
Netra jernih dan menyilaukan mata bayi mungil itu menghipnotis Kai sejenak. Kai terpaku melihat keindahan bola mata yang berwarna hitam bercampur bening itu. Warna bola mata itu seakan menyadarkan Kai bahwa dunia masih menyimpan keindahan.
Dewa Agung tersenyum saat melihat wajah teduh mantan muridnya itu. Raut wajah yang belum pernah terlukis lagi sejak mantan muridnya itu memasuki alam kegelapan.
Kai menyerahkan bayi lucu itu kepada Lian dan pergi dari sana dengan perasaan yang tidak nyaman di hatinya.
Karena putrinya masih perlu esensi kehidupan Yuze, kaisar langit dan Dewa Agung menempatkan bayi cantik itu ke kolam suci milik Yuze.
"Bisakah aku memberikan nama untuknya?" Ucap Kaisar langit penuh harap.
"Silahkan kakek, yang penting namanya cantik dan menggemaskan," Lian tersenyum membayangkan nama putrinya.
"Bagaimana jika namanya "Annchi," Kaisar begitu semangat memberikan nama untuk calon Dewi langit itu.
Lian dan Yuze berpikir sejenak. Nama itu sangat sederhana namun memiliki arti yang sangat indah yaitu Bidadari surga. Kelak putrinya akan menjadi wanita cantik dan berbudi luhur di kerajaan langit. Lian dan Yuze mengangguk setuju membuat Kaisar langit senang.
"Adik Annchi, nama mu sungguh sangat jelek," teriak Ba Xi'O membuat Kaisar langit melotot. Annchi yang di kolam suci seketika menangis histeris.
"Ba Xi'O," Lian menggeram karena putranya itu mengejek nama pemberian Kaisar langit kepada putrinya.
Yuze langsung menenangkan putrinya.
"Nama putri Ayah sangatlah indah, nama yang cantik seperti wajahnya," ucap Yuze menekankan kata-katanya supaya putra keduanya itu mendengar.
__ADS_1
"Annchi jelek, Annchi nama yang sangat jelek," Ba Xi'O masih mengejek nama adiknya dan langsung pergi menjauh sambil tertawa terbahak-bahak, takut kakek buyut Kaisar langit menarik telinganya.
"Maaf kakek, maafkan Ba Xi'O," Lian meminta maaf kepada kakeknya Kaisar langit. Lian tidak enak melihat wajah murung Kaisar
"Tidak apa-apa Chang'er, kakek maklum, namanya anak kecil," ucapnya, tapi netranya mengikuti kemanapun Ba Xi'O pergi.
"Awas saja bocah nakal," batin Kaisar langit. Kepalanya langsung berdenyut, saat anak kecil itu kembali mengerjainya.
Setelah menyambut kelahiran cucu tercinta mereka, Xi Chen dan Fang Yin kembali keistananya yaitu istana yang dulu dipersembahkan untuk istrinya itu.
"Sayang, apa kamu tidak takut melahirkan seperti putri kita?" Xi Chen masih meringis mengingat kejadian itu, untung saja dia tidak ikut menyaksikan kelahiran kedua cucunya si kembar. Xi Chen yakin dia akan pingsan di tempat jika menyaksikan hal itu. Katakanlah dia berubah menjadi melow, karena memang hatinya sungguh tidak tega melihat wanita tersayangnya kesakitan.
"Itu sudah takdir perempuan sayang, jika langit masih mempercayai kita untuk memiliki anak, aku akan menerimanya dengan sangat bahagia," Fang Yin menjawab sambil tersenyum. Membayangkan dirinya mengandung lagi. Pasti akan sangat menyenangkan sekaligus mendebarkan.
"Ckk, aku lupa bersembunyi," batin Fang Yin pasrah. Fang Yin mencoba kembali menikmati sentuhan suaminya yang sempat membuatnya tidak berselera. Menolak suami katanya dosa.
*
*
Pagi hari telah tiba, sinar matahari begitu menyilaukan mata. Kedua sosok yang masih tergolong pengantin baru itu masih tidur sambil berpelukan.
"Sampai kapan kau terus menghajar istrimu, apa kau tidak tau? Kerajaan langit sedang menunggu kehadiran Fang Yin" ucap Kai menggema ditelinga Xi Chen.
__ADS_1
"Shiit," Xi Chen menggeram saat suara telepati sahabatnya itu begitu nyaring sehingga membuat telinganya berdengung.
"Ada apa sayang, aku masih menggantuk dan juga lelah sayang," guman Fang Yin. Dia merasakan pergerakan suaminya. Fang Yin tidak ingin suaminya kembali menerkamnya, padahal suaminya itu sudah menghajarnya sampai dini hari.
"Sayang bangun, kaisar tua itu sedang menunggumu," ucap Xi Chen sambil mengecup seluruh wajah istrinya dengan gemas. Akhirnya istrinya kembali menjadi Dewi seperti dulu.
"Menunggu ku?" Fang Yin membuka netranya, dia bingung kenapa Kaisar terkemuka itu menunggu kehadirannya di kerajaan langit.
"Iya sayang, Kaisar langit ingin menobatkan mu kembali sebagai Dewi. Sayang tidak lupa kan dengan Ingatan mu yang telah kembali?" Xi Chen menatap lekat netra istrinya.
"Aku ingat, tapi kenapa aku dinobatkan lagi? Aku kan sudah Dewi sejak dulu," ucap Fang Yin malas. Bibir Xi Chen berkedut, istrinya itu telah kembali dengan sifatnya yang menggemaskan sekaligus menjengkelkan baginya. Sifat yang selalu membuatnya rindu-rindu kesal pada istri tercintanya itu.
Setelah melalui perdebatan plus-plus ala-ala Xi Chen. Akhirnya Fang Yin menuju ke kerajaan langit. Fang Yin menggunakan jubah kebesarannya, bercorak Phoenix emas perpaduan merah dan hitam.
Fang Yin memasuki Aula dengan penuh percaya diri. Fang Yin telah kembali pada sosok Dewi Phoenix yang bernama Bao-yu. Namun dia tetap menggunakan nama barunya yaitu "Fang Yin" sifat keangkuhan dan datar seperti yang dulu telah hilang berganti dengan kelembutan dan keteduhan di wajah cantiknya. Semua penghuni Aula itu hanya bisa menelan ludahnya melihat kecantikan wanita itu. Bertambah satu lagi dewi yang sangat cantik di kerajaan langit, dan sayangnya wanita itu sudah ada yang mengikat. Yaitu sang raja iblis. Walaupun Xi Chen tidak ikut mendampingi istrinya, para Dewa itu tidak berani menyentuh sosok Dewi cantik itu. Dan jangan sampai suaminya yang kejam itu mengetahui istrinya digoda pria lain. Jika tidak maka siap-siaplah merasakan kekejaman laki-laki itu.
"Selamat Nak," Ucap Dewa Agung setelah penobatan Fang Yin selesai.
"Terimakasih paman," ucap Fang Yin tersenyum. Bibir Dewa Agung berkedut saat wanita cantik yang dihadapannya telah kembali memanggilnya seperti dulu.
"Apa paman masih memperjuangkan ibu?" Tanya Fang Yin serius. Karena dia berinkarnasi begitu lama sehingga dirinya tidak tau apa saja yang sudah dilalui para penghuni kerajaan langit terutama Dewa Agung.
Dewa Agung terkekeh kecil.
__ADS_1
"Paman dan ibumu sudah baikan dan kembali berteman seperti dulu, paman tidak ingin egois dan memaksa ibumu menerima paman," ucap Dewa Agung sendu. Rasa itu masih ada dan sama seperti dulu. Wanita itu tidak akan tergantikan sampai kapanpun. Mungkin itulah bayaran yang diberikan langit untuknya, karena telah mendapatkan keagungan dari seluruh alam semesta.