Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 62


__ADS_3

"Itu bukan keinginanku, tapi keinginan putrimu, tolong panggil dan bujuk paman Kai sayang, putrimu tidak akan keluar jika paman tidak ada," ucap Lian dengan nada yang memohon sambil meringis kesakitan. Dia mendengar suara hati suaminya yang sangat pencemburu itu.


Sementara Kai yang mendengarnya ingin menghilang, dia tidak ingin menyaksikan seorang wanita melahirkan.


"Apa-apaan bayi itu, masih kecil tapi sudah menyusahkan ku," Kai menggertakkan giginya saat namanya kembali di panggil.


"Paman tolong," jerit Lian, dia tau pamanya itu pasti mendengarnya hanya saja pamanya itu pura-pura tuli.


Posisi Kai saat ini di luar, diatas kuda yang menarik kreta itu. sementara Jun Hui duduk sebagai kusir.


"Paman, paman dipanggil," Jun Hui geram melihat pamannya itu yang seakan tuli mendengar jeritan yang memekakkan telinganya


"Paman tidak kasihan melihat calon mertuamu? Mertua paman sedang berjuang melahirkan istri masa depan paman," ucap Jun Hui menatap tajam pamannya itu. Sungguh Kai manusia yang tidak punya perasaan sama sekali, entah hatinya dimana saat ini sehingga dirinya tega membiarkan Lian kesakitan.


"Diamlah, kau sangat berisik," Kai menatap Jun Hui acuh tak acuh.


Dewa Takdir hanya bisa melihat kedua laki-laki ganas itu secara bergantian. Jika saja dia mempunyai nyali yang cukup dia akan menyeret Kai kehadapan Dewi Tinggi Phoenix.


"Kai kemarilah bantu putriku," pinta Xi Chen dengan suara seraknya. Xi Chen tidak tahan melihat putrinya yang menjerit kesakitan. Akhirnya dia sendiri yang turun tangan memanggil laki-laki keras kepala itu. Xi Chen melirik istrinya yang sedang menggenggam tangan putri mereka dengan raut kecemasan. Xi Chen jadi menimang-nimang untuk memiliki anak lagi dengan Fang Yin, dia tidak ingin melihat istrinya kesakitan seperti yang dialami putrinya saat ini.


Kai memasuki kreta itu dengan wajah datarnya.


"Paman, aku mohon mendekatlah kepada istriku," pinta Heng Yuze dengan wajah sendunya dia tidak bisa melihat istrinya terlalu lama menahan rasa sakit.


"Aku sudah disini," Kai mengetatkan rahangnya saat dirinya dihadapkan dengan posisi yang sulit, setelah kejadian ini dia berjanji akan menjauh dari keluarga yang penuh drama itu.


"Paman, Chang'er mohon, letakkan tangan paman diatas perut Chang'er. " Lian terisak sambil meminta Kai meletakkan tanganya.


Kai meringis mendengar permintaan Lian yang sangat banyak itu. Mulai dari memintanya mendekat, lalu menyuruhnya menyentuhnya.


"Ckk, menyusahkan," batin Kai. Kai menuruti kemauan ibu hamil yang sebentar lagi akan melahirkan itu.

__ADS_1


Saat Kai meletakkan tangannya diatas perut Lian tiba-tiba bayi yang didalam perut bulat itu memutar-mutar beberapa kali membuat Kai terkejut.


"Apa dia mau tebar pesona, ckk, masih kecil sudah genit," Kai membatin jengkel dalam hati.


"Sayang, aku tidak tahan lagi, bisakah sayang membantu putri kita keluar," Lian menatap wajah cemas suaminya.


"Tahan sebentar sayang sebentar lagi kita tiba di kerajaan langit." ucap Yuze sambil mengusap-usap surai panjang istrinya.


Tanpa sepengetahuan mereka, kerajaan langit sedang heboh lantaran bunyi lonceng yang sudah bergema cukup lama.


Dan bunyi lonceng itu berubah-ubah pertanda dua Dewi kerajaan langit akan segera hadir.


Para Dewa dan Dewi Tinggi sudah bersiap-siap untuk menyambut Dewi Tinggi itu.


"Kenapa dua, siapa satu lagi," ucap Dewa agung merasa senang. Sebentar lagi dia akan memiliki murid baru lagi.


"Lebih baik kita pergi ke istana Heng Yuze, aku takut Chang'er sebentar lagi akan melahirkan anak kembar kembali," ucap Kaisar langit.


"Aku juga tidak tau, apa rahasia langit kali ini, entah kenapa langit sekarang terlalu menyimpan banyak rahasia," gerutu Kaisar langit. Ingin sekali dirinya protes, tapi aksi protesnya tidak pernah didengar oleh para kaisar terdahulu itu.


"Kenapa istana ini sepi? kemana Heng Yuze dan Chang'er," Kaisar langit bertanya kepada para dewa pengawal yang sudah bersujud memberi hormat.


"Yang Mulia, Dewa Tinggi Putra Mahkota sedang kedunia bawah mengikuti sang raja iblis yang Mulia," jawab Dewa pengawal sedikit gugup.


"Apa? Kenapa Yuze pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu, tidakkah dia tau istrinya sebentar lagi mau melahirkan?," Kaisar langit tidak habis pikir dengan sikap Dewa Tinggi Putra Mahkota yang tidak mementingkan keselamatan Dewi Phoenix dan calon Dewinya.


Dewa pengawal hanya diam sambil menunduk dia takut terlalu banyak bicara sehingga menimbulkan kesalahpahaman.


"Braakk."


"Apa itu," Kaisar langit terkejut mendengar bunyi hantaman yang cukup kuat.

__ADS_1


"Ahhh, sakit, aku tidak kuat lagi." Lian kembali menjerit.


"Chang'er," Kaisar langit dan Dewa Agung terkejut, apalagi di hamparan hijau itu tergeletak begitu saja kreta kuda.


"Ini__," Dewa Agung binggung melihat yang terjadi di depan mereka dimana Kai mengelus-elus perut Lian yang sesekali bergerak-gerak kesana kemari.


"Kakek kenapa diam, Lian sudah tidak tahan lagi," Lian menjerit melihat Dewa Agung dan Kaisar langit yang terdiam seakan binggung.


"Maaf," ucap Dewa Agung.


Akhirnya Dewa Agung, Kaisar Langit dan Heng Yuze membantu persalinan Lian.


"Paman Kai bisakah paman mengajak putriku berbicara, dia tidak mau keluar paman, aku yakin putriku sedang menunggu paman berbicara," ucap Lian dengan wajah memelasnya, keringat dingin telah membanjiri pelipisnya.


Kai menghembuskan nafas kasarnya.


"Banyak maunya bayi kecil ini," batin Kai menggertakkan giginya.


"Aku harus bilang apa," ucap Kai datar membuat Dewa Agung ingin menepuk jidatnya sendiri.


"Paman bilang saja begini: Hai gadis manis ayok keluar, paman tidak sabar melihat wajah cantikmu," begitu saja paman pasti adikku langsung keluar ucap Ba Xi'O sambil terkekeh kecil. Kai melotot saat Ba Xi'O mengajarinya kata-kata yang membuatnya geli sendiri .


"Iya paman lebih baik seperti itu," Lian mendukung kata-kata putranya yang begitu manis didengarnya.


Dewa Agung dan yang lainnya menggigit bibirnya masing-masing untuk menahan tawa melihat wajah naas Kai yang begitu menderita.


Dewa Agung tidak menyangka murid kesayangannya dulu bisa kalah dari anak yang belum lahir.


Kai mengusap wajahnya dengan kasar, rahangnya mengeras saat bibirnya mencoba mengeluarkan kata-kata yang menggelikan itu.


"Hai gadis manis ayok keluar, paman tidak sabar melihat wajah cantikmu," Kai menahan rasa tidak nyaman dihatinya. Seumur-umur baru kali ini bibirnya mengucapkan kata-kata yang merusak telinganya itu. Dan benar saja bayi mungil dan menggemaskan itu langsung keluar.

__ADS_1


"Bluuurr," bunyi Lonceng semakin bergema saat suara tangisan bayi itu menggelegar di seluruh penjuru. Para Dewa dan Dewi menyalurkan esensi kehidupanya kepada calon Dewi tinggi itu. Para peri dan Dewa pengawal bersujud di tanah saat sang Dewi itu lahir.


__ADS_2