahkan sudah dua kali memijakkan kakinya disana.


"Ibu," Lian memeluk ibunya.


"Rindu ibu," rengeknya manja.


"Ckk, ingat kau sudah seorang ibu sekarang," Fang Yin menarik hidung kecil putrinya dengan gemas. Dari pada mengeluh lebih baik dia bersyukur karena putrinya telah memberikannya cucu yang manis-manis kepadanya. Awalnya Fang Yin merasa keberatan karena putrinya menikah dengan umur yang masih sangat muda. Dirinya saja menikah dengan Xi Chen sewaktu umur sepuluh ribu tahun. Ini putrinya menikah umur seribu tahun. Menantunya itu sungguh keterlaluan menikahi wanita yang jauh di bawah umurnya.


"Tapi aku ingin seperti ini ibu," Lian memanyunkan bibirnya. Salahkah dia bermanja-manja kepada ibunya? Dia juga perlu pelukan hangat ibunya.


Fang Yin memeluk cucu manisnya yang masih sangat kecil itu. Mata legam itu begitu mirip dengan mata ayahnya. Tapi milik cucunya jauh lebih enak dipandang.


"Nenek punya hadiah untuk cucu nenek yang cantik ini," Fang Yin mengeluarkan sebuah kalung yang sama dengan yang tergantung di leher cucunya.


Lian dan Yuze yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas. Yuze melirik Kai yang duduk tenang walau sebenarnya hatinya sangat cemas. Takut bayi kecil itu tidak mau menerima kalung pemberian Fang Yin.


Kai tersenyum sangat tipis saat Annchi menerima kalung pemberian neneknya. Tapi saat Kai hampir bersorak. Suara cempreng bayi kecil itu menggelegar di seluruh istana milik Dewa Tinggi Putra Mahkota.


"Oeek..Oeek," Fang Yin gelagapan saat mendengar suara merdu cucunya.


Lian langsung mengambil alih putrinya dan berusaha menenangkan putrinya. Sementara kalung pemberian Kai masih dileher Annchi.

__ADS_1


"Coba lepaskan kalung yang ibu kasih, takutnya dia tidak suka." Ucap Fang Yin cemas. Dan benar saja bayi mungil itu langsung diam saat kalung pemberian neneknya diambil oleh ibunya.


"Ckk, masih kecil tapi dia sudah tau barangnya ditukar dengan yang palsu ," guman Fang Yin. Fang Yin melihat Kai yang berwajah muram. Fang Yin merasa bersalah karena tidak bisa menolong sahabat suaminya itu.


"Biarkan saja," ucap Kai datar dan langsung menghilang dari sana. Dia akan menunggu bayi kecil itu sampai bisa diajak berbicara. Kai harus lebih sabar lagi.


"Ibu kenapa datang tanpa ayah? Apa ibu bertengkar dengan ayah?" Tanya Lian penuh selidik, dia baru sadar ibunya datang bersama putra sulungnya. Yuze mengambil alih putrinya, karena dia tau percakapan ibu dan anak itu sedikit sensitif.


"Ibu hanya ingin bersenang-senang, kamu tau kan ayahmu seperti apa? Dia tidak akan mengijinkan ibu keluar dari istananya, jadi ibu pergi diam-diam dan nenekmu yang membantu ibu," ucap Fang Yin jujur.


"Tapi ibu, ayah kasihan ibu tinggal sendiri tidak ada yang mengurus ayah," keluh Lian pada ibunya.


Fang Yin menghembuskan nafas beratnya.


"Ibu pergi hanya satu minggu saja, lagian sudah ada paman Kai dan paman Jun Hui yang selalu siap mengurus ayahmu," Fang Yin berusaha tidak berpengaruh pada perkataan putrinya. Sejatinya dirinya juga sedikit cemas. Baru satu hari ini dia meninggalkan suaminya Fang Yin sudah merasa rindu. Perasaanya tidak bisa di bohongi.


"Lian lebih tenang jika ibu yang mengurus ayah," Lian tetap membujuk ibunya.


"Apa ibu tidak takut jika ayah marah?" Lian berguman namun masih bisa didengar oleh Fang Yin.


"Sudahlah, tidak usah membahas ayahmu, sekarang tunjukkan kamar ibu. Ibu ingin istirahat." Fang Yin mengalihkan pembicaraan putrinya dia tidak ingin berpengaruh dan berakhir kembali ke istana suaminya.


Karena Fang Yin tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan suaminya, akhirnya pagi-pagi buta dia berkeliling sendiri di istana milik menantunya, Dewa Tinggi Putra Mahkota.


Dan langkahnya terhenti saat melihat pohon buah persik yang begitu banyak dan sedang berbuah lebat.

__ADS_1


"Akhirnya aku menemukan tempat yang cocok untuk bersembunyi." Guman Fang Yin tersenyum riang.


Fang Yin menyusuri pohon-pohon itu satu persatu, aroma manis yang keluar dari buah persik membuat bibir mungilnya ingin melahap buah segar itu. Fang Yin mengerutkan keningnya saat melihat seluit yang begitu familiar.


"Paman Dewa Agung," pekik Lian saat melihat Dewa Agung sedang bermeditasi.


"Ckk, anak dan ibu sama saja, sungguh harga diriku tidak ada lagi di depan kedua wanita Phoenix itu," batin Dewa Agung berusaha fokus. Dulu dia juga ketahuan oleh Dewi Tinggi Phoenix, sekarang juga dia ketahuan oleh Ratu Dewi tinggi phoenix. Dewa Agung berfikir hidupnya selalu diruang lingkup penguasa phoenix itu.


"Paman jangan pura-pura tuli, aku tau paman mendengar ku," Fang Yin duduk santai disamping Dewa Agung, membuat Dewa Agung kehilangan fokusnya. Lian dulu mengejeknya dengan mengatakan dirinya sebagai pencuri sekarang ibunya mengejeknya dengan mengatakan dirinya tuli. Sungguh mulut-mulut Dewi Phoenix itu sangat tajam. Dewa Agung membuka netranya.


"Kenapa kau disini?" Dewa Agung sedikit was-was takut muridnya yang kejam itu juga ada disana dan akan mengejeknya habis-habisan.


"Ini istana putriku, hal yang wajar jika aku disini. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa paman Dewa Agung. Kenapa paman disini?" Fang Yin menatap dewa Agung penuh selidik.


"Paman hanya olahraga pagi," ucap Dewa Agung seenaknya.


"Olahraga? Apa paman tidak salah? Ini masih subuh-subuh sekali," Fang Yin mengerutkan keningnya.


"Paman sebelum olahraga menghirup embun pagi dulu, takut matahari langsung naik dan melenyapkan embun pagi,"


"Sejak kapan matahari tembus ke perkebunan pohon persik ini paman? Bukankah matahari terhalangi oleh pohon dan daun-daun persik ini? Apalagi pohonnya menjulang tinggi dan daunnya begitu lebat, aku yakin embun-embun itu tidak akan mudah lenyap," Fang Yin memberi analisanya.


"Ckk, anak dan ibu sama-sama suka berdebat," batin Dewa Agung mengingat Lian juga sama seperti ibunya.


"Berhentilah mengoceh, jangan ganggu paman, lebih baik kau kembali pada suamimu yang sedikit gila itu," Dewa Agung memejamkan matanya dia tidak akan menang melawan putri mantanya itu.

__ADS_1


__ADS_2