Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 79.


__ADS_3

"Jangan membawa-bawa calon anakku, dia masih kecil, belum memiliki pikiran buruk seperti itu."


Fang Yin menghembuskan nafas beratnya. Suaminya lama-lama kenapa jadi bodoh. Tidak bisakah laki-laki itu sedikit lebih bijak. Fang Yin tau suaminya tidak memiliki pengalaman. Apalagi dulu putri mereka lahir penuh dengan rintangan. Hal seperti saat ini belum pernah Fang Yin rasakan. Apalagi putrinya hadir di saat alam naga hitam sedang panas-panasnya.


"Hmm." Fang Yin mengangguk pasrah. Fang Yin malas berdebat apalagi mereka baru selesai berdebat ranjang, dia tidak ingin berdebat mulut lagi.


"Aku mau tidur, berhentilah mengoceh." Fang Yin menutup netra emasnya. Telinganya panas mendengar keluhan Xi Chen.


"Tidurlah aku tau kamu kelelahan." Xi Chen tersenyum tipis. Kenapa dia memiliki istri sangat imut seperti Fang Yin membuat dirinya tidak pernah berhenti jika sudah menyentuh pujaan hatinya itu.


Jun Hui menguap lebar. Istana raja iblis itu sedang dilapisi salju yang sangat tebal. Bulu kuduk Jun Hui meremang merasakan dingin yang menusuk ke tulang.


"Ckk, di saat aku berencana untuk hidup sehat, ada saja halangan." Guman Jun Hui. Dia hendak berolahraga pagi. Dia ingin memiliki tubuh sempurna seperti milik paman Kai.


Jun Hui memicingkan matanya saat melihat seluit kecil yang membungkuk di depan pintu istana. Mungkin para pengawal kedinginan sehingga tidak ada yang berjaga di pintu masuk itu, membuat seseorang tidak berani memasuki istana raja iblis. Seluit kecil itu menggigil, tubuh kecilnya bergetar hebat.


"Shiit, Annchi." Jun Hui mengerang, dia langsung menghampiri Annchi yang hampir membeku. Jun Hui hendak mengendong Annchi namun di tolak oleh gadis kecil itu.


"Ayok masuk, kenapa kau duduk disini? Kenapa tidak langsung masuk?" Jun Hui mengerang prustasi melihat anak kecil yang masih menggigil itu.


"Aku takut paman Kai marah, jadi aku menunggu paman pamai Kai bangun. Para penjaga juga tidak ada disini jadi aku tidak bisa minta tolong." Suara Annchi sedikit serak. Hidungnya merah namun bibirnya pucat.


"Ya sudah, ayok masuk."


"Aku takut, aku ingin paman Kai sendiri yang menjemputku."


Jun Hui mengerutkan keningnya. Drama apa lagi yang sedang di mainkan anak kecil ini pikir Jun Hui.

__ADS_1


"Baiklah." Annchi terkenal keras kepala, jadi Jun Hui langsung masuk kembali dan membangunkan sosok yang membuat Dewi Annchi menunggu.


"Ckk, laki-laki ini sungguh tidak tau bahwa dia sudah melakukan dosa." Guman Jun Hui setelah tiba di kamar Kai dan melihat sosok itu sedang tertidur pulas.


Jun Hui mendengus. Wajah itu masih tanpa sempurna walau sedang tidur. "Aku yakin, karena wajah terkutuk inilah yang membuat Annchi tidak bisa berpaling." Batin Jun Hui dalam hati. Dia tidak berani menghina Kai terang-terangan.


"Paman, calon istri masa depan paman sedang diluar dan kedinginan." Ucap Jun Hui setengah berbisik.


Kai langsung membuka netra tajamnya.


Kai menggertakkan giginya. Siapa lagi jika bukan sosok yang selalu membuatnya marah.


Kai berdiri dan mengambil jubahnya. Jun Hui mengikuti langkah Kai yang begitu lebar. Kai menatap tajam sosok yang masih menunjukkan senyum manis itu.


"Paman Kai." Bibir kecil itu bahkan bergetar saat memanggil Kai.


Kai mengganti jubah Annchi dengan jubah miliknya. Kau tidak berbicara, mulutnya terkunci rapat. Jangan sampai mulut pedas itu sampai bersuara karena yang keluar bukan kata-kata sayang melainkan kata-kata terkutuk.


"Paman, ibuku pagi-pagi sekali membuat kue kukus persik yang ku janjikan semalam. Paman cobalah mumpung masih hangat." Annchi membuka kotak kecil yang di lapisi api Phoenix untuk menjaga kehangatan kue kukus itu. Saat di buka kue itu mengeluarkan aroma khas persik yang sangat menggugah selera . Jun Hui menelan ludahnya saat mencium aroma kue itu, apalagi kue itu masih mengeluarkan uap panasnya. Jun Hui semakin tidak sabar mencicipi kue itu dengan semangkuk Teh hangat.


Kai yang melihat itu tetap tidak merubah ekspresi wajahnya. Bahkan wajah itu bertambah kaku dan dingin.


Kai langsung berdiri setelah memastikan Annchi sudah kembali hangat. Dan bibir anak kecil itu sudah kembali berwarna.


"Paman." Annchi memanggil Kai sedikit takut. Dia tau pasti paman Kai semakin tidak suka dengan kelakuannya.


"Maafkan aku paman, Annchi terpaksa mengantar kue kukus ini karena Annchi semalam sudah berjanji dengan paman." Annchi menunduk lemah, dia tidak ingin di cap tukang bohong sehingga dia dengan berani melewati hujan salju. Kai masih terdiam dan meninggalkan Annchi yang masih menunduk. Jun Hui ingin sekali memaki paman Kai tapi dia belum memiliki nyali yang cukup. Laki-laki itu sungguh tidak punya hati, dia sama sekali tidak menghargai perjuangan Annchi. Demi menepati janjinya mengantar kue kukus untuk laki-laki itu. Annchi menahan hawa dingin yang menusuk sampai ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Sudahlah, paman Kai tidak akan menyalahkan mu. Paman akan memakan kue yang kau bawa ." Ucap Jun Hui menghibur Annchi.


Annchi mengangguk.


"Paman cukup makan dua saja." Ucap Annchi dengan wajah polosnya.


Bibir Jun Hui berkedut. Kue itu banyak, kenapa dia hanya memakan dua. Anak kecil itu masih memikirkan paman Kai yang berhati batu itu.


"Baiklah." Jun Hui hanya bisa menuruti anak kecil itu. Tapi jangan harap dia hanya memakannya dua biji. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Jun Hui yang akan menyantap habis semua makanan yang di bawa Annchi untuk Kai. Sungguh malang gadis kecil itu, dia tidak tau bahwa makanan yang selama ini dia bawa tidak pernah di sentuh oleh Kai.


Jun Hui menyeduh teh untuk Annchi. Mengajak anak kecil itu berbicara agar tidak larut dalam lamunannya. Annchi terus melihat kearah kamar Kai yang tertutup rapat. Saat ini mereka ada di ruang tamu milik Kai jadi Annchi bisa leluasa melihat kamar laki-laki itu.


"Ayok paman antar pulang." Jun Hui menggunakan jubah tebalnya.


"Tapi paman Kai belum bangun."


"Paman Kai baru tidur pagi-pagi subuh jadi paman Kai tidak akan bangun." Jun Hui mencoba menjelaskan kepada anak kecil itu. Annchi mengangguk dia tidak ingin mengganggu tidur Kai.


Di istana Ratu Phoenix. Fang Yin menikmati kue kukus persik buatan putrinya. Fang Yin tidak menyangka putrinya memiliki bakat memasak.


"Kenapa sedikit sekali." Fang Yin merasa kurang padahal kue itu penuh satu toples.


Lian menghela nafas.


"Annchi membawanya ke tempat paman Kai." Ucap Lian lesu.


"Kasihan cucuku itu, dia tidak tau bahwa Kai tidak akan menyentuh makanan itu." Fang Yin jadi ikut sedih. Dia melirik wajah menantunya, Dewa Tinggi Putra Mahkota yang berwajah muram sejak memasuki istananya.

__ADS_1


__ADS_2