Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 66


__ADS_3

Bantu paman Lie Zhu," pintanya memasang wajah memelas.


Lie Zhu membantu Jun Hui dengan suka rela tapi saat pamannya itu sudah hampir berdiri dia melepaskan tangan kecilnya.


"Maaf paman, aku tidak kuat," Lie Zhu memasang wajah Kekanak-kanakan nya dan pergi dari hadapan Jun Hui yang memanas. Jun Hui menggertakkan giginya.


" Lie Zhuuu," Pekik Jun Hui, matanya menatap nyalang anak kecil yang memasuki istana kakeknya.


"Akan kupastikan yang kukatakan tadi akan terjadi, dan hiduplah yang rukun dengan paman Kai kedepannya. "Teriak Jun Hui menahan tawanya seketika. Dia membayangkan pamannya Kai hidup dengan manusia-manusia suci itu di kerajaan langit. "Aww," Jun Hui meringis saat sudut bibirnya terasa pedih. Jun Hui tau, Lie Zhu tidak pernah menyukai Kai yang lebih buruk dari segala-galanya. Laki-laki itu ibarat sampah yang tidak bisa di daur ulang.


"Cihh, Paman Kai pun tidak tertarik dengan adikmu itu," gerutu Jun Hui sinis, dia tetap membela pamannya sekalipun laki-laki itu telah menyiksanya.


"Aahh," Fang Yin ambruk di dada bidang suaminya saat suaminya memintanya memimpin permainan dan posisi dirinya saat ini diatas suaminya. Peluh membanjiri wajah cantiknya membuat Xi Chen gemas dan kembali berhasrat.


"Aku mohon berhenti sebentar, aku takut tidak bisa melewati hari esok jika kau kembali menerkam ku," ucap Fang Yin dengan nafas memburu.


Xi Chen menatap lekat wajah istrinya yang bermandikan keringat. Terlihat seksi sekaligus menggairahkan.


"Jang pernah berkata seperti itu lagi, Aku tidak suka," ujar Xi Chen sambil mencium bibir istrinya. "Tapi aku belum puas," ucap Xi Chen kembali dengan wajah tak berdosanya. Fang Yin memukul dada bidang suaminya dengan kesal. Dia akui suaminya masihlah sangat kuat. Bahkan suaminya tidak merasakan lelah sedikit pun.

__ADS_1


"Apa kau seperti ini jika bersama para wanita itu?" Fang Yin menatap tajam suaminya. Xi Chen terkekeh kecil. " Jangan samakan dirimu dengan mereka sayang, kau segalanya bagiku. Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa pusaka ku ini hanya milikmu, dia tidak pernah mencari rumah yang lain sekalipun rumahnya sedang pergi entah kemana. Jadi untuk itu, kau harus memuaskannya karena dia sudah lama kesepian." ucap Xi Chen dengan nada sensualnya membuat Fang Yin geleng-geleng kepala. Fang Yin menyesal menanyakan hal itu. Dirinya tidak akan menang melawan suaminya. Fang Yin akui putrinya begitu hebat bisa melawan suaminya. "Setidaknya masih ada senjataku untuk melawan laki-laki ini," Batin Fang Yin tersenyum licik. Tapi bagi Xi Chen senyum istrinya sangatlah menawan tanpa dia ketahui istrinya sedang berusaha melepaskan diri dari jeratan mesumnya. Xi Chen kembali menghajar istrinya karena tidak tahan melihat senyum indahnya. Kamar itu kembali mengeluarkan percikan api.


Keesokan harinya Fang Yin bersiap untuk melakukan perjalanan ke alam Phoenix. Suaminya masih tertidur pulas. Fang Yin tidak perduli malahan lebih bagus jika suaminya tidak Bagun karena Fang Yin tidak ingin mengundur waktu lagi, Fang Yin sudah sangat merindukan ibunya. Fang Yin merasa jengkel karena Suaminya menghajarnya seharian dari pagi sampai malam lanjut sampai dini hari. Suaminya memang sudah gila, Fang Yin benar-benar dihajar oleh laki-laki mesum itu.


"Nenek, aku ikut," Lie Zhu menghampiri neneknya yang sudah keluar dari kamar.


"Kamu disini sayang? Sejak kapan? " Fang Yin bertanya. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku bahwa cucuku datang." Ucapnya dalam hati, Fang Yin merasa bersalah terhadap cucunya itu.


"Aku datang semalam nenek, " jawab Lie Zhu datar. Bibir Fang Yin berkedut saat melihat wajah datar cucunya. " Apa cucuku marah?" Batin Fang Yin. Fang Yin berusaha menunjukkan senyum manisnya walau sebenarnya dia sedang menahan rasa kesalnya yang semakin bertambah. Jika bukan karena suaminya yang mengurungnya di kamar seharian, Fang Yin pasti sudah menghabiskan waktunya bersama cucunya itu. Niat Fang Yin semakin menggebu-gebu untuk bersembunyi dari suaminya itu untuk sementara waktu.


"Ayo sayang," Fang Yin mengandeng tangan Lie Zhu. Jika ada yang tidak mengenali mereka. mungkin akan mengira Lie Zhu adalah putranya karena Fang Yin masih sangat muda dan fresh. "Ada untungnya juga aku berinkarnasi," batin Fang Yin tersenyum tipis. Jangan sampai suaminya mengetahui pemikiranya itu, jika tidak maka suaminya akan berpikir bahwa dirinya sangat senang meninggalkanya.


"Mana suamimu nak," mantan ratu phoenix tidak melihat tanda-tanda keberadaan menantu tersohornya.


Fang Yin menghembuskan nafas beratnya.


"Masih tidur ibu, masih kelelahan mungkin," Fang Yin menjawab dengan wajah polosnya membuat ibunya sang mantan ratu phoenix tergelak.


"Sudahlah, lebih bagus dia tidak ada, ayok nak kita masuk, ibu sudah menyediakan makanan kesukaanmu," mantan ratu Phoenix mencubit gemas hidung putrinya. Putrinya itu sudah banyak berubah dia tidak seperti dulu lagi yang berwajah dingin dan datar. Sekarang putrinya lebih hangat dan lebih sering tersenyum.

__ADS_1


"Kemana istriku pergi?" Xi Chen menggelap. Dadanya naik turun saat tidak menemukan aura istrinya.


"Ratu sedang pergi kealam Phoenix guru," ucap Jun Hui, takut gurunya itu marah dan membakar istananya sendiri.


"Kenapa kau tidak mencegahnya?" Xi Chen menatap tajam muridnya itu.


Jun Hui hanya bisa menarik nafas secara berlahan.


"Aku tidak berani guru," ucapnya gugup. Jika saja ratunya masih seperti dulu mungkin Jun Hui akan berani menghentikan ratunya. Tapi saat ini Ratunya telah berubah menjadi sosok Dewi Tinggi. Pamannya yang bernama Kai itu belum tentu bisa mengalahkan Ratunya.


"Takut? " Xi Chen memijit pelipisnya, dia juga sebenarnya takut menghentikan istrinya itu. Apalagi dia menghajar habis-habisan istrinya satu harian sampai dini hari. Xi Chen yakin istrinya akan merajuk dan tidak akan memberikan jatahnya dalam waktu dekat ini.


"Bersiap-siaplah kita akan pergi ke alam Phoenix," Xi Chen pergi meninggalkan Jun Hui yang mematung. Jun Hui mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak ingin ke alam Phoenix karena alam itu termasuk milik kerajaan langit. " Tidak bisakah aku tenang sebentar saja," gumanya menghembuskan nafas kasarnya.


"Kalau kau ingin tenang mati saja sekalian, aku dengan senang hati mengakhiri hidupmu," ucap Kai tiba-tiba sudah duduk manis di samping Jun Hui membuat Jun Hui terkejut batin.


"Paman mengagetkan aku saja,"Jun Hui yang kesal langsung pergi dari sana tanpa perduli kursi yang dia duduki terbalik begitu saja karena Jun Hui menghempaskan kursi itu dengan kasar.


"Ckk, dasar bocah tengik," Kai memperbaiki kursi itu dengan menggerutu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan kenapa kreta jelek ini berada disini?" Xi Chen mengeluarkan suara beratnya melihat kreta kuda yang mereka gunakan ke dunia bawah terparkir cantik didepan istananya.


__ADS_2