Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 65


__ADS_3

"Hahahaha," Kai langsung tertawa terbahak-bahak. Rasa kantuknya hilang dalam sekejap berganti dengan kegembiraan yang dirasakannya. Sahabatnya yang gila-gila berhubungan badan itu kini dapat karmanya.


"Kau menertawakan ku Kai," Xi Chen menatap tajam sahabatnya itu, dia semakin kesal melihat raut wajah Kai yang seakan berbahagia diatas penderitaannya.


"Hahaha," Kai tidak perduli dia semakin tertawa. Kai akui sahabatnya itu paling tidak bisa menahan hasratnya. Lain dari dirinya. Kai masih bisa menahan hasratnya, dia hanya bermain bibir dengan lawan jenisnya walaupun sedikit brutal, bahkan Kai mau melakukan hal itu di depan orang lain dan paling utama di depan para penghuni kerajaan langit. Seakan kai punya kepuasan sendiri jika penghuni kerajaan langit sedang melihatnya bermain-main dengan para wanita.


Xi Chen meninggalkan Kai sambil mengepalkan tangannya, harga dirinya sebagai laki-laki telah tercoreng akibat perlakuan istri tercintanya itu.


"Sayang mau kemana? " Xi Chen langsung menghadang istrinya yang sepertinya mau pergi.


"Berani sekali kau sayang, kau sudah menyiksa suami mu satu malam ini sekarang kau ingin pergi begitu saja?" batin Xi Chen penuh amarah.


"Aku ingin menemui ibu, aku sangat merindukannya," Fang Yin berkata jujur, dia ingin menghabiskan waktu dengan ibunya beberapa hari kedepan.


"Merindukan ibu? Jadi sayang tidak merindukan ku?" Xi Chen menatap nyalang istrinya, dia merasa cemburu saat istrinya merindukan ibu mertua nya tapi tidak dengan dirinya. Padahal satu malam ini dia tidak memeluk wanitanya. "Apa dia tidak merindukan pelukan hangat ku?" batin Xi Chen kembali.


"Kenapa aku harus merindukanmu sementara kau ada di depanku," balas Fang Yin jengah. Dia merasa suaminya sudah gila. lagian baru malam ini dia tidak melihat suaminya. Suaminya juga masih berada di lingkungan istananya.


Xi Chen yang mendengar ucapan istrinya langsung mengetatkan rahangnya. "tidak, kamu tidak bisa pergi, kau harus dihukum," Xi Chen membawa istrinya secara paksa, tanpa menghiraukan bibir manis itu yang sedang mengumpat tak jelas.

__ADS_1


"Lepaskan aku Xi Chen, dasar laki-laki Tua gatal," Fang Yin memukul punggung keras suaminya. Xi Chen tidak bergeming, pukulan itu seakan pukulan tanda cinta mati istrinya kepadanya. Sudah Kai bilang laki-laki itu akan jadi bodoh jika sudah berhadapan dengan istrinya, apalagi laki-laki itu sudah melakukan adegan ranjang maka laki-laki itu akan amnesia sejenak.


Percikan api percintaan kembali memenuhi ruangan itu. Fang Yin tidak bisa mengimbangi permainan suaminya yang sangat brutal dan kasar. Fang Yin menggeram, dia memang sangat bodoh karena tidak bersembunyi dari suaminya sejenak. Tubuh Fang Yin rasanya sangat remuk, seperti dijatuhkan dari ketinggian yang tak berujung. Suaminya menggila hanya karena dirinya tidak merindukannya.


"Katakan kau merindukanku, katakan kau mencintaiku sayang," Raung Xi Chen disela-sela pergulatannya, dia akan memaksa istri kecilnya itu mengatakan cinta dan rindu kepadanya. "Sayang katakanlah," Xi Chen menekan kuat miliknya dibawah sana membuat Fang Yin menjerit kesakitan.


"Iya! aku sangat merindukanmu, aku juga sangat mencintaimu Xi Chen," Pekik Fang Yin. Walaupun dia kesal, kata-kata itu tulus dari hatinya. Dia memang sangat mencintai laki-laki mesum itu. Ayah dari putrinya, laki-laki yang pertama membuatnya merasakan cinta yang begitu indah sekaligus menyakitkan. Kisah kehidupannya dengan laki-laki itu penuh lika-liku."


"Aku juga sangat mencintaimu sayang, aku juga sangat merindukanmu sehingga aku menjadi bodoh dan gila seperti saat ini," Erang Xi Chen sambil menumpahkan jutaan benihnya ke rahim istrinya. Xi Chen membalikkan tubuh Fang Yin dan kembali menghajar istrinya itu membuat Fang merasakan sensasi yang berbeda.


"Xi Chen," Jerit Fang Yin sambil mencengkram kuat tangan kokoh suaminya yang sedang memainkan gundukan indahnya.


"Ya! sebut terus namaku sayang dengan suara indah mu itu," Erang Xi Chen sambil mencium kembali bibir ranum istrinya. Bibir yang sudah bengkak dan terasa kebas. Tapi bagi Xi Chen, bibir itu semakin manis dan semakin lembut.


"Shiit," umpat Kai.


"Paman ayok kita cari pelampiasan," ajak Jun Hui dengan penuh semangat.


"Pergi saja, aku tidak berminat," Kai memasang wajah datarnya .

__ADS_1


"Ckk, paman harus bersenang-senang dan sesekali menikmati gua sempit para wanita," Jun Hui menjilati bibirnya saat membayangkan penyatuannya dengan beberapa wanita. Apalagi Jun Hui paling menyukai dua lawan satu. Kening Kai berkerut melihat tingkah konyol Jun Hui.


"Paman ayolah, calon Dewi masih sangat kecil. Menunggu Dewi itu tumbuh dewasa lebih baik paman puaskan diri paman dulu, manjakan pusaka paman yang berotot itu. Jika paman terus seperti ini takutnya milik paman yang besar itu tidak akan berfungsi lagi," Ucap Jun Hui seenaknya tanpa melihat Kai yang sudah melotot sempurna. Mata tegasnya menahan amarah yang tiba-tiba memuncak sampai ke ubun-ubun. Kai ingin membunuh Jun Hui dan melemparkan putra Dewa Salju itu ke Api Neraka.


"Braakkk, uhuk-uhuk,"


"Paman, aam..ampun paman Kai," lirih Jun Hui sambil batuk darah. Pamannya itu memiliki kesabaran setipis kertas . Kai menendangnya dengan sangat kuat.


"Berhentilah mengulangi kata-kata terkutuk itu, dan ingat satu hal jangan pernah membahas bayi kecil itu lagi di hadapanku," ucap Kai sinis sambil menekan dada Jun Hui dengan kaki kirinya.


"Baik, baik paman," Jun Hui mengalah, setelah Kai melepaskan kakinya Jun Hui meraup udara dengan ganas, hampir saja dirinya memasuki alam kematian. Pamannya itu sungguh sangat gila. Niatnya ingin mengajak pamannya bersenang-senang malah dirinya yang melayang.


"Aku bersumpah suatu saat paman akan jatuh cinta kepada Dewi itu. Dan akan ku pastikan paman akan lebih gila dan lebih bodoh dari guru, dan jika hal itu terjadi, aku bersedia mencium kaki paman Dewa takdir" Teriak Jun Hui menggelegar.


Kai tidak menghiraukan perkataan gila murid sahabatnya itu. Kai segera pergi dari sana, jangan sampai dia membunuh murid kesayangan sahabatnya dan akan dipastikan Dewa salju juga tidak akan terima jika putranya menghilang dari alam semesta.


"Kenapa paman mengutuk adikku," ucap Lie Zhu datar, wajah tampannya menatap tajam Jun Hui.


Bisa-bisanya murid kakeknya itu mendoakan adik kesayangan mengalami nasib buruk.

__ADS_1


Jun Hui menelan ludahnya dengan susah payah. Hidupnya benar-benar sial hari ini. Lepas dari kandang singa masuk ke kandang serigala.


"hehehe, paman hanya berchanda," ucap Jun Hui gugup sambil berusaha berdiri sendiri. Dadanya masih terasa sakit. Paman Kai mengeluarkan tenaganya untuk menekan dadanya untung saja tulang-tulang didadanya tidak remuk.


__ADS_2