Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 81. TAMAT


__ADS_3

Annchi duduk manis di ruang tamu istana kakeknya. Hari ini dia berniat memamerkan pakaian barunya pada paman Kai. Sosok anak kecil itu akan selalu menunjukkan sesuatu kepada Kai tentang semua yang dia gunakan atau yang dia makan. Annchi akan dengan semangat menceritakan hari-hari yang dia lalui di alam atas pada laki-laki dingin itu.


Lie Zhu melihat wajah adiknya yang masih mengukir senyum terindahnya. Lie Zhu merasa cemburu melihat senyum manis adiknya yang jarang dilihatnya itu.


"Paman Kai kemana? Kenapa istana ini terasa sepi. Paman Jun Hui juga tidak terlihat, biasanya jika paman Kai tidak ada, paman Jun Hui akan datang menemui Annchi dan memberitahu keberadaan paman Kai." Bibir mungil itu dengan lancar mengeluh.


Jun Hui yang ada di kamarnya acuh tak acuh. Jun Hui lebih memilih rebahan dari pada bertemu sosok yang menjadi dalang dari kepergian pamannya.


"Maafkan paman Annchi, mulai sekarang paman juga harus jaga jarak denganmu." Jun Hui membatin lesu.


Annchi memasuki istana kakeknya yang satu lagi dengan wajah muram. Lie Zhu yang melihat itu menghembuskan nafas beratnya. Dia terpaksa berbohong agar adiknya tidak terus-terusan menunggu Kai.


"Kakek." Bola mata legamnya berkaca-kaca menatap sang Kakek.


Xi Chen yang melihat itu menelan salivanya.


"Ada apa sayang?"


"Kemana kakek menyuruh paman Kai?" Annchi semakin menatap kakeknya dengan sendu. Lelehan hangat langsung mengalir di wajah putihnya.


"Ada masalah sedikit, sehingga paman Kai harus pergi menyelesaikan masalah itu."


"Berapa lama paman pergi?"


Xi Chen semakin gelisah. Cucunya sangat jenius sehingga dia tidak bisa di bohongi.


"Sampai masalahnya selesai sayang. Kenapa? Apa kau sudah merindukan paman mu itu?

__ADS_1


Fang Yin yang menjawab karena mulut suaminya masih tertutup rapat. Annchi mengangguk.


"Mudah-mudahan urusan paman cepat selesai sehingga cepat kembali dan menemani Annchi seperti biasanya." Fang Yin mencoba mengeluarkan kata-kata yang tidak menimbulkan kecurigaan. Jangan sampai cucunya tau bahwa Kai telah pergi kedunia bawah alam iblis. Jika hal itu sampai dia tau maka siap-siaplah mereka akan dikelabui oleh gadis imut itu


"Benarkah." Annchi mengusap air matanya. Terdapat harapan yang sangat besar di kedua bola matanya.


Xi Chen menatap Fang Yin sedikit protes. Xi Chen menyiratkan pertanyaan kenapa istrinya harus mengatakan hal seperti itu. Xi Chen yang melihat gerakan mata istrinya hanya bisa pasrah. Dia percaya istrinya bisa mengatasi permasalahan yang baru saja di buat dan semakin menambah kebohongan untuk anak kecil itu.


Hari telah berlalu.


Beberapa bulan kemudian istana Ratu Phoenix sedang mengalami kesibukan. Dimana sosok yang berkuasa di alam Phoenix itu sedang berusaha mengeluarkan buah hatinya dengan seorang laki-laki yang semakin hari semakin bodoh akibat cintanya yang terlalu buta.


"Sayang, lebih baik cepat keluarkan anak ini, aku tidak sanggup melihatmu kesakitan." Ucap Xi Chen sambil menggenggam tangan kecil istrinya yang bergetar hebat. Fang Yin semakin kesal mendengar perkataan suaminya. Lian dan beberapa Dewi tabib menahan tawa sekaligus kekesalan di hati mereka. Saat ini mereka semua sedang sibuk memberikan instruksi untuk ibunya ratu phoenix supaya tetap tenang, tau-taunya sosok yang berkuasa di alam iblis itu semakin menekan sang ibu.


"Kenapa anak ini susah sekali keluar, dia tidak tau ibunya sudah kesakitan." Xi Chen masih mengoceh. Dia emosi melihat putranya yang masih betah didalam rahim sang istri. Fang Yin menggeram.


"Maaf sayang, aku tidak ingin pergi, aku akan tetap disini menemani mu." Xi Chen penuh semangat membalas perkataan istrinya. Netranya menatap istrinya penuh cinta membuat Lian terkekeh kecil. Kenapa ayahnya bisa seperti ini.


"Kakak, jika paman kecilku lahir, apakah paman Kai akan kembali?" Annchi bertanya kepada kakaknya Ba Xi'O.


Ba Xi'O memutar bola matanya. " Kakak tidak tau." Walaupun Ba Xi'O sering meledek adiknya tapi dia tidak ingin membuat adiknya bersedih apalagi jika sudah menyangkut paman Kai. Adik kecilnya sangat sensitif jika sudah berhubungan dengan laki-laki itu. Annchi memanyunkan bibirnya. Neneknya bilang masalah yang sedang diselesaikan paman Kai belum tuntas jadi paman Kai masih belum bisa kembali. Annchi menghembuskan nafas kecilnya. Senyum tipis tiba-tiba terukir di bibir mungilnya. Satu minggu ini dia mengirimi surat untuk paman Kai. Annchi tidak sabar untuk menerima balasan dari paman Kai.


"Aaaaaahhh."


"Oeek..oeekk." Suara tangisan seorang bayi langsung pecah saat jeritan panjang Fang Yin keluar.


"Anak kita sudah lahir sayang." Bola mata Xi Chen berkaca-kaca melihat wajah putranya. Dia merasa lega sekaligus bahagia lantaran putranya akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Tiba-tiba Xi Chen mengerutkan keningnya saat melihat wajah putranya.

__ADS_1


"Kenapa dia mirip denganku?" Xi Chen menunjukkan wajah keberatan.


"Maksudmu apa? Jelas saja putraku mirip dengan mu, bukankah kau Ayahnya?" Fang Yin berusaha mengeluarkan suara geramanya di sela-sela dirinya kelelahan.


"Tapi aku maunya putraku mirip dengan mu sayang."


Fang Yin memutar bola matanya. Dia ingin sekali menendang punggung suaminya itu.


Lian dan Dewi tabib akhirnya tertawa lepas. Jujur Lian sedikit malu dengan perkataan Ayahnya yang terkesan bodoh. Tapi Lian kembali sadar. Ayahnya itu hanya mendambakan wajah ibunya, jadi sang ayah sangat berharap anak-anaknya kelak menyerupai wajah sang ibu.


"Ayah, ibu, wajah adikku sangat tampan." Lian menunjukkan wajah mungil bernetra emas kehadapan ayah dan juga ibunya.


"Syukurlah dia memiliki bola mata yang sama denganmu." Bisik Xi Chen malah mencium gemas wajah istrinya, bukan wajah sang putra. Fang Yin menerima antusias putranya dari pangkuan putri sulungnya.


"Terimakasih sayang." Fang Yin menatap wajah cantik putri dengan senyuman kebahagiaan yang tiada tara. Kini dia dan sang suami memiliki putri yang cantik dan putra yang tampan.


"Terimakasih karena telah hadir di hidup ayah dan ibu nak." Fang Yin memeluk Chang Lian dan putranya. Xi Chen tidak tahan menahan air mata harunya akhirnya lelehan hangat itu mengalir di wajah kokohnya. Xi Chen tidak menyangka dia akan mengalami ke bahagian yang abadi seperti ini. Xi Chen tidak pernah berpikir bahwa istrinya akan kembali berinkarnasi dan bahkan sekarang istrinya telah melahirkan buah cinta mereka yang kedua. Xi Chen memeluk istrinya dan juga putri kecilnya. Putrinya yang masih tetap kecil dimatanya walau putrinya sudah memiliki kebagian tersendiri.


"Terimakasih telah hadir dihidup ayah dan ibu." Xi Chen mengecup wajah putrinya berganti dengan wajah sang putra yang tidur tenang di pangkuan sang istri.


"Dan terimakasi sayang karena telah kembali ke sisiku." Xi Chen mengecup lama kening sang istri dan berakhir berlabuh di bibir ranumnya. Lian terkekeh dan keluar pelan-pelan dari ruangan itu. Memberikan ruang kebebasan untuk ibu dan ayahnya.


Yuze menatap istrinya dan mengedipkan mata mesumnya.


"Ckk, berhenti bertingkah konyol. Lian memeluk suaminya dengan gemas.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2