Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 47


__ADS_3

Xi Chen dan Fang Yin memasuki istana Phoenix. Disana telah menunggu, mertua, putrinya, menantunya dan juga kedua cucu geniusnya. Mereka seakan mengetahui kedatangannya dengan Fang Yin. Tatapan dari sosok yang berbeda gender dan usia itu sangatlah berbeda-beda. Terlebih tatapan yang diberikan ibu mertuanya seakan ingin memarahi Xi Chen habis-habisan, hanya tatapan putrinya lah yang begitu antusias menyambut kedatangan kedua orangtuanya. Jika menantunya yang balok es itu jangan ditanya lagi, wajah Dewa Putra Mahkota Heng Yuze sedatar-datarnya mengalahkan tembok istana alam phoenix. Xi Chen melirik kedua cucunya, jika yang satu masih menunjukkan ekspresi senyum pepsodent nya maka yang satu lagi menunjukkan wajah datar plus tatapan tajam seakan kakeknya itu telah berutang banyak kepadanya. Xi Chen tetap melangkah kan kaki panjangnya kedalam aula itu dengan penuh percaya diri. Berdiri tepat di depan sang ibu mertua.


"Salam kepada ibu mertua," ucap Xi Chen penuh penekanan, seakan dirinya mengingatkan mantan ratu phoenix itu bahwa saat ini Xi Chen kembali menjadi menantunya. Mantan ratu phoenix mendengus.


"Minggir, aku tidak perlu salam mu." Mantan ratu phoenix itu melewati Xi Chen begitu saja dan menghampiri putrinya yang berada di belakang menantu yang belum diakui itu.


Mantan Ratu Phoenix melihat wajah teduh putrinya. Dia sangat merindukan putri kecilnya itu.


"Bisa ibu memelukmu? Lirih mantan ratu phoenix.


Fang Yin mengangguk dan mencoba tersenyum. Dirinya tidak menyangka bahwa dia putri dari seorang penguasa alam phoenix.


Mantan ratu phoenix langsung memeluk putrinya dan menumpahkan tangisannya.


"Kenapa kau lama sekali kembali nak, kau tau ibu sangat kesepian dan sangat menderita selama kau tinggal nak," keluh mantan ratu phoenix dengan suara seraknya. Fang Yin mengusap-usap punggung yang bergetar itu. Netra emasnya menyala-nyala pertanda batinya juga ikut sedih. Fang Yin ikut menangis, dia merasa menjadi putri yang sangat kejam karena telah meninggalkan ibunya.


"Maafkan aku ibu," guman Fang Yin dengan mulut bergetar. Walaupun ingatanya telah hilang, Fang Yin merasakan keakraban yang sangat dalam di lubuk hatinya kepada mantan Ratu Phoenix itu.


Lama kedua insan yang saling mengasihi itu menumpahkan rasa rindunya, sehingga mengabaikan orang-orang terdekatnya yang sedang menatap mereka sedikit jengkel.


"Tidak bisakah nenek buyut ini nanti saja melanjutkan tangisannya," gerutu Ba Xi'O dalam hati, dia juga ingin memeluk nenek cantiknya.

__ADS_1


"Ayok duduk sayang, ibu tau pasti mereka


juga ingin memelukmu," ucap mantan ratu phoenix dengan suara tawanya.


Fang Yin duduk di samping ibunya.


"Apa nenek tidak ingin memeluk kami? ucap Ba Xi'O dengan suara kekanak-kanakannya, tapi sebelum Fang Yin menjawab anak kecil yang gesit itu langsung menyelonong masuk ke pelukannya.


"Ckk, dasar bocah nakal," ucap Xi Chen sambil tersenyum kecil.


" Jangan terlalu lama memeluk nenekmu," timpal Xi Chen kembali membuat Lian geleng-geleng kepala melihat sifat posesif ayahnya. Padahal cucunya hanya memeluk neneknya. Walaupun kedua putranya sudah sering bertemu ibunya, tapi kali ini sebuah pertemuan yang berbeda. Dimana mereka berkumpul dengan ibunya karena adanya ikatan darah.


Fang Yin memeluk satu persatu keluarganya itu tapi tidak dengan Dewa Tinggi Putra Mahkota dia memberi salam hormatnya kepada ibu mertuanya.


"Berdirilah, tidak selayaknya seorang Dewa Tinggi memberi hormat kepadaku yang masih rendah ini," ucap Fang Yin tegas. Aura keibuannya langsung keluar membuat Lian dan yang lainnya sedikit terkejut.


"Istriku memang selalu bisa menempatkan dirinya," batin Xi Chen merasa bangga.


"Terimakasih ibu," ucap Dewa Putra Mahkota sopan.


Kini pandangan Fang Yin tertuju kepada sosok wanita yang pernah di peluknya sewaktu di alam petir. Sosok gadis yang tumbuh tanpa dirinya, seorang gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu karena ayahnya tidak menikah sampai bertemu dengan dirinya kembali.

__ADS_1


"Ibu," mulut Lian bergetar memanggil ibunya, netra emasnya menyala-nyala seakan membalas netra emas milik ibunya.


"Hei kenapa menangis, bukankah ibu sudah pernah memelukmu? Fang Yin merapikan surai panjang milik putri kecilnya. Putrinya yang saat ini sedang mengandung calon cucunya kembali.


"Tapi itu beda ibu, chang'er sangat merindukan ibu," rengeknya manja membuat Fang Yin tidak bisa menahan air matanya. Walaupun dirinya tidak ingat bagaimana dirinya melahirkan putrinya itu, tapi Fang Yin merasa tersayat-sayat melihat kerinduan di netra emas putrinya. Dia merasa ibu yang sangat kejam karena tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Fang Yin memeluk erat tubuh kecil putrinya mencium berulang-ulang wajah putih itu. Membuat semua yang disana merasa terharu termasuk Heng Yuze. Dia tidak pernah mengeluarkan air mata berharganya selain dulu, sewaktu istrinya melahirkan sikembar. Tapi kali ini Yuze merasa terharu sekaligus sedih melihat istrinya yang begitu merindukan ibu mertuanya.


"Sudah, jangan terlalu banyak menangis nanti wajah putriku dan cucuku yang cantik ini jadi bengkak, aku takutnya para suami kalian yang memiliki wajah-wajah es itu tidak mengizinkan kalian keluar istana, karena malu melihat wajah para istrinya yang berubah menjadi jelek." Ucap mantan ratu phoenix sambil melirik Xi Chen dan Yuze yang saat ini acuh tak acuh mendengarkan perkataanya.


"Ayok, ibu sudah menyiapkan acara untuk menyambut kedatanganmu sayang," ucap ratu phoenix antusias.


"Acara," Xi Chen memicingkan matanya lantaran dirinya belum mendengar hal ini dari pengawal pribadinya ataupun pengawal bayangannya.


"Kau jangan banyak bertanya, simpan pertanyaan mu itu untuk besok," mantan ratu phoenix seakan mengerti dengan ekspresi Xi Chen yang ingin melayangkan aksi protesnya. Xi Chen mengerutkan keningnya saat melihat senyum aneh ibu mertuanya, seakan memberikan kejutan untuknya yang mungkin membuatnya akan rugi besar.


"Apa yang di sembunyikan ibu dariku," batin Xi Chen sedikit was-was, ibu mertuanya itu terkenal dengan keberaniannya.


"Syaap," dalam sekejap mata mereka semua menghilang dari aula istana alam phoenix.


"Syaap," Mereka tiba tepat di sebuah istana yang memiliki ukiran unik. Jika istana milik Dewa Tinggi Putra Mahkota terkenal mewah dan megah, maka istana itu terkenal dengan keunikannya sehingga terlihat mewah sekaligus tampak elegan. Seakan yang menciptakan istana itu menumpahkan segala perasaannya untuk mengukir setiap sudut istana itu.


"Deg," jantung Fang Yin berdetak kuat saat melihat istana itu. Dia merasa istana itu tidak asing. Fang Yin tidak bisa menjelaskan apa yang di rasakanya saat ini.

__ADS_1


Xi Chen menggertakkan giginya saat dirinya memijakkan kakinya di istana itu. Istana yang dulu diberikannya sebagai tanda cintanya untuk istrinya sekaligus mahar yang sangat berharga untuk istrinya. Dan Xi Chen telah berniat ingin mengganti warna istana itu lalu memberikanya kembali sebagai mahar untuk kedua kalinya kepada istrinya Fang Yin.


__ADS_2