
"Hei anak kecil kenapa menghentikan ku," ucap perampok itu tidak terima, terlihat dari wajahnya yang begitu menyeramkan, tapi tidak bagi Lie Zhu menurutnya wajah paman Kailah yang lebih menyeramkan di bandingkan wajah-wajah para perampok itu.
"Kembalikan atap itu, itu punya pamanku," ucap Lie Zhu yang ingin bernegosiasi dengan para perampok itu.
"Memangnya kau siapa yang ingin menghentikan kami," teriak perampok yang hendak memotong atap itu.
"Tunggu dulu, bukankah dia salah satu anak kecil yang keluar dari kreta kuda yang kita curi itu?" bisik salah satu perampok yang berbadan lebih besar diantara mereka. Dia adalah pemimpin para perampok.
"Hahaha, jadi kau datang kesini untuk mengambil ini? " Laki-laki berbadan besar itu menunjukkan atap itu kepada Lie Zhu.
"Besar juga nyalimu anak kecil, kau tidak takut kami tangkap? Aku yakin, dengan wajahmu yang tampan itu pasti cepat laku. Bagaimana, ayok kita tangkap anak kecil itu lalu kita menjualnya, dan kita bisa membagi hasilnya," ucap laki-laki yang berbadan besar itu kembali, mengajak teman-temannya untuk menangkap Lie Zhu.
Lie Zhu tidak takut, dia menaikkan sudut bibirnya.
"Syaap"
Kai mengerutkan keningnya saat melihat Lie Zhu yang hanya diam berdiri.
"Kenapa kau diam saja? " Kai tidak habis pikir dengan jalan pikiran anak kecil itu.
"Mereka ingin menangkapmu paman, lalu mereka akan menjual ku," adu Lie Zhu dengan suara kekanak-kanakannya.
"Apa? Menjual mu? Hahaha," Kai langsung tertawa.
"Orang bodoh mana yang mau menangkap mu dan menjual mu?" tanya Kai sinis. Raut wajahnya berubah dalam sekejap
"Hei anak muda, kau jangan ikut campur, jika kau mau aku akan memberikan sedikit emas ini kepadamu, tapi tangkap dulu anak kecil itu dan bawa kesini," ucap laki-laki yang berbadan kurus itu sambil menyeringai. Dia merasa Kai sama seperti mereka, walaupun laki-laki itu menutupi wajahnya. "Jika anak muda itu mau bekerja sama dan menangkap anak kecil itu, maka aku sendiri yang langsung membunuhnya, setelah anak muda itu menyerahkan bocah sialan itu kepada kami," batin laki-laki kurus itu tersenyum licik.
__ADS_1
"Cihh, berani sekali kau menyuruhku," Kai langsung mengangkat tanganya dan melayangkan laki-laki kurus itu ke udara.
"Bruukk, Ahh," jerit laki-laki kurus itu, kakinya dan tanganya patah.
"Kau, berani sekali kau melukainya," teriak berbadan besar itu, dia menatap Kai tajam. Sebelum laki-laki berbadan besar itu menghampiri Kai untuk menghajarnya. Tubuhnya sendiri sudah terpental jauh sehingga menimbulkan suara yang sangat keras.
"Braakk, Bruukk, uhukk-uhuk,"
Darah segar keluar dari hidung, mulut dan juga telinganya, tiba-tiba pendengarannya hilang dan detik itu juga nyawanya juga ikut menghilang.
Melihat pemimpin mereka yang tidak berdaya membuat kedua perampok yang tersisa itu sedikit ketakutan.
"Siapa laki-laki ini? kenapa dia sangat kuat," batin mereka dalam hati.
"Sini kembalikan barang ku," Kai menyuruh kedua perampok itu memberikan barang yang mereka curi.
"Ini milik kami, kau tidak ada hak mengambilnya," salah satu perampok itu masih berusaha untuk mempertahankan barang hasil curian mereka. Saat ini mereka tinggal berdua otomatis mereka bisa membagi jatah teman mereka yang sudah kehilangan nyawa.
"Bruukk," kedua perampok itu langsung tidak bergerak lagi.
"Paman tidak pintar bermain," keluh Lie Zhu yang melihat Kai yang tak sabaran menghadapi para perampok itu.
"Waktu ku terlalu berharga untuk bermain-main pada manusia serakah itu," ucap Kai sinis. sambil mengubah penampilannya seperti semula.
"Syaap"
"Uhh, kau sangat kejam Kai," ucap Dewa takdir sambil bergidik ngeri melihat tubuh-tubuh tak bernyawa itu.
__ADS_1
"Kenapa kau membawanya kesini," Kai terkejut melihat Dewa Takdir yang membawa kudanya sama kerangka kreta kuda miliknya.
"Untuk di perbaikilah, mau diapakan lagi," gerutu Dewa Takdir. " tenang saja kali ini aku yang akan memperbaikinya, aku tidak ingin ada orang yang mengejekku lagi, dan mengatakan aku mau yang gratisan saja," ucapnya datar. Dia seorang Dewa yang bermartabat dan di puja oleh alam semesta, tapi bisa-bisanya sahabatnya yang kurang ilmu itu mengatakan dirinya hanya ingin yang gratisan. "Apa dia tidak tau bahwa hartaku sangat banyak," gumanya dalam hati.
"Baguslah jika kau sadar," ucap Kai acuh tak acuh dia mengambil posisi nyamannya, duduk santai sambil menikmati angin segar di hutan sepi itu. Menunggu Dewa notulen itu memperbaiki kreta kudanya.
"Ayok berangkat, kita sudah ditunggu raja iblis dan yang lainnya," ajak Dewa takdir setelah dirinya membentuk kreta itu kembali.
Dua pasang bola mata itu berkedut melihat bentuk dan warna kreta kuda itu.
"Paman, aku tau paman menyukai warna merah muda, tapi tidak juga paman mengubah kreta kuda paman Kai menjadi warna yang menggelikan seperti ini," tutur Lie Zhu yang merasa geli melihat warna kreta kuda itu.
"Ckk, banyak sekali protes mu, ayolah naik, nanti para petinggi itu marah," omel Dewa Takdir.
Kai sungguh merutuki kebodohannya yang membiarkan Dewa notulen itu memodifikasi kreta kuda miliknya. Tubuh Kai dan Lie Zhu bergetar saat pantat mereka mendarat di kursi merah mudah itu. Luar dan dalam sama warnanya, sama-sama warna merah muda.
"Aku yakin chang'er pasti menyukai kreta buatanku ini," ucap Dewa Takdir bangga. Kai dan Lie Zhu hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Wah, cantik sekali paman kreta kuda ini," puji Lian dengan senyum yang merekah.
"Apa kalian membeli yang baru? " Tanya Fang Yin polos. Sementara kepala Xi Chen dan Yuze sudah berdenyut melihat kreta kuda itu yang begitu menggelikan di mata mereka berdua. Dalam sekejap Xi Chen langsung mengubah warna luar kreta kuda itu.
"Ayah kenapa mengubahnya," Lian menatap ayahnya kesal.
"Iya, padahal sudah sangat cantik warnanya," Fang Yin menimpali perkataan putrinya.
Xi Chen menelan salivanya saat netra dari kedua wanita yang berharga di hidupnya menatapnya dengan nyalang.
__ADS_1
"Warnanya terlalu mencolok, aku tidak ingin kreta kuda kita menjadi pusat perhatian orang-orang di dunia bawah ini," ucap Xi Chen dengan jujur. Selain dirinya tidak menyukai warna kreta kuda itu, dia juga ingin menghindari tatapan orang-orang yang memiliki jiwa penasaran yang tinggi dengan kreta kuda mereka. Xi Chen menatap tajam Dewa Takdir, dia yakin ini semua pasti ulah dewa notulen itu.
Yuze juga sama, dia menatap tajam sahabatnya itu membuat Dewa Takdir menelan ludahnya dengan susah payah. Niatnya ingin membuat kedua wanita itu senang malah mendapatkan tatapan tajam dari para suami wanita itu.