
"Terimakasih sudah kembali menjadi istriku" bisik Xi Chen langsung mencium bibir yang masih bengkak itu. Fang Yin mengerjap matanya beberapa kali memastikan semua hal yang di laluinya itu bukanlah mimpi, walaupun Fang Yin saat ini sedikit bingung tapi ada kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya. Fang Yin juga tidak menyangka suaminya Xi Chen akan membawanya langsung ke hadapan Dewa Agung untuk meminta menikahkan mereka. Fang Yin yang belum sadar dari keterkejutannya saat bertemu langsung dengan Dewa Agung kini kembali di kejutkan dengan pernikahan mereka yang sudah terikat dengan benang merah suci pernikahan. Fang Yin juga terkejut saat suaminya memanggil sang Dewa Agung dengan sebutan Guru berarti hubungan keduanya sangatlah erat.
"Aku_" Fang Yin belum sempat menyelesaikan ucapanya kini Xi Chen kembali mencium bibir yang menjadi candunya sejak dulu, Xi Chen dan Fang Yin menghilang dari tempat itu.
Xi Chen Membawa Fang Yin kesebuah istana yang begitu megah namun terasa sepi, walaupun istana itu bersih dan juga sejuk tapi istana itu sepertinya sudah lama tidak di tempati. Fang Yin dapat merasakan ada sesuatu kesedihan yang hinggap di hatinya.
"Lihat aku" suara Xi Chen begitu berat, dia menatap netra istrinya saat netra itu sibuk menelisik seluruh istana miliknya, Xi Chen tidak ada waktu untuk menjelaskan kepada istrinya saat ini, karena sesuatu yang sudah di tahanya sejak tadi sudah meronta-ronta.
Xi Chen menyentuh istrinya dengan lembut.
"Kita akan membuat adik untuk chang'er, kamu mau anak laki-laki atau anak perempuan sayang? Tanya Xi Chen disela-sela dirinya tengah menyatukan dirinya dengan sang istri.
"Aku, ahh, pelan-pelan, jerit Fang Yin sambil mencengkram punggung kokoh Xi Chen. Fang Yin tidak jadi menjawab pertanyaan yang di lontarkan suaminya, lantaran suaminya itu sudah menerkamnya dengan sedikit brutal.
Xi Chen yang sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri, tidak perduli dengan jeritan dan rengekan manja istrinya, justru karena mendengar suara manja Fang Yin membuat Xi Chen semakin bernafsu. Xi Chen menghajar istrinya tanpa ampun seakan membalas semua rasa rindunya yang sudah di simpannya sejak dulu.
"Aku sudah lelah" guman Fang Yin dengan suara lemahnya, disaat suaminya itu kembali menyerbunya. Xi Chen itu masih berkutat di bawah sana dan bermain di tempat kesukaannya.
"Sebentar lagi sayang" ucap Xi Chen tanpa melihat wajah lelah istrinya. Fang Yin hanya bisa pasrah sambil menghembuskan nafas beratnya, dia tidak menyangka Xi Chen masih bisa memiliki tenaga di saat laki-laki itu sudah berulang-ulang mengeluarkan benihnya.
__ADS_1
"Huufff" akhirnya Xi Chen tumbang di atas istrinya, bukan karena dirinya lelah melainkan karena melihat wajah teduh istrinya yang sudah sangat kelelahan.
"Terimakasih sayang" paraunya dan kembali mencium bibir ranum istrinya cukup lama. Fang Yin tidak membalasnya lagi karena dirinya sudah menutup matanya menjemput alam mimpi.
"Tidurlah, nanti kita lanjutkan lagi" bisik Xi Chen kembali dengan seringai nakalnya.
Xi Chen keluar dari dalam kamarnya dengan menggunakan jubah hitamnya dan membiarkanya terbuka sehingga memperlihatkan dada bidangnya.
"Katakan apa yang membuat mu berani menemuiku disaat aku lagi sibuk-sibuknya " ucap Xi Chen datar, semenjak dirinya dan Fang Yin memasuki istana miliknya Xi Chen sudah merasakan aura dari pengawal bayangannya.
"Maaf mengganggu yang Mulia, tuan Kai sedang di adili di lembah gunung oleh Dewa gunung yang Mulia, karena tuan Kai telah meniduri putrinya yang bernama Yimin yang Mulia" lapor pengawal bayangan itu.
"Pergilah, besok aku akan ke lembah gunung, untuk hari ini biarkan saja Kai menanggung masalahnya sendiri" titah Xi Chen dengan wajah datarnya.
"Baik yang Mulia " pengawal bayangan itu pergi dan menghilang dari sana.
"Kenapa anak itu senang sekali menganggu ketenanganku" guman Xi Chen dan memasuki kamarnya untuk melanjutkan pertempuran kedua.
"Aku masih lelah mengantuk" regek Fang Yin saat suaminya langsung menindihnya dan melakukan kembali penyatuannya.
__ADS_1
"Tidurlah sayang biar aku yang bekerja " bisik Xi Chen sambil mencium kening istrinya .
"Hari ini aku akan bekerja keras jadi bersiap-siaplah karena kau akan terganggu. Kita akan melakukanya sampai besok" Xi Chen tersenyum penuh makna.
"Apa kau gila" geram Fang Yin dengan mata yang sudah melotot sempurna. Dia terkejut mendengar ucapan suaminya, apalagi melihat wajah nakal suaminya membuat Fang Yin bergidik ngeri. Fang Yin tidak bisa membayangkan dirinya jika harus melayani Xi Chen sepanjang hari bahkan sampai besok. Boro-boro ingin mengandung anak laki-laki itu takutnya Fang Yin sudah henti nafas duluan di tengah jalan karena terlalu lelah melayani suaminya. Fang Yin masih manusia abadi yang sedang berlatih, bukan seperti suaminya yang sudah melalui semua tahap kekuatan langit maupun kegelapan, semua macam sihir telah di kuasa laki-laki itu. Sementara Fang Yin masih di tahap dasar.
"Aku gila karena mu sayang" ucap Xi Chen dengan suara seraknya sambil mencium bibir yang masih mekar itu, bahkan bibir itu masih terasa kebas.
Mulai matahari terbenam sampai matahari kembali menampakkan dirinya sosok laki-laki yang masih tampan rupawan itu masih dengan aktivitasnya yaitu menyentuh istrinya tanpa lelah. Fang Yin bahkan tidak bisa tidur di buatnya karena laki-laki itu selalu saja menyentuhnya di bagian yang membuatnya Fang Yin terbang ke angkasa. Tubuh Fang Yin terasa remuk, tulang-tulangnya terasa patah, keringat telah bercucuran dari pelipisnya berulang-ulang, tempat tidur itu sudah berubah bak kapal pecah aroma tubuhnya dan suaminya begitu melekat disana.
"Huuufff, terimakasih sayang, aku yakin jutaan benih unggul yang ku tanam itu pasti akan jadi" ucap Xi Chen penuh percaya diri membuat Fang Yin geleng-geleng kepala melihat wajah suaminya yang masih segar tanpa terlihat lelah, padahal suaminya sudah berolahraga seharian penuh bahkan sampai hari berganti, tenaga suaminya tidak ada habisnya.
"Sayang istirahatlah, aku akan pergi ke lembah gunung, Kai sedang di tahan Dewa gunung karena telah menodai putrinya" ucap Xi Chen sambil mengecup kening istrinya dan melap peluh yang membasahi pipih mungil istrinya.
"Hmm" Fang Yin tidak terlalu jelas mendengar ucapan suaminya karena dirinya sudah lelah dan juga mengantuk berat.
Xi Chen tersenyum melihat tubuh Fang Yin, tampak disana hasil karyanya yang begitu kontras ditubuh putih istrinya, hampir seluruh tubuh istrinya itu terdapat lukisan cintainya.
"Terimakasih" bisik Xi Chen dan menghilang dari kamar yang menjadi saksi bisu atas penyatuan kedua insan yang saling berbahagia itu.
__ADS_1