
Xi Chen yang masih menahan emosinya sontak berubah dengan kecemasan tinggi yang dirasakannya saat istrinya mencoba bunuh diri didepan matanya. Xi Chen melangkah kaki panjangnya ketempat tidur.
"Fang Yin apa yang kau lakukan? Keluar?" Xi Chen menarik selimutnya itu dan ternyata sangat susah. Sepertinya istrinya sungguh sangat berniat meninggalkanya.
"Fang Yin, keluarlah. Aku tidak akan memarahi mu tapi keluarlah sayang, kau bisa mati seperti itu," Xi Chen masih mencoba menarik selimut tebal itu. Fang Yin yang mendengar dari dalam sontak terkejut. Apa benar suaminya tidak marah lagi kepadanya?.
"Aku tidak bisa keluar," Fang Yin menjawab dari dalam sambil menangis. Tubuhnya telah diliti selimut itu dengan sangat kuat membuat dirinya susah mengerakkan tubuhnya. Xi Chen semakin cemas saat mendengar suara istrinya yang menangis.
Xi Chen langsung mengeluarkan sihirnya untuk membuka selimut itu.
Wajah istrinya begitu merah dan sembab saat keluar dari dalam selimut.
Xi Chen langsung menariknya ke pangkuannya.
"Kenapa kau melakukan itu?" Suara beratnya membuat Fang Yin hanya diam. Sebenarnya dia bisa saja menghilangkan selimut yang melilit tubuhnya dengan kekuatannya tapi Fang Yin ingin Xi Chen yang melakukannya dan berharap emosi suaminya reda. Dan benar saja suaminya kini menatapnya dengan sendu. Fang Yin sedikit tidak tega. Akibat keinginannya untuk menghindari laki-laki itu dia membuat laki-laki itu menggila dan Fang Yin baru tau wujud suaminya dalam bentuk iblis, begitu menyeramkan dan membuat Fang Yin tidak kuat membayangkanya.
"Aku takut," lirih Fang Yin.
"Takut?" Xi Chen memicingkan matanya.
"Apa kau takut melihatku tadi?"
Fang Yin mengangguk.
__ADS_1
"Maaf membuatmu takut, kedepannya aku tidak akan menunjukkan wujud iblisku kepadamu," Xi Chen memeluk tubuh istrinya.
"Maaf," Fang Yin menunduk, berusaha menahan tangisnya. Gara-gara dirinya suaminya berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan.
"Kenapa meminta maaf? Kamu tidak salah sayang," Xi Chen semakin mempererat pelukannya. Dia tau istrinya pasti merasa bersalah lagi.
Fang Yin semakin menangis.
"Maaf karena pergi diam-diam, hikss." Fang Yin menangis sesenggukan.
"Berhentilah menangis sayang," Xi Chen mencium kelopak mata istrinya. Berusaha menenangkan hati istrinya.
Xi Chen menurunkan pandang matanya kepada bibir yang basah akibat air mata istrinya yang meleleh disana. Xi Chen menciumnya lalu memperdalam ciumannya, mengabsen satu persatu gigi putih istrinya. Fang Yin membalasnya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.
Xi Chen menghadiahi stempel kepemilikan ketubuh istrinya, membuat Fang Yin semakin memegang kuat rambut suaminya saat suaminya bertahan di dua gunung kembarnya. Suara manja yang dikeluarkan Fang Yin semakin membuat Xi Chen bersemangat. melakukan penyatuan suami istri itu.
Lagu percintaan kembali terdengar dari kamar dua penguasa berbeda alam itu. Xi Chen tidak berbohong dia menghajar istrinya habis-habisan.
Beberapa hari berlalu Xi Chen mengurung istrinya di kamar dan selalu menghajar istrinya berharap istrinya cepat hamil supaya wanita itu tidak mempunyai pikiran lagi untuk keluar istananya.
"Terimakasih sayang," Xi Chen menumpahkan benihnya di rahim istrinya. Fang Yin membalasnya dengan senyuman. Dia telah berjanji akan mengabdikan dirinya kepada suaminya.
Kai dan Jun Hui menatap malas sosok yang mereka hormati itu. Mereka tidak bernafsu lagi melanjutkan sarapan paginya lantaran sosok itu sudah duduk manis di kursi kebesaranya dan jangan lupakan bibirnya yang mengukir senyum cerahnya membuat hati kedua sosok yang jomblo itu mendung.
__ADS_1
" Berhentilah menatapku seperti itu. Jika kalian tidak kuat lagi lebih baik kalian mencabut wanita yang mau dijadikan pendamping hidup," Xi Chen berucap sambil menyeringai. Jun Hui menggerutu. " Memangnya mencari istri yang pas itu asal-asalan, aku juga ingin memiliki istri seperti Ratu, baik dan juga cantik," guman Jun Hui pelan. Kai yang mendengar itu merasa Jun Hui sudah gila.
"Aku belum mau menikah guru, aku menunggu paman Kai menikah dulu baru aku menyusul. Aku tidak ingin mendahului paman," balas Jun Hui sambil menunjukkan deretan giginya yang putih. Dia sangat bangga pada dirinya sendiri karena sangat menghormati pamannya. Kai yang mendengar perkataan laki-laki muda itu sontak menatapnya dengan tajam.
"Paman kenapa melihat ku seperti itu?" Jun Hui mengerutkan keningnya.
"Paman tenang saja, walaupun calon Dewi masih sangat kecil, aku tetap sabar menunggu paman. Setelah paman dan calon Dewi menikah baru aku menyusul," sambung Jun Hui tulus. Namun tiba-tiba perasaanya tidak tenang saat menyadari tengkuknya terasa kaku. Jun Hui menatap kedua sosok yang sangat dikaguminya. Kai menatapnya dan ingin menelannya hidup-hidup sementara gurunya telah mengeluarkan api kematian dari bola matanya.
"hehehe, Guru dan paman jangan marah, aku cuma bercanda," Jun Hui menunjukkan senyum manisnya dan langsung menghilang dari meja makan itu. Dia tidak perduli lagi dengan hidupnya kedepan tapi dia tidak mau mati di meja makan itu. Dia tidak ingin menjadi santapan hewan buas milik gurunya dan pamannya.
Xi Chen menatap Kai dengan tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Kai keberatan. Lantaran bukan dirinya yang menjadi penyebab suasana itu menjadi tegang. Penyebabnya telah menghilang dan mulut Kai yang seksi itu mengutuk Jun Hui habis-habisan. Kai berharap Jun Hui mendapatkan kesialan hari ini.
"Apa kau memang menyukai cucuku?" Xi Chen berucap berat. Matanya siap mengeluarkan api iblisnya untuk membakar sahabatnya itu.
"Apa kau sudah gila? Aku tidak menyukai cucumu dan sampai kapanpun aku tidak akan menyukainya. Dan ingat satu hal Xi Chen cucumu yang masih bau asi itu bukan selera ku." Kai pergi dari hadapan Xi Chen dengan wajah ketat.
"Braaakkk," Kai menghancurkan pintu masuk istana Xi Chen membuat beberapa pengawal yang berjaga di sana terhempas jauh. Mereka hanya bisa diam menahan rasa sakit ditubuh. Saat tubuh mereka melayang di udara. Mereka menunduk saat Kai melewatinya begitu saja. Laki-laki itu bahkan tidak meminta maaf telah menyakiti para pengawalnya.
"Fu Kai," Suara Xi Chen menggelegar saat menyadari perkataan Kai yang begitu angkuh.
"Dia tidak menyukai cucuku? Ciihh, cucuku juga tidak menyukai mu. Dasar laki-laki tidak waras," umpat Xi Chen menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
"Kalian bertiga memang tidak ada yang waras," Fang Yin duduk di meja makan itu menatap dua piring porselen yang belum di sentuh. Fang Yin menghembuskan nafas beratnya. Suaminya, Kai dan Jun Hui memang tiga sosok yang memiliki temperamen yang buruk. Tapi yang lebih parah sifat suaminya dan Kai. Fang Yin tidak menyangka dua sosok yang dulunya Dewa Tinggi yang dikagumi alam semesta kini menjadi sosok iblis yang tidak memiliki sisi kebaikan.